Mencium Hajar Aswad: Keutamaan, Makna, dan Penjelasan Buya Yahya

Buya Yahya menjelaskan tentang wajib tidaknya mencium hajar aswad.

Mencium Hajar Aswad: Keutamaan, Makna, dan Penjelasan Buya Yahya

INILAHKORAN - Bagi umat Islam yang menunaikan ibadah haji maupun umrah, mencium hajar aswad menjadi salah satu momen yang sangat dinanti dan dianggap istimewa.

Batu yang terletak di sudut Ka'bah ini dipercaya berasal dari surga dan menjadi simbol penting dalam sejarah serta spiritualitas Islam.

Keistimewaan hajar aswad dalam Pandangan Islam

hajar aswad dikenal sebagai batu suci yang dianggap sebagai "tangan Allah di bumi". Keyakinan ini menjadikan batu tersebut sangat dihormati oleh umat Islam. Bahkan, banyak jemaah yang rela berdesak-desakan saat tawaf demi mendekat dan mencium batu tersebut. Meski terlihat sederhana, batu ini memegang nilai spiritual yang besar karena dianggap berasal langsung dari surga.

Dalam ajaran Islam, mencium hajar aswad bukan sekadar tindakan simbolik, melainkan bentuk penghormatan kepada sunnah Nabi Muhammad SAW. Sebagian besar umat Muslim menjadikan momen mencium hajar aswad sebagai pengalaman spiritual yang mendalam, yang dikenang seumur hidup.

Penjelasan Buya Yahya: Mencium hajar aswad Bukan Kewajiban

Dalam sebuah video yang diunggah di kanal YouTube Al-Bahjah TV pada Jumat 16 Mei 2025, Buya Yahya memberikan penjelasan terkait hukum dan makna mencium hajar aswad. Ia menegaskan bahwa hajar aswad pada dasarnya hanyalah batu biasa, namun menjadi mulia karena dicium oleh Rasulullah SAW.

"Mencium hajar aswad awalnya hanyalah mengikuti tindakan Nabi. Karena Rasulullah menciumnya, maka itu menjadi ibadah," ujar Buya Yahya.

Beliau menambahkan, tindakan mencium batu tersebut adalah bentuk kecintaan kepada Nabi, serta bagian dari mengikuti sunnah beliau. Selain itu, terdapat pula nilai-nilai spiritual dalam mencium hajar aswad, seperti tanda kerendahan hati, introspeksi diri terhadap dosa, serta sebagai simbol kedekatan dengan Allah SWT.

Kisah Sayyidina Umar dan Pelajaran Berharga

Buya Yahya juga mengingatkan tentang kisah Sayyidina Umar bin Khattab RA yang mencium hajar aswad. Umar berkata, “Wahai batu, sesungguhnya engkau hanyalah batu yang tidak bisa memberi manfaat maupun mudarat. Jika bukan karena aku melihat Rasulullah menciummu, niscaya aku tidak akan menciummu."

Dari kisah ini, Buya Yahya menekankan bahwa mencium hajar aswad adalah amalan sunnah, bukan kewajiban. Artinya, jika seseorang tidak bisa melakukannya karena kondisi yang tidak memungkinkan, tidak ada dosa atau pengurangan pahala dalam ibadah hajinya.

Jangan Memaksakan Diri, Utamakan Keselamatan

Buya Yahya mengingatkan agar umat Muslim tidak memaksakan diri hanya demi mencium hajar aswad. “Jangan sampai karena mengejar sunnah ini, kita justru menyakiti jemaah lain atau menimbulkan kerusakan,” tegasnya.

Ia menyoroti adanya anggapan keliru di kalangan sebagian jemaah yang merasa ibadah hajinya tidak sah atau kurang afdhal jika tidak mencium hajar aswad. Menurutnya, pemahaman semacam ini perlu diluruskan.

"Kesempurnaan ibadah bukan terletak pada mencium hajar aswad, tapi pada ketulusan, ketaatan, dan keselamatan dalam menjalankannya," pungkas Buya Yahya.


Editor : Firda Rachmawati