Mengukur Dampak Debu Kapur

Bertahun-tahun masyarakat yang tinggal di sekitar kawasan pengolahan batu kapur di Kecamatan Cipatat, Kabupaten Bandung Barat, hidup berdampingan dengan debu

Mengukur Dampak  Debu Kapur
PERIKSA WARGA: Debu putih tampak menyelimuti kawasan batu kapur. Pemprov Jabar menurunkan tim medis untuk memeriksa warga.

Oleh: Yuliantono

INILAH, Bandung - Bertahun-tahun masyarakat yang tinggal di sekitar kawasan pengolahan batu kapur di Kecamatan Cipatat, Kabupaten Bandung Barat, hidup berdampingan dengan debu yang nyaris menjadi bagian dari keseharian. Debu beterbangan saat truk melintas, batu dipecah, hingga angin membawa butiran halus menyelimuti rumah-rumah warga.

Selama itu pula, pertanyaan mengenai dampaknya terhadap kesehatan belum benar-benar terjawab. Kini, pemerintah mulai mencari jawabannya melalui pemeriksaan kesehatan massal bagi warga yang tinggal di sekitar kawasan industri batu kapur.

Langkah tersebut merupakan tindak lanjut arahan Gubernur Jawa Barat Dedi Mulyadi yang meminta kondisi kesehatan masyarakat di sekitar area pengolahan dan pertambangan batu kapur dipetakan secara menyeluruh, termasuk kemungkinan adanya gangguan kesehatan akibat aktivitas industri tersebut.

Kepala Dinas Komunikasi dan Informatika Jawa Barat, Adi Komar, mengatakan Dinas Kesehatan Provinsi Jawa Barat bersama Dinas Kesehatan Kabupaten Bandung Barat mulai menyusun pelaksanaan pemeriksaan, mulai dari pembagian wilayah layanan hingga pendataan warga yang menjadi sasaran.

"Pemeriksaan kesehatan masyarakat akan melibatkan lima Puskesmas, yakni Puskesmas Jayamekar, Padalarang, Tagog Apu, Cipatat, dan satu puskesmas lainnya yang akan disesuaikan dalam pembagian wilayah kerja," ujarnya, Kamis (23/7). 

Pemerintah juga menyiapkan tiga unit mobil X-ray atau rontgen, dua kendaraan layanan kesehatan keliling, serta dukungan obat-obatan untuk menunjang pemeriksaan. Seluruh fasilitas itu disiapkan agar kondisi kesehatan warga dapat diketahui lebih cepat dan lebih menyeluruh.

Pemeriksaan tidak hanya bertujuan mengetahui keluhan yang dirasakan masyarakat saat ini. Hasilnya juga akan menjadi pijakan untuk melihat apakah paparan debu batu kapur selama bertahun-tahun meninggalkan dampak pada kesehatan warga.

Perhatian pemerintah tidak berhenti pada masyarakat. Kondisi lingkungan kerja di kawasan pengolahan batu kapur juga akan dinilai melalui asesmen yang melibatkan Balai Kesehatan Kerja dan Rumah Sakit Kesehatan Kerja. Langkah itu dilakukan untuk mengidentifikasi potensi risiko kesehatan yang muncul dari aktivitas industri setempat.

Pemeriksaan kesehatan dijadwalkan mulai berlangsung Jumat (24/7) di sejumlah fasilitas kesehatan yang telah ditetapkan Dinas Kesehatan Kabupaten Bandung Barat. Seluruh layanan diberikan secara gratis karena pembiayaannya ditanggung pemerintah.

Menurut Adi, hasil pemeriksaan akan menjadi dasar bagi tenaga medis menentukan langkah penanganan berikutnya. Warga yang memerlukan perawatan lanjutan akan dirujuk sesuai prosedur yang berlaku. (gin)


Editor : Inilahkoran