Latihan Khusus Amankan Whoosh

Latihan Khusus Amankan Whoosh
GELAR SIMULASI: Yonzipur 9 Lang Lang Bhuwana Divisi Infanteri 1 Kostrad menggelar latihan simulasi penjinakan bahaya bahan peledak di Stasiun KCIC Whoosh.(INILAH/CESAR YUDISTIRA)

INILAH, Bandung - Keamanan perjalanan kereta cepat tak hanya bertumpu pada teknologi dan ketepatan waktu. Kesiapan menghadapi ancaman darurat juga menjadi bagian penting dalam menjaga keselamatan penumpang, termasuk ketika potensi bahaya bahan peledak muncul di kawasan stasiun.

Hal itulah yang menjadi perhatian Batalyon Zeni Tempur (Yonzipur) 9 Lang Lang Bhuwana Divisi Infanteri 1 Kostrad saat menggelar latihan simulasi penjinakan bahan peledak di Stasiun Kereta Cepat Indonesia China (KCIC) Whoosh Tegalluar, Kabupaten Bandung, Jawa Barat.

Latihan tersebut menjadi ajang bagi prajurit untuk menguji kemampuan taktis dan teknis dalam menghadapi potensi ancaman bahan peledak. Di saat bersamaan, simulasi ini juga diarahkan untuk meningkatkan kesiapsiagaan petugas keamanan stasiun ketika menghadapi situasi darurat.

Komandan Yonzipur 9/LLB/1 Kostrad Letkol Czi Martin Novence mengatakan, kegiatan itu merupakan bagian dari upaya memperkuat koordinasi antara unsur militer dan pengelola transportasi kereta cepat.

“Kegiatan ini sekaligus meningkatkan kesiapsiagaan petugas keamanan stasiun dalam menghadapi situasi darurat,” katanya, Kamis (22/10).

Bagi prajurit, simulasi menjadi kesempatan mengasah profesionalisme sekaligus ketepatan dalam mengambil keputusan. Penanganan ancaman bahan peledak membutuhkan kesiapan personel dan koordinasi yang baik agar risiko dapat diminimalkan.

Latihan juga memperkuat pemahaman personel keamanan stasiun mengenai langkah menghadapi keadaan darurat, termasuk berkoordinasi dengan unsur terkait apabila ditemukan potensi ancaman.

Martin berharap kegiatan tersebut turut memperkuat perlindungan terhadap fasilitas transportasi yang termasuk objek vital nasional.

“Kami berharap dapat membantu meminimalkan risiko serta memperkuat upaya perlindungan terhadap fasilitas transportasi yang termasuk objek vital nasional,” katanya.

Menurut Martin, profesionalisme, kecepatan, dan ketepatan menjadi hal penting dalam menjalankan tugas penanganan bahan peledak. Kesiapan itu diperlukan untuk mengantisipasi ancaman sekaligus menjaga keamanan dan keselamatan pengguna jasa.

(cesar yudistira/gin)


Editor : Inilahkoran