Mahasiswa Bandung Raya Kepung DPRD Jabar, Desak Hentikan MBG dan Turunkan Harga BBM
Mahasiswa se-Bandung Raya mengepung DPRD Jabar mendesak penuntasan maslah MBG hingga BBM nonsusbidi
Berita Terkini, Eksklusif di Channel WhatsApp Inilahkoran.id
INILAHKORAN.ID - Ratusan mahasiswa dari Universitas Padjadjaran, Universitas Pendidikan Indonesia, Unikom dan Front mahasiswa Nasional (FMN) mengepung Kantor DPRD Jawa Barat, Kamis sore (11/6/2026).
Massa membawa sederet tuntutan, mulai dari penghentian program Makan Bergizi Gratis (MBG), penurunan harga BBM, pendidikan gratis, hingga penolakan terhadap pengesahan UU Polri. Aksi tersebut menjadi bentuk akumulasi kekecewaan terhadap berbagai kebijakan pemerintah, yang dinilai tidak menjawab persoalan mendasar yang dihadapi masyarakat.
Koordinator FMN Bandung Raya, Ainul Mardhyah menegaskan tuntutan utama massa adalah mendesak pemerintah melakukan perubahan kebijakan yang dianggap membebani rakyat.
Menurutnya, program Makan Bergizi Gratis (MBG) yang selama ini menjadi program unggulan pemerintah, justru dinilai tidak efektif dan menghabiskan anggaran negara dalam jumlah besar.
"Yang pertama tentunya, hari ini yang paling pokok dan akar adalah kita ingin mendesak negara untuk mewujudkan reformasi sejati sebagai jalan keluar atas banyaknya tindasan yang kita alami. Yang pertama adalah, hentikan MBG. Hentikan total MBG," ujar Ainul di sela aksi.
Ia menilai, program tersebut tidak hanya menyedot anggaran negara, tetapi juga memunculkan persoalan di lapangan yang hingga kini belum terselesaikan.
"Karena jelas ini menghabiskan banyak anggaran yang sudah dikeluarkan oleh negara dan kemudian samping itu dampak dari MBG ini kemudian meracuni banyak anak-anak kita, kawan-kawan kami, bahkan ibu-ibu kami yang sampai saat ini tidak mendapatkan keadilan," katanya.
Selain mendesak penghentian MBG, mahasiswa juga menuntut pemerintah segera menurunkan harga bahan bakar minyak (BBM) yang dinilai semakin menekan kondisi ekonomi masyarakat.
"Kita bersikukuh untuk segera turunkan harga BBM. Kita masyarakat Indonesia berhak untuk mendapatkan akses transportasi yang maksimal. Tidak naiknya upah sampai hari ini, tetapi bahan pokok dan lainnya terus naik. Melonjak naik," tegas Ainul.
Dalam aksi tersebut, mahasiswa juga menyoroti mahalnya biaya pendidikan yang dinilai semakin sulit dijangkau oleh masyarakat kelas menengah ke bawah.
Ainul meminta pemerintah mengalokasikan anggaran yang selama ini digunakan untuk MBG, ke sektor pendidikan agar akses pendidikan tinggi dapat dinikmati seluruh lapisan masyarakat.
"Kemudian kita mendesak negara agar segera menggratiskan pendidikan yang semakin hari semakin dikomersialisasi. Negara harusnya mengalihkan anggaran MBG kepada pendidikan gratis," ujarnya.
Ia mengaku khawatir, kondisi ekonomi nasional yang tidak stabil akan berdampak pada kenaikan biaya pendidikan, termasuk Uang Kuliah Tunggal (UKT).
"UKT semakin hari semakin naik. Dengan turunnya rupiah tentu UKT ke depannya akan naik. Dan itu akan mempersulit kawan-kawan kami untuk mengakses pendidikan. Bagaimana dengan kalangan anak-anak buruh, bagaimana dengan anak-anak kaum tani yang menyumbangkan sekian banyak massa di Indonesia ini," katanya.
