Meski Kondisinya Memprihatinkan, Abattoir di Cimahi Jadi Kebanggaan Usai Dipakai Syuting Film Before, Now & Then

Meski Kondisinya Memprihatinkan, Abattoir di Cimahi Jadi Kebanggaan Usai Dipakai Syuting Film Before, Now & Then

INILAHKORAN, Cimahi - Bagi warga yang tinggal di sekitar Jalan Sukimun, Kelurahan Baros, Kecamatan Cimahi Tengah, Kota Cimahi mungkin tidak asing dengan bangunan rumah potong hewan (RPH) yang berada di kawasan tersebut.

Kendati demikian, kondisi bangunan RPH tersebut kini sangat memprihatikan. Padahal, bangunan tersebut dahulunya memiliki peran vital bagi Pemerintah Kolonial Hindia Belanda.

RPH atau dalam Bahasa Belanda Abattoir itu dibangun pemerintahan Hindia Belanda untuk menopang kebutuhan para tentaranya yang ditugaskan di Kota Cimahi.

Berdasarkan pantauan Inilahkoran di lokasi Abattoir tersebut, kondisi bangunan tersebut sangat memperhatikan. Hal itu dilihat dari kondisi fisik bangunan yang tak terurus, bahkan terlihat kumuh.

Kendati begitu, Abattoir kembali dikenal dan menjadi kebanggaan warga Kota Cimahi usai dijadikan lokasi syuting film Before, Now & Then (Nana).

Kepala Bidang Kebudayaan dan Pariwisata pada Dinas Kebudayaan Pariwisata Pemuda dan Olahraga (Disbudparpora) Kota Cimahi Nursaleh mengaku, pihaknya bangga lantaran Abattoir sebagai salah satu objek sejarah di Kota Cimahi dijadikan lokasi syuting film.

"Iya betul, RPH itu sempat dijadikan tempat syuting film Nana," katanya.

Ia menuturkan, Abattoir itu dijadikan syuting film drama sejarah garapan sutradara Kamila Andini itu diputar dalam Festival Film Internasional Berlin 2022 yang berlangsung awal tahun ini. 

"Film bernuansa Sunda itu sukses meraih sejumlah penghargaan Internasional," tuturnya.

Lebih lanjut ia menerangkan, bangunan RPH atau Abattoir di Kota Cimahi dijadikan sebagai pasar zaman dulu dalam film yang dibintangi Happy Salma, Laura Basuki, Arswendy Bening Swara hingga Ibnu Jamil itu. 

"Kami bangga tempat bersejarah di Kota Cimahi dijadikan tempat syuting film," ucapnya.

Apalagi, sambung dia, film Before, Now & Then (Nana) itu mayoritas dialognya menggunakan Bahasa Sunda yang disertai translate (terjemahan) Bahasa Inggris.

"Sangat membanggakan sekali dan berharap bangunan-bangunan sejarah heritage lainnya bisa dipakai syuting, sehingga bermanfaat," ucapnya.

Perlu diketahui, film Before, Now & Then merupakan film Bahasa Sunda pertama yang tayang di Festival Film Internasional Berlin yang produksi Fourcolours bersama Titimangsa Fondation itu menceritakan kisa nyata seorang Raden Nana Sunani di Jawa Barat tahun 1960-an.

Nana yang diperankan Happy Salma kehilangan ayah dan anaknya karena perang di Jawa Barat. Ia kemudian menikah dengan seorang pria kaya yang ternyata selalu merendahkannya dan tidak setia.

Film tersebut masuk nominasi Golden Bear untuk kategori film terbaik pada ajang Festival Film Internasional Berlin 2022. Setelah itu, film ini juga berkompetisi di Festival Film Sydney untuk Sydney Film Prize kategori Film Terbaik dan memenangkan Jury Prize di Festival Film Internasional Brussels.

Di tanah air, film Before, Now & Then (Nana) juga meriah sejumlah penghargaan. Film tersebut akhirnya diputar perdana di Kota Bandung pada Oktober lalu yang disaksikan langsung Gubernur Jawa Barat Ridwan Kamil.*** (agus satia negara).


Editor : Ahmad Sayuti