Milangkala Tatar Sunda Digelar, Dedi Mulyadi Pilih Sumedang Titik Awal Karnaval
ubernur Jawa Barat, Dedi Mulyadi menegaskan alasan strategis, di balik penetapan Kabupaten Sumedang sebagai titik awal karnaval budaya Mahkota Binokasih
Berita Terkini, Eksklusif di Channel WhatsApp Inilahkoran.id
INILAHKORAN.ID - Gubernur Jawa Barat, Dedi Mulyadi menegaskan alasan strategis, di balik penetapan Kabupaten Sumedang sebagai titik awal Karnaval budaya Mahkota Binokasih dalam rangkaian Milangkala Tatar Sunda bertajuk “Nyuhun Buhun, Nata Nagara” pada Sabtu (2/5/2026).
Agenda budaya yang memperingati eksistensi Kerajaan Sunda ini, akan berkeliling ke sembilan daerah dan berakhir di Kota Bandung, pada 17 Mei 2026.
Bagi Dedi, penentuan Sumedang bukan sekadar pilihan seremonial. Ia menekankan pentingnya pijakan berbasis bukti fisik dalam merawat sejarah Sunda, di tengah minimnya artefak yang tersisa selain Prasasti Batu Tulis dan Mahkota Binokasih.
"Saya tuh lama mengamati ini, sejarah, mitologi, atau fakta. Maka kemarin teman-teman ITB melakukan analisis terhadap Mahkota Binokasih itu, ternyata hasil kajian akademiknya benar, bahwa itu memang merupakan mahkota yang memiliki nilai-nilai sejarah, kemudian nilai-nilai kebendaan," ujar Dedi di sela Karnaval di Sumedang, Sabtu (2/5/2026).
Mahkota Binokasih menjadi pusat narasi, sekaligus simbol utama dalam Karnaval tahun ini. Untuk pertama kalinya, benda bersejarah tersebut diarak secara terbuka dengan pendekatan budaya, bukan sekadar seremoni formal.
"Sehingga mulai tahun ini, Mahkota Binokasih-nya diarak, bukan lagi pakai mobil jeep, tetapi pakai acara kebudayaan yang berasal dari nilai-nilai leluhur kita, dibawa keliling Jawa Barat," ucapnya.
Rangkaian Karnaval disusun menyusuri titik-titik penting jejak budaya Sunda. Dari Sumedang, rombongan bergerak ke Kawali (3 Mei) yang dikenal sebagai pusat Kerajaan Sunda Kawali, lalu ke Kampung Naga (4 Mei), Cianjur (5 Mei), Kebun Raya Bogor (6 Mei), Depok (8 Mei), Karawang (9 Mei), hingga Cirebon (10 Mei), sebelum puncaknya di Bandung (16-17 Mei) dan kembali ke Sumedang.
"Kita mampir-mampir di delapan tempat, kemudian puncaknya nanti di Kota Bandung menuju Gedung Sate, dan kemudian nanti kembali lagi ke Sumedang," katanya.
Dedi juga menanggapi perdebatan historiografi, yang mana harusnya Karnaval ini dimulai dari tempat pertama kali Kerajaan Sunda berdiri. Berdasarkan informasi dari Prasasti Kebon Kopi bertarikh 669 Masehi pada masa Sri Maharaja Tarusbawa. Namun, ia menegaskan pendekatan berbasis artefak nyata sebagai fondasi kebijakan budaya.
"Ya karena Mahkota Binokasih-nya di Sumedang. Jadi jejak sejarah yang ada dalam bentuk wujud itu di Sumedang. Kalau yang lain kan kebanyakan narasi, cerita. Saya ingin berangkat dari fakta, bukan mitologi, sehingga dari Sumedang," paparnya.
Ia menekankan, keberadaan Mahkota Binokasih menjadi bukti konkret eksistensi Kerajaan Sunda di Jawa Barat.
"Faktanya ada wujud. Kan kalau tidak ada wujudnya, mungkin bukan saya katakan fakta. Karena ada wujudnya, ya itu wujudnya Mahkota Binokasih," ujarnya.
Ke depan, Dedi memastikan Milangkala Tatar Sunda akan menjadi agenda budaya tahunan berskala lebih luas, mencakup wilayah budaya Sunda lintas provinsi seperti Banten hingga sebagian kawasan di Jawa Tengah.
"Ini tuh rutin. Makanya milangkalanya Tatar Sunda. Kalau Milangkala Tatar Sunda, maka tidak terbatas lagi pada Jawa Barat," katanya.
Karnaval dengan mengarak Mahkota Binokasih ini disambut antusias oleh warga Sumedang, di mana sejak sore mereka telah menunggu untuk menyaksikan prosesi arak-arakan rangkaian Milangkala Tatar Sunda ini.
Sebanyak 10 ribu peserta ditargetkan ambil bagian dalam Karnaval yang melintasi sembilan kabupaten/kota ini. Mereka terdiri dari 580 pelaku seni, 270 tokoh adat dan budayawan, 13 kampung adat.
Milangkala Tatar Sunda atau peringatan Hari Tatar Sunda sendiri telah disepakati diperingati setiap 18 Mei, berdasarkan Prasasti Kebon Kopi.
Peraturan Gubernur Jawa Barat Nomor 13 Tahun 2026 tentang Penyelenggaraan Hari Tatar Sunda menjadi payung hukum, merujuk pada keberadaan Kerajaan Sunda sejak 18 Mei 669 Masehi yang dipimpin Sri Maharaja Tarusbawa.
Hari ini, Karnaval dengan mengarak Mahkota Binokasih dalam rangkaian Milangkala Tatar Sunda digelar di Ciamis, dengan gelaran bertajuk "Kawali Mulang ka Diri".***
Editor : JakaPermana

