Merdeka Belajar, Belajar Merdeka

Konsep Merdeka Belajar yang digulirkan Nadiem Makarim selaku Menteri Pendidikan Republik Indonesia sesungguhnya bermakna kemerdekaan berpikir.

Merdeka Belajar, Belajar Merdeka
Konsep Merdeka Belajar yang digulirkan Nadiem Makarim selaku Menteri Pendidikan Republik Indonesia. (net)

Ketika kemerdekaan berpikir diartikan sebagai kebebasan guru dalam berpikir, memikirkan bagaimana proses pembelajaran yang baik dan menarik, memikirkan solusi terbaik untuk menyelesaikan permasalahan yang muncul, memikirkan metode dan pendekatan yang tepat dalam proses pembelajaran.

Sekolah sebagai lembaga pendidikan formal yang secara sistematis melaksanakan program bimbingan, pengajaran, dan atau pelatihan dalam rangka membantu siswa agar mampu mengembangkan potensinya secara optimal.

Sedangkan tugas utama pendidik adalah mendidik, mengajar, membimbing, mengarahkan, melatih, menilai dan mengevaluasi menjadi sesuatu hal yang mesti dan senantiasa dilakukan. Namun ketika tuntutan di luar tupoksi sebagai pendidik harus dilaksanakan, maka tidak ada kata ‘menyerah’ dan istilah ‘tidak bisa’ untuk menyelesaikan semuanya.

Sehingga, guru bukan hanya dituntut menyelesaikan administrasi pendidikan yang berjubel sebagai bentuk tanggung jawab profesi, namun  harus dapat menyelesaikan hal lain yang sebelumnya bukan merupakan bidang garapan guru.

Ada yang luput dari perhatian bahwa ketika hari ini kita dituntut untuk bisa menyesuaikan dengan keadaan zaman yang serba cepat dan akses yang terhubung secara langsung (daring) bahwa ada kelompok tertentu yang berada di zona nyaman hingga sulit untuk bisa beradaptasi dengan keadaan sekarang ini.

Ada hal yang menarik dari talkshow --Menggali Pemikiran Inovasi Pendidikan dalam Merespons Merdeka Belajar-- yang diselenggarakan Dinas Pendidikan KBB di BAIS (Bandung Alliance Intercultural School) dengan menghadirkan para pakar dunia pendidikan, Selasa (28/01/2020).

Paparan narasumber yang hadir saat itu menjadi asupan gizi tersendiri bagi para peserta dalam memaknai konsep Merdeka Belajar. Mereka berbicara atas dasar pengamatan dan pengalaman yang dijalaninya. Sehingga, fakta dan realita tersebut mampu menghadirkan sejumlah solusi sebagai bentuk treatment dalam rangka memecahkan masalah yang ada.

Permasalahan klasik di dunia pendidikan menjadi hal yang senantiasa mengiringi perjalanan panjang wajah pendidikan di negara kita. Pemerintah sebagai pemangku kebijakan dituntut memahami permasalahan yang ada sehingga dapat menghadirkan solusi terbaik hingga titik permasalahan dapat diatasi.

Seperti diketahui, Kurikulum 2013 yang digunakan sekarang ini menjadi pijakan utama guru dalam melaksanakan proses pembelajaran di kelas. Dengan mengedepankan aspek sikap, sekolah dituntut dapat membentuk kepribadian siswa yang baik. Pembiasaan yang dilakukan melalui program sekolah menjadi sarana ampuh pembentukan karakter. Penguatan Pendidikan Karakter menjadi hal yang senantiasa harus mengiringi proses pembelajaran di kelas, hingga penilaian autentik (authentic assessment) pun menjadi acuan guru dalam melakukan proses penilaian.

Satu dari sekian permasalahan klasik dunia pendidikan yang menjadi PR bagi guru adalah kompetensi kepribadian yang dimiliki guru yang harus ditingkatkan sehingga salah satu rekomendasi kebijakan yang perlu dilakukan Dinas Pendidikan adalah harus mengadakan pelatihan guru terkait soft skill atau living values education yang dapat mengubah mindset guru.

Guru sebagai ujung tombak dunia pendidikan harus benar-benar mengetahui tugas pokok dan fungsinya. Mereka harus bisa memosisikan dirinya dengan baik sehingga empat kompetensi yang harus dimiliki guru yakni kompetensi pedagogik, kompetensi kepribadian, kompetensi sosial, dan kompetensi profesional benar-benar terlihat.

Konsep Merdeka Belajar yang digulirkan Nadiem Makarim selaku Menteri Pendidikan bermakna kemerdekaan berpikir. Ketika kemerdekaan berpikir diartikan sebagai kebebasan guru  dalam berpikir, memikirkan bagaimana proses pembelajaran yang baik dan menarik, memikirkan solusi terbaik untuk menyelesaikan permasalahan yang muncul.

Kemudian, memikirkan metode dan pendekatan yang tepat dalam proses pembelajaran, memikirkan strategi pembelajaran yang baik, memikirkan penilaian yang tepat, serta memikirkan output siswa sesuai dengan yang diharapkan baik dari segi sikap, pengetahuan dan keterampilan dan banyak lagi pemikiran lainnya yang bisa meningkatkan kualitas pendidikan di Indonesia.

Semua pemikiran di atas perlu dijawab dengan langkah nyata. Jawabannya tidak harus sama, jawabannya variasi sesuai dengan pengalaman yang dilaluinya. Yang pasti berbagai perubahan kebijakan dalam bidang pendidikan bisa dijadikan modal untuk bisa menjawab semua pemikiran tentang permasalahan yang ada. Karena nyatanya apa yang pernah diberlakukan memiliki nilai plus yang bisa dipertahankan dan terus diterapkan.

Dalam konsep Merdeka Belajar, kita diberikan kebebasan untuk berpikir menentukan langkah yang tepat untuk bisa menjawab semua pemikiran tentang permasalahan pendidikan yang dihadapi. Kita bisa menentukan treatment yang tepat tanpa intervensi terlalu jauh dari pihak luar, asal semuanya berdasar dan bisa dipertanggungjawabkan.

Akhirnya, konsep Merdeka Belajar harusnya dijadikan ajang untuk berani mencoba, berani berekspresi, berani bereksperimen, berani menjawab tantangan, berani berkolaborasi dan berbagai keberanian lainnya yang memicu semangat untuk menjadikan pendidikan lebih baik dan bermakna lagi.

Sesungguhnya pendidikan tidak hanya dapat mengubah pola pikir dan kehidupan  seseorang, namun dapat berdampak lebih luas lagi yakni pada bangsa dan negara. Ketika hari ini kita diberi kebebasan dalam berpikir dan bertindak, maka kesempatan ini kita gunakan sebaik-baiknya karena Merdeka Belajar memberikan peluang pada kita untuk Belajar Merdeka. (sur)

Oleh: Elis Lisnawati, M.Pd.

Guru IPS SMPN 1 Cililin, Staf Kurikulum SMPN 1 Cililin, Sekretaris MGMP IPS SR 04 KBB, Sekretaris FKG-IPS KBB, Penulis buah


Editor : suroprapanca