Meniti Jalan Kata, Mengabdi lewat Pena

Tantan Sulthon memilih menghabiskan hidupnya di dunia jurnalistik. Baginya, wartawan bukan sekadar profesi, tapi panggilan untuk mendengar lebih banyak.

Meniti Jalan Kata, Mengabdi lewat Pena
Tantan Sulthon memilih menghabiskan hidupnya di dunia jurnalistik. Baginya, wartawan bukan sekadar profesi, tapi panggilan untuk mendengar lebih banyak. (Instagram)

INILAHKORAN.ID - Kata-kata memiliki takdirnya sendiri. Ada yang hanya singgah di kepala pembaca, lalu menghilang bersama pergantian hari. Ada pula yang menjelma menjadi gagasan, menumbuhkan kesadaran, bahkan menggerakkan perubahan. 

Barangkali karena keyakinan itulah, Tantan Sulthon Bukhawan memilih menghabiskan hidupnya di dunia jurnalistik. Baginya, wartawan bukan sekadar profesi, tapi panggilan untuk mendengar lebih banyak, memahami lebih dalam, lalu menyampaikan kebenaran dengan jernih kepada publik.

"Saya memilih menjadi wartawan karena ingin mengenal banyak orang. Dari setiap orang, selalu ada pelajaran yang bisa dipetik. Dan melalui profesi ini, saya ingin menjadi bagian dari agen perubahan untuk kepentingan publik," ujarnya.

Perjalanan itu berawal dari sebuah kampung di Pangalengan, Kabupaten Bandung. Hamparan kebun teh, udara pegunungan, dan kehidupan sederhana menjadi sekolah pertama yang mengajarkannya arti kerja keras. Dari sanalah dia melangkah, menempuh pendidikan di SDN Citere, SMPN 2 Kertasari, hingga MA Baitul Arqom Bandung.

Keingintahuan membawanya ke Jurusan Komunikasi dan Penyiaran Islam, Fakultas Dakwah IAIN Sunan Gunung Djati Bandung. Di kampus, dia mempelajari teori komunikasi.

Namun, kehidupan mengajarkannya sesuatu yang lebih penting: komunikasi bukan hanya soal berbicara, melainkan kemampuan mendengar, memahami, dan menyampaikan pesan dengan hati.

Semangat belajar itu tak pernah benar-benar selesai. Ketika pengalaman kerja telah mengisi hari-harinya, dia kembali ke bangku kuliah dan menuntaskan pendidikan magister pada program studi yang sama di UIN Sunan Gunung Djati Bandung.

Dia lulus dengan IPK 3,87, sebuah pencapaian yang baginya bukan sekadar angka, melainkan penanda, belajar adalah perjalanan seumur hidup.

"Kalau berhenti belajar, kita akan tertinggal oleh perubahan. Wartawan justru harus menjadi orang yang paling cepat belajar," katanya.

Lafran Pane dan Tan Malaka

Buku menjadi teman setianya dalam perjalanan itu. Madilog karya Tan Malaka menjadi salah satu bacaan yang paling membentuk cara berpikirnya. Dari buku itu dia belajar, keberanian berpikir secara logis dan kritis merupakan syarat utama untuk memahami kenyataan.

Di sisi lain, karya-karya Buya Hamka memberinya ruang untuk merenung. Melalui tulisan-tulisan ulama sekaligus sastrawan besar itu, dia belajar ilmu pengetahuan harus berjalan seiring dengan akhlak, dan kepemimpinan hanya akan bermakna jika dibangun di atas keikhlasan.

Sementara Last Call karya Elon Green mengingatkannya, di balik setiap peristiwa selalu ada sisi kemanusiaan yang tak boleh diabaikan.

Tak heran jika tiga nama selalu hadir ketika dia berbicara tentang sosok yang menginspirasinya. Tan Malaka mengajarkan keberanian berpikir. Lafran Pane mengajarkan arti pengabdian melalui organisasi. Sedangkan Buya Hamka menunjukkan, ilmu dan akhlak adalah dua sisi yang tak pernah boleh dipisahkan.

Karier jurnalistiknya dimulai pada 2002 sebagai wartawan Harian Umum Mitra Dialog, salah satu surat kabar di bawah naungan Pikiran Rakyat Grup.

Tiga tahun kemudian dia bergabung dengan Harian Seputar Indonesia (Sindo). Di ruang redaksi itulah dia belajar, kecepatan bukanlah satu-satunya ukuran wartawan.

"Berita yang baik bukan yang paling cepat, tetapi yang paling dapat dipertanggungjawabkan," ujarnya.

Perjalanan itu kemudian membawanya ke InilahKoran. Bersama media tersebut, dia tumbuh melewati berbagai fase perubahan industri pers, dari era kejayaan media cetak hingga transformasi digital yang mengubah hampir seluruh wajah jurnalistik. 

Amanah demi amanah akhirnya mengantarkannya menjadi Pemimpin Redaksi InilahKoran. Baginya, perubahan teknologi bukan alasan untuk meninggalkan nilai-nilai jurnalistik.

"Platform boleh berubah, teknologi boleh berkembang, tetapi integritas wartawan tidak boleh ikut berubah," kata Tantan.

Selain berkarya di ruang redaksi, Tantan juga pernah mengabdikan diri sebagai Tenaga Ahli Humas DPRD Kabupaten Cirebon, menjadi konsultan media, serta terlibat dalam penyelenggaraan PON XIX dan Peparnas XV Jawa Barat

Pengalaman-pengalaman itu memperluas cakrawala berpikirnya tentang komunikasi publik sekaligus memperkuat keyakinan, informasi yang baik selalu melahirkan kepercayaan.

Benih kepemimpinan telah tumbuh sejak masa mahasiswa. Dia aktif di Himpunan Mahasiswa Islam (HMI) Cabang Soreang, kemudian dipercaya memimpin Keluarga Mahasiswa Bandung (Kembang). 

Pengalaman organisasi membentuk keyakinannya, kepemimpinan bukan tentang menjadi yang paling depan, melainkan tentang memastikan semua orang dapat berjalan bersama.

Kini, amanah itu berlanjut sebagai Sekretaris Persatuan Wartawan Indonesia (PWI) Jawa Barat. Baginya, organisasi profesi bukan sekadar tempat berhimpun, tetapi rumah besar yang harus mampu melindungi, meningkatkan kompetensi, dan memperjuangkan kesejahteraan wartawan.

"Organisasi harus menjadi tempat orang bertumbuh. Bukan sekadar tempat berkumpul."

Semua perjalanan itu pada akhirnya kembali kepada satu keyakinan yang selalu dia pegang. "Sebaik-baiknya manusia adalah yang paling bermanfaat bagi orang lain," ujar Tantan.

Motto itu bukan sekadar kalimat yang terpajang di dinding atau tersimpan dalam ingatan. Kalimat itu hidup dalam cara Tantan memandang profesinya, memimpin organisasi, dan berinteraksi dengan sesama. 

Barangkali seperti yang diajarkan Buya Hamka, kemuliaan manusia bukan diukur dari jabatan yang disandang atau pengetahuan yang dimiliki, melainkan dari manfaat yang ditinggalkannya.

Maka, selama masih ada fakta yang harus dijaga, ilmu yang harus dibagikan, dan generasi wartawan yang perlu dibimbing, perjalanan itu belum selesai.

Sebab bagi Tantan Sulthon Bukhawan, menulis bukan hanya menyusun kata-kata. Menulis adalah menjaga kepercayaan. Mengabdi adalah memastikan setiap kata yang ditulis selalu berpihak pada kemanusiaan. ***


Editor : Gin gin T Ginulur