Tak hanya menyampaikan tuntutan, Ainul juga menegaskan gelombang aksi mahasiswa tidak akan berhenti dalam waktu dekat. Ia bahkan menantang Presiden dan Wakil Presiden untuk menemui langsung massa aksi.
"Prabowo Gibran hari ini harus turun datang ke sini menghadap rakyat Indonesia. Karena kita tidak akan pernah diam. Kita akan pastikan beberapa hari ke depan kita akan terus aksi dan beberapa bahkan bulan-bulan selanjutnya. Kita akan terus merespon dan akan menuntut Prabowo Gibran untuk turun ke sini bersama dengan kita," sambungnya.
Sementara itu, Presiden mahasiswa UPI 2026, Khallid Saiful mengatakan, demonstrasi tersebut lahir dari keresahan mahasiswa dan masyarakat terhadap berbagai persoalan nasional yang dinilai semakin membebani rakyat.
Menurutnya, hasil konsolidasi yang melibatkan berbagai elemen mahasiswa dan masyarakat menghasilkan tiga isu utama yang menjadi fokus aksi.
"Hari ini tujuan kita adalah pertama tentunya membahas terkait isu yang sedang ramai yang ada di masyarakat. Yang kedua juga kita ingin aksi kita pada hari ini teman-teman memiliki kesadaran, pun juga keresahan yang sama bagaimana akhirnya pemerintah hari ini gagal dalam mengelola negara yang baik," ujar Khallid.
Ia menjelaskan, sektor ekonomi menjadi perhatian utama massa aksi. Pelemahan nilai tukar rupiah dinilai berpotensi memicu dampak luas terhadap kehidupan masyarakat.
"Yang pertama terkait ekonomi, bagaimana akhirnya bisa kita lihat per hari ini bagaimana akhirnya melemahnya nilai mata uang rupiah. Itu yang kemudian kita soroti karena akan berdampak kepada sektoral-sektoral kehidupan yang ada di masyarakat sehari-hari," katanya.
Khallid juga mengkritisi pelaksanaan program MBG, yang menurutnya masih menyisakan banyak persoalan, termasuk dugaan kasus korupsi yang menyeret pejabat terkait.
"Makan bergizi gratis ini mengalami masalah-masalah yang kemudian terjadi, mulai dari kepala BGN yang dicopot karena ada kasus korupsi dan lain-lain. Saya rasa itu masih jadi satu korelasi ekonomi bagaimana akhirnya rezim hari ini bisa menentukan arah-arah gerak mana saja ekonomi harus berputar," ujarnya.
Selain isu ekonomi, mahasiswa juga menyoroti rencana pengesahan RUU Polri yang dinilai berpotensi memperluas ruang aparat dalam jabatan sipil.
"Kita juga menyoroti bagaimana pengesahan RUU Polri karena bisa dilihat salah satu isinya adalah bagaimana akhirnya aparat ini bisa menduduki jabatan-jabatan sipil," katanya.
Adapun terkait kenaikan harga BBM nonsubdsid, Khallid menilai dampaknya sudah terlihat di tengah masyarakat, salah satunya meningkatnya antrean kendaraan di SPBU akibat peralihan konsumsi bahan bakar.
"Jadi saya rasa kenaikan BBM ini harus dihentikan, harus diturunkan kembali. Jangan sampai masalah-masalah yang kemudian terjadi ini sangat merugikan masyarakat," katanya.
Kapolrestabes Bandung, Kombes Pol Dedi Supriyadi mengatakan, sebanyak 2.300 personel gabungan dari unsur TNI dan Polri diterjunkan dalam pengamanan aksi hari ini.
"Di mana terbagi dalam sejumlah titik, tidak hanya di gedung DPRD tetapi titik yang strategis tentu dijaga. Kita tempatkan personel di 20 titik lainnya di Kota Bandung," katanya.
Ia berharap aksi demonstrasi yang dilakukan mahasiswa dapat berjalan kondusif.
"Mohon doanya dan kerjasamanya agar Bandung tetap aman, tetap kondusif," tutupnya.
Editor : Ahmad Sayuti


