Managemen RSUD Soreang Minta Masyarakat Lapor Jika Ada Praktik Percaloan Nomor Antrean Pasien

Managemen Rumah Sakit Umum Daerah (RSUD) Soreang tak menampik adanya dugaan praktik percaloan nomor antrean yang dikeluhkan para calon pasien. Pengelola menjelaskan jika praktik jual beli nomor antrean tersebut dilakukan oleh oknum tidak bertanggung jawab.

Managemen RSUD Soreang Minta Masyarakat Lapor Jika Ada Praktik Percaloan Nomor Antrean Pasien

INILAH, Bandung - Managemen Rumah Sakit Umum Daerah (RSUD) Soreang tak menampik adanya dugaan  praktik percaloan nomor antrean yang dikeluhkan para calon pasien. Pengelola menjelaskan jika praktik jual beli nomor antrean tersebut dilakukan oleh oknum tidak bertanggung jawab.

Kasubag Program dan Kehumasan RSUD Soreang Jajat Sudrajat mengatakan, praktik jual beli atau percaloan itu, diakuinya sudah lama terjadi. Dan sebenarnya pengelola telah menertibkan praktik percaloan tersebut.

"Memang pernah ada masalah seperti itu. Ada okunum pedagang yang melakukannya. Kemudian sekarang ada lagi muncul keluhan," kata Jajat saat ditemui di RSUD Soreang, Rabu (17/6/2020).

Dikatakan Jajat, adanya praktik percaloan tersebut diduga muncul kembali dipicu adanya pembatasan oleh pihak RSUD Soreang akibat peraturan pemerintah terkait pembatasan sosial untuk pencegahan penularan virus corona. Dimana kuota antrean harus dikurangi untuk mencegah penyebaran Covid-19.

"Kuota dibatasi karena anjuran pemerintah. Jadi kami melakukan penertiban dengan pembatasan kuota. Seperti untuk Poli Bedah biasanya 80 sekarang jadi 30 saja. Di rumah sakit ini ada 12 poli, kapasitas 800 orang pasien perhari, tapi sekarang dipangkas setengahnya. Hal ini juga berpengaruh terhadap kuota antrean tentunya," ujarnya.

Jajat menjelaskan, calon pasien yang akan berobat ke RSUD Soreang sangat banyak. Mereka datang tak hanya dari wilayah Kabupaten Bandung saja. Namun juga dari Kabupaten Cianjur wilayah Selatan dan Kabupaten Garut. Sehingga, banyak calon pasien yang datang sejak dini hari. Bahkan ada yang tidak kebagian nomor antrean akibat banyaknya calon pasien yang datang.

"Saya pernah mencoba cari tahu. Ternyata ada yang sudah antre dari pukul 02.00 WIB. Ada juga yang tidur di RS hanya untuk mendapat antrean. Bahkan ada yang menandai tempat antrean dengan helm atau tas," katanya.

Jajat melanjutkan, untuk solusi jangka pendeknya pihak RSUD Soreang juga memiliki keringanan bagi calon pasien yang berkali-kali datang namun tidak juga mendapatkan nomor antrean. Begitu juga untuk caloj pasien yang jauh seperti dari Cianjur dan Garut, atau calon pasien yang harus segera mendapatkan penanganan,  pihak rumah sakit akan memberikan bantuan agar bisa mendapatkan pelayanan.

"Bisa melapor pada kami, jadi nanti diprioritaskan. Kalau memang sudah berkali-kali datang tidak mendapat nomor antrean. Berikut juga untuk calon pasien yang memiliki penyakit berat dan harus secepatnya mendapat penanganan," katanya.

Jajat menegaskan jika praktik percaloan tersebut dipastikan bukan hal yang sengaja dilakukan oleh pihak manajemen. Meski pada prinsipnya, lokasi pengambilan nomor antrean telah dijaga oleh petugas keamanan dari RSUD Soreang.

"Saya tegaskan ini adalah perbuatan oknum. Manajemen tidak pernah melakukan dan membiarkan itu (percaloan). Petugas keamanan juga sudah diwanti-wanti tidak melakukan itu," ujarnya.

Untuk mencegah terjadinya praktik penyimpangan itu, kata Jajat, pihak RSUD tengah menyusun pendaftaran antrean berobat untuk calon pasien secara online. Rencananya, aplikasi pendaftaran ini akan dilaunching beberapa minggu ke depan.

"Kami sedang bahas ini. Kami ingin memperbaiki sistemnya agar ke depan lebih baik lagi. Jangan sampai kejadian seperti ini terus terulang,"katanya.

Jajat meminta masyarakat untuk melaporkan kepada pihaknya jika mendengar, melihat, atau mengalami sendiri adanya praktik percaloan. Ia meminta agar masyarakat bersama-sama ikut memberantas praktik percaloan tersebut.

"Laporkan saja. Foto orangnya, catat namanya. Kalau terbukti kami pastikan akan menindak tegas. Apakah itu pelakunya pegawai rumah sakit atau pihak luar. Kalau pegawai disini, bukan hanya sanksi tegas, kami juga tidak segan untuk memecatnya," ujarnya. (Dani R Nugraha)


Editor : Doni Ramdhani