Menelisik Problematika Dunia Pendidikan yang Berujung pada Krisis Karakter 

Peringatan Hari Pendidikan Nasional atau Hardiknas kerap dijadikan momen yang didedikasikan untuk menghargai pentingnya pendidikan dalam membangun bangsa dan mengenang perjuangan para pahlawan pendidikan Indonesia.

Menelisik Problematika Dunia Pendidikan yang Berujung pada Krisis Karakter 
Peringatan Hari Pendidikan Nasional atau Hardiknas kerap dijadikan momen yang didedikasikan untuk menghargai pentingnya pendidikan dalam membangun bangsa dan mengenang perjuangan para pahlawan pendidikan Indonesia.

INILAHKORAN, Ngamprah - Peringatan hari pendidikan nasional atau Hardiknas kerap dijadikan momen yang didedikasikan untuk menghargai pentingnya pendidikan dalam membangun bangsa dan mengenang perjuangan para pahlawan pendidikan Indonesia.

Namun demikian, dibalik peringatan Hardiknas itu terdapat banyak ironi yang menuai beragam keprihatinan. Salah satunya krisis karakter yang membutuhkan atensi dari semua pihak untuk bisa mengentaskan persoalan dalam dunia pendidikan.

Sebab, pendidikan merupakan modal dasar dan utama dalam mewujudkan generasi muda yang potensial. 

Pengamat Mutu Pendidikan Jawa Barat, Idris Apandi mengatakan, berbicara problematika pendidikan di Jawa Barat, khususnya di Kabupaten bandung Barat (KBB) dan Kota Cimahi masih relatif sama dengan daerah lain, seperti peningkatan kesejahteraan guru dan peningkatan profesionalisme guru.

"Untuk peserta didik, berkaitan dengan sarana dan prasarana. Serta, penganggaran dana pendidikan," kata Idris saat dihubungi, Kamis 2 Mei 2024.

Tak hanya itu, menurut Idris, persoalan yang cukup krusial dengan dunia pendidikan ini berkaitan dengan karakter peserta didik, yakni krisis karakter.

"Itu yang menjadi pekerjaan rumah besarnya. Kami tidak bisa memungkiri sekarang banyak sekali krisis karakter peserta didik," tuturnya.

Menurutnya, persoalan krisis karakter peserta didik bukan hanya membutuhkan peran sekolah semata, melainkan pihak terkait seperti orang tua, masyarakat dan lingkungan sekolah tersebut tempat mereka belajar.

"Sesuai konsep pendidikan yang diterapkan oleh Ki Hadjar Dewantara, yakni pendidikan yang holistik, dimana peserta didik dibentuk menjadi insan yang berkembang secara utuh meliputi olah rasio, olah rasa, olah jiwa dan olah raga melalui proses pembelajaran dan lainnya yang berpusat pada murid dan dilaksanakan dalam suasana penuh keterbukaan, kebebasan, serta menyenangkan," tuturnya.

Selain itu, Idris mengaku tak bisa menutup mata adanya dampak teknologi. Khususnya dengan keberadaan gawai lantaran anak-anak kini semakin familiar dengan konten atau permainan (game) yang bertema kekerasan yang menjadi faktor pemicu krisis karakter pada peserta didik.

"Di satu sisi orang tua dan sekolah tengah gencar dengan program penguatan karakter, namun di sisi lain di luar menjadi racun karakter bisa bebas dipegang kemana-mana, sehingga harus ada komitmen bersama," ujarnya.

Sehingga, masalah pendidikan ini bukan hanya tanggung jawab Dinas Pendidikan (Disdik) dan Kemendikbudristek saja, melainkan juga menjadi kepentingan yang lain. 

"Jadi saya harapkan, stakeholder terkait seperti Diskominfo untuk bisa memblok konten-konten yang merusak karakter peserta didik kita. Kan dampaknya negatif terasa jadi lebih agresif, egois, generasi sumbu pendek (emosional), kerap berbohong kepada orang tua," ungkapnya.

Dengan adanya Profil Pelajar Pancasila saat ini, kata Idris, anak-anak didik diharapkan memiliki karakter Pancasila dalam kehidupannya. Namun, game yang kini dimainkan anak-anak menjadi tantangannya.

Oleh karena itu, perlu keteladanan dari berbagai pihak, mulai dari orang tua, sekolah dan masyarakat. Kita juga tidak bisa melarang siswa main gawai, sebab orang tua dan gurunya juga main HP," ujarnya.

"Jadi harus ada kedisplinan atau contoh dari semua pihak, karena semakin dilarang anak-anak semakin sembunyi-sembunyi bermain HP," ucapnya.

Idris pun mengakui perubahan zaman tak bisa dielakkan. Namun, dirinya menekankan kepada para pendidik atau guru harus selalu siap dengan perubahan kurikulum.

"Guru jangan hanya terjebak dengan administrasi tapi harus hadir di hati setiap peserta didik. Itu bisa dengan dua cara, yakni Welas dan Asih," sebutnya.

"Murid itu tidak mau belajar dari guru yang tidak disukainya. Kemampuan berkomunikasi seorang guru menjadi poin penting," sambungnya.

Kendati begitu, Idris pun tak menafikan faktor kesejahteraan pun berpengaruh terhadap kualitas mengajar para guru.

"Tapi kadang-kadang faktor kesejahteraan juga relatif yah, karena ada data yang menunjukkan yang banyak terjerat pinjaman online (Pinjol) itu guru. Itu dipicu  peningkatan karir yang berpengaruh pada meningkatnya gaya hidup guru," pungkasnya.*** (agus satia negara)


Editor : JakaPermana