Menjaga Bara Terakhir di Gunung Putri

KOBARAN api di Gunung Putri mulai mereda, tetapi ancaman belum berakhir. BPBD meminta patroli berlanjut.

Menjaga Bara Terakhir di Gunung Putri
PADAMKAN API: Petugas sedang memadamkan api yang membakar kawasan hutan dan lahan. Di kawasan Gunung Putri, Desa Rancabango, Kecamatan Tarogong Kaler, Kabupaten Garut, Karhutla menghanguskan sekitar 2 hektare lahan.(ANTARA)

Asap mungkin mulai menipis di lereng Gunung Putri, Desa Rancabango, Kecamatan Tarogong Kaler, Kabupaten Garut. Namun, bagi Teten Ali Mulku Engkun, meredanya kobaran api belum menjadi alasan untuk mengakhiri kewaspadaan.

Bara yang masih tersimpan di antara tunggul dan vegetasi kering bisa kembali menyulut kebakaran.

Kebakaran hutan dan lahan (karhutla) yang terjadi Sabtu (24/10) itu menghanguskan sekitar dua hektare lahan. Api memang dilaporkan mengecil hingga sekitar 95 persen pada pukul 21.00 WIB, tetapi ancaman kebakaran susulan masih membayangi kawasan tersebut.

Teten meneruskan laporan BPBD Kabupaten Garut yang menekankan pentingnya pemantauan lanjutan.

Baginya, memastikan api benar-benar terkendali menjadi bagian penting dari upaya melindungi kawasan dan masyarakat di sekitarnya.

"Pengawasan perlu terus dilakukan, untuk memastikan tidak ada titik api yang kembali menyala dan meluas ke area sekitarnya," ujar Kepala Pelaksana BPBD Jawa Barat itu, Senin (26/10).

Pekerjaan petugas belum selesai ketika kobaran api mulai mereda. Medan terjal, jalur menanjak, dan angin kencang membuat upaya pemadaman tidak mudah.Di sejumlah titik, api bahkan sempat merambat menuju lahan perkebunan milik warga yang berada di bagian atas lokasi kebakaran.

"Kendalanya di lapangan medan yang terjal, akses menanjak, angin kencang, serta minimnya peralatan pemadaman," ucapnya.

Di balik laporan mengenai luas lahan yang terbakar dan persentase api yang berhasil dikendalikan, ada risiko yang harus terus diperhitungkan.

Vegetasi kering seperti bambu, ilalang, kaso, kaliandra, kirinyuh, dan jati putih atau jabon menjadi bahan bakar yang dapat membuat api kembali menjalar ketika kondisi mendukung.

Suara dentuman bambu yang terbakar dan kepulan asap pekat sempat membuat warga di sekitar lokasi panik. Jarak titik api terdekat dengan permukiman diperkirakan sekitar 800 meter. Sementara itu, peternakan domba adu dan domba pedaging berada sekitar 50 hingga 100 meter dari titik kebakaran.

Kewaspadaan juga diperlukan untuk melindungi habitat satwa liar. Kawasan yang terbakar berada dekat wilayah konservasi sumber daya alam Seksi Wilayah V Garut. Sejumlah satwa, seperti macan kumbang, ular sanca, ular hijau, king cobra, kucing liar, dan kera, berpotensi terdampak apabila api meluas.

Karena itu, pemantauan dan patroli di kawasan Gunung Putri direncanakan berlangsung hingga 31 Oktober 2026. Langkah ini diperlukan untuk memastikan tidak ada titik api yang kembali membesar, terutama di lokasi yang sulit dijangkau petugas.

BPBD Kabupaten Garut bersama unsur Kecamatan Tarogong Kaler, Koramil 1111 Tarogong, Polsek Tarogong Kaler, pemerintah desa, Tagana, Masyarakat Peduli Api (MPA) Bukit Tegal Malaka, dan warga setempat terlibat dalam asesmen, pemantauan, serta penyekatan untuk menghambat perambatan api.

Penanganan dibagi menjadi dua regu. Regu pertama bertugas di Bukit Tegal Malaka sebagai pos pemantauan dengan koordinator Irsan F Ansori. Regu kedua menangani kebakaran di Blok Cisakti di bawah koordinasi Tono Hartono.

Meski banyak unsur terlibat, keterbatasan peralatan masih menjadi tantangan. Kendaraan tangki air BPBD maupun pemadam kebakaran kesulitan menjangkau titik api karena jalan menanjak. Rumpun bambu yang terbakar juga membutuhkan peralatan khusus untuk membantu proses pemadaman.

BPBD merekomendasikan pemadaman dan penyekatan terus dilakukan hingga seluruh titik api serta bara dipastikan terkendali.

Ketersediaan kendaraan pemasok air, tambahan personel, dan dukungan logistik perlu dijaga selama risiko kebakaran masih ada. Peralatan seperti jet shooter, gebyok, dan garuk tajam juga dibutuhkan untuk membantu petugas menghadapi kebakaran lahan.

Bagi Teten, meredanya api bukan akhir dari pekerjaan. Selama bara masih berpotensi menyala kembali, pengawasan harus tetap berjalan. Sebab, kebakaran yang kembali membesar bukan hanya mengancam vegetasi, tetapi juga dapat mendekati kebun warga, peternakan, permukiman, hingga habitat satwa liar.

(yuliantono/gin)


Editor : Inilahkoran