Manggis Jabar Jadi Primadona, Badan Karantina Targetkan Ekspor Rp2,5 T Tahun Ini

Badan Karantina Indonesia menargetkan manggis Jabar menembus pasar ekspor dengan nilai Rp2,5 triliun tahun ini

Manggis Jabar Jadi Primadona, Badan Karantina Targetkan Ekspor Rp2,5 T Tahun Ini
Kepala Badan Karantina Indonesia, Abdul Kadir Karding usai menemui pelaku usaha di Balai Karantina Hewan, Ikan dan Tumbuhan (BKHIT) Jabar di Kota Bandung, Rabu (8/7/2026). Foto Yuliantono/inilahkoran

INILAHKORAN.ID - Badan Karantina Indonesia mulai membenahi berbagai hambatan, yang selama ini membatasi laju ekspor komoditas unggulan nasional. Salah satu target yang dibidik, peningkatan ekspor manggis asal Jawa Barat yang berpotensi menembus angka Rp2,5 triliun pada tahun ini.

Selain berpotensi meningkatkan devisa negara, ekspor manggis juga diharapkan mampu mendorong kesejahteraan petani dan memperluas penyerapan tenaga kerja di daerah sentra produksi.

Kepala Badan Karantina Indonesia, Abdul Kadir Karding mengatakan, dari hasil dialog bersama pelaku usaha sektor tumbuhan, hewan, dan perikanan di Balai Karantina Hewan, Ikan dan Tumbuhan (BKHIT) Jawa Barat, Kota Bandung, Rabu (8/7/2026), didapati sejumlah persoalan. Termasuk yang menghambat ekspor komoditas manggis ke sejumlah negara.

Masukan dari para pelaku usaha kata dia, akan menjadi dasar penyempurnaan kebijakan, mulai dari penyederhanaan regulasi, percepatan layanan, hingga penguatan sistem digital karantina, supaya target ekspor manggis senilai Rp2,5 triliun terealisasi.

Sebab kata dia, Badan Karantina tidak hanya berfungsi sebagai lembaga pengawas, tetapi juga menjadi motor penggerak perdagangan dan ekspor nasional.

Persaingan pasar internasional saat ini, kata Karding, semakin ketat. Negara tujuan ekspor tidak lagi hanya menuntut jaminan kesehatan hewan, ikan, maupun tumbuhan, tetapi juga mewajibkan pemenuhan standar mutu, keamanan pangan, serta sistem ketertelusuran produk yang dapat diverifikasi.

"Produk ekspor harus memiliki identitas yang jelas, mulai dari asal daerah, metode produksi hingga perlakuan pascapanen. Karena itu kami terus melakukan pendampingan kepada UMKM dan pelaku usaha agar mampu memenuhi standar internasional," ujarnya.

Karding mengungkapkan, manggis menjadi salah satu komoditas andalan Jawa Barat yang memiliki prospek cerah di pasar global. Nilai ekspornya diproyeksikan mencapai Rp2,5 triliun, meningkat signifikan dibandingkan capaian sebelumnya yang berada di kisaran Rp1,5 triliun.

Australia, China, dan sejumlah negara di Eropa masih menjadi pasar utama bagi manggis asal Jawa Barat. Selain sektor hortikultura, Badan Karantina juga melihat peluang besar pada komoditas perikanan seperti rajungan, cumi-cumi, dan ikan hias yang terus menunjukkan tren permintaan positif.

Guna memperkuat daya saing produk ekspor, Badan Karantina berkomitmen mempercepat penyelesaian berbagai kendala yang dihadapi eksportir, termasuk membuka akses pasar baru dan memangkas persyaratan administratif yang dinilai memperlambat proses perdagangan.

"Kami ingin manggis tidak hanya lancar diekspor, tetapi juga terus berkembang. Kalau tahun ini bisa mencapai Rp2,5 triliun, tahun depan kami ingin naik menjadi Rp3 triliun hingga Rp3,5 triliun. Dampaknya akan langsung dirasakan petani, membuka lapangan kerja, meningkatkan devisa, dan mendorong pertumbuhan ekonomi daerah," harapnya.

Sisi lain, transformasi layanan berbasis digital juga terus diperkuat melalui aplikasi Bestrust. Platform tersebut memungkinkan pelaku usaha mengakses berbagai layanan karantina secara elektronik sehingga proses administrasi ekspor menjadi lebih cepat, efektif, dan transparan.

"Kita Berharap percepatan pelayanan, pendampingan terhadap pelaku usaha, serta penguatan standar mutu mampu meningkatkan daya saing komoditas Indonesia di pasar global dan menjadikan manggis sebagai salah satu motor pertumbuhan ekspor nasional," katanya. 


Editor : Ahmad Sayuti