Menikmati Minuman Tradisional di Kafe Jamu Balandongan Rajakami Karawang
Kebanyakan warung jamu dikenal orang sebagai warung kaki lima, Namun, di Karawang ada jamu yang dijual di dalam kafe. Balandongan Rajakami nama kefe jamu itu.
Berita Terkini, Eksklusif di Channel WhatsApp Inilahkoran.id
INILAHKORAN.ID - Kebanyakan warung jamu dikenal orang sebagai warung kaki lima yang menggunakan semacam gerobak atau sejenisnya. Namun, di Karawang ada jamu yang dijual di dalam kafe.
Tak hanya jamu, kafe tersebut menjual minuman campuran kopi jamu. Kalau ke Karawang, bisa mampir ke kafe jamu Balandongan Rajakami yang ditemani alunan musik tradisional.
Kafe Balandongan Rajakami baru berdiri di Karawang, Minggu (17/5/2026). Pemilik kafe, Nace Permana mengatakan kafe jamu yang dimilikinya itu kolaborasi jamu kekinian, kopi dan seni tradisional sunda.
Seperti halnya Balandongan yang artinya tempat nongkrong ala Sunda, dia berharap kesenian tradisional dan budaya sunda tetap eksis ditengah moderenisasi.
"Harapan saya tidak muluk agar kesenian Sunda ini tidak hilang ditelan zaman," kata Nace, Senin (18/5/2026).
Menurutnya, jamu saat ini bisa dinikmati dengan enak di Karawang karena mengikuti kemajuan zaman. Artinya, masyarakat menikmati jamu tidak seperti sebelumnya yang berasa pahit. Jamu yang sekarang bisa diolah lebih beragam tanpa harus mengurangi khasiatnya.
"Jamu yang sekarang banyak pilihan dan jenisnya. Namun rasa dan khasiatnya disukai anak muda yang suka nongkrong," katanya.
Sementara itu, pengelola kafe Balandongan Rajakami, Praja Buana Gumilang mengatakan pihaknya ingin kafe jamu miliknya menjadi tempat nongkrong anak muda. Nongkrong dengan minuman sehat seperti jamu bisa mendorong gaya hidup sehat.
"Kafe ini menyediakan jamu kekinian dengan 50 lebih varian jamu," kata Gumilang.
Di tengah kondisi ekonomi saat ini dia optimistis kafe jamu bisa bersaing dengan kafe moderen. Untuk bersaing dia juga sudah menyiapkan live musik yang akan diputar setiap hari. Selain itu, ditambah dengan event langsung seperti jaipongan dan budaya Sunda lainnya.
Editor : Doni Ramdhani

