Menelusuri Jejak Pangeran Panjunan dan Pangeran Kejaksan: Sosok di Balik Kesakralan Bukit Plangon
Makan Pangeran Panjunan dan Pangeran Kejaksaan yang ada di Bukit Plangon sering dikunjungi peziarah, lantas siapa mereka sebenarnya? simak ulasan berikut.
Berita Terkini, Eksklusif di Channel WhatsApp Inilahkoran.id
INILAHKORAN.ID - Bukit Plangon Cirebon tidak hanya dikenal sebagai rumah bagi ratusan kera liar. Di balik rimbunnya pepohonan, puncak bukit ini menyimpan jejak sejarah besar penyebaran Islam di tanah Jawa.
Di sanalah bersemayam dua tokoh penting Kesultanan Cirebon yaitu Pangeran Panjunan dan Pangeran Kejaksan.
Siapakah sebenarnya kedua sosok ini dan mengapa makam mereka menjadi magnet bagi para peziarah hingga saat ini? Simak ulasan lengkapnya berikut ini.
Asal-Usul Pangeran Panjunan dan Pangeran Kejaksan
Pangeran Panjunan (bernama asli Syarif Abdurrahman) dan Pangeran Kejaksan (bernama asli Syarif Abdurrahim) adalah kakak beradik keturunan Arab yang datang ke Cirebon pada abad ke-15. Mereka merupakan putra dari Syekh Datuk Kahfi, ulama besar yang membimbing Sunan Gunung Jati.
1. Pangeran Panjunan: Sang Arsitek dan Seniman
Pangeran Panjunan dikenal sebagai sosok yang ahli dalam seni kerajinan keramik dan arsitektur. Nama "Panjunan" sendiri berasal dari kata "Anjun" yang berarti pengrajin tembikar/gerabah. Salah satu peninggalan fenomenalnya adalah Masjid Merah Panjunan, yang memiliki arsitektur unik perpaduan budaya Hindu dan Islam.
2. Pangeran Kejaksan: Sang Penegak Hukum
Sementara itu, Pangeran Kejaksan memiliki peran strategis dalam pemerintahan. Sesuai namanya, "Kejaksan" merujuk pada jabatan jaksa atau penegak hukum. Beliau dikenal sebagai sosok yang sangat adil, bijaksana, dan memegang teguh syariat Islam dalam memutuskan perkara di wilayah Cirebon.
Mengapa Dimakamkan di Bukit Plangon?
Keputusan pemakaman di puncak Bukit Plangon memiliki makna filosofis tersendiri. Dalam tradisi Jawa kuno, bukit atau tempat tinggi sering dianggap sebagai tempat yang suci untuk mendekatkan diri kepada Sang Pencipta.
Bukit Plangon (berasal dari kata "Pelangon" yang berarti tempat peristirahatan atau tempat melihat pemandangan) dulunya merupakan tempat kedua pangeran ini melakukan tapa brata atau uzlah (mengasingkan diri untuk beribadah). Ketenangan bukit ini membantu mereka dalam memperdalam spiritualitas sebelum akhirnya wafat dan dikebumikan di sana.
Hingga saat ini, makam kedua pangeran ini menjadi destinasi wisata religi utama di Kabupaten Cirebon.
Editor : Firda Rachmawati


