Miliki Lagu Sedikit, Apakah BLACKPINK Malas atau Dikelola Secara Strategis?
BLACKPINK kembali dikritik bahkan kini dicap sebagai grup yang malas karena hanya memiliki sedikit lagu selama 10 tahun.
Berita Terkini, Eksklusif di Channel WhatsApp Inilahkoran.id
INILAHKORAN, Bandung - BLACKPINK kembali jadi sorotan terkait aktivitas grup yang kini sangat langka terlihat.
BLACKPINK sekali lagi menjadi pusat perdebatan sengit, karena unggahan penggemar yang viral menuduh grup tersebut "malas" terus memicu reaksi keras di berbagai komunitas online.
Kontroversi bermula ketika seorang penggemar secara terbuka menyatakan akan berhenti mendukung BLACKPINK setelah 'Born Pink World Tour'.
Unggahan tersebut menyoroti diskografi BLACKPINK yang relatif kecil, kurang dari 40 lagu selama hampir satu dekade dan jeda panjang antara comeback.
Dibandingkan dengan grup-grup yang produktif seperti TWICE atau SEVENTEEN, produktivitas musik BLACKPINK tampak sangat terbatas.
Kritik juga meluas ke penampilan langsung. Beberapa penggemar menggambarkan konser-konser baru-baru ini sebagai kurang berenergi dan konsisten, menunjuk pada masalah koreografi dan kehadiran panggung yang tidak merata terutama yang melibatkan member seperti Jennie dan Jisoo.
Dengan hanya sekitar 39 lagu, daftar lagu konser juga dianggap repetitif, seringkali mengandalkan remix dan penampilan solo untuk mengisi durasi pertunjukan.
Secara musikal, BLACKPINK terus menghadapi kritik tentang struktur yang formulaik. lagu-lagu hits seperti 'DDU-DU DDU-DU', 'How You Like That', dan 'Pink Venom' sering dikatakan mengikuti pola yang sama, dengan ketergantungan yang besar pada produser Teddy.
Jumlah rilis yang terbatas telah mempersulit grup ini untuk menunjukkan keragaman atau evolusi artistik.
Namun, melabeli BLACKPINK sebagai "malas" mungkin terlalu menyederhanakan realitas yang lebih kompleks.
Para pakar industri menunjuk pada strategi jangka panjang YG Entertainment yaitu "pemasaran kelangkaan" membatasi perilisan untuk memaksimalkan dampak dan eksklusivitas.
Pendekatan ini membantu memposisikan BLACKPINK sebagai merek global premium, di mana setiap comeback menjadi peristiwa besar dan bukan sekadar perilisan rutin.
Menariknya, narasi berubah ketika melihat aktivitas solo para member. Antara tahun 2024 dan 2026, keempat member secara signifikan mengembangkan karier individu mereka.
'RUBY' milik Jennie, 'Alter Ego' milik Lisa, lagu hit 'APT' milik Rose, dan 'Amortage' milik Jisoo menunjukkan keterlibatan dan produktivitas artistik yang kuat. Ini menunjukkan bahwa para anggota sendiri jauh dari kata pasif.
Sebaliknya, kritik saat ini mencerminkan pergeseran prioritas. Seiring setiap member membangun merek individu yang kuat, aktivitas grup tampak kurang sentral dibandingkan sebelumnya.
EP 'DEADLINE' (2026), dengan promosi minimal dan konten terbatas, hanya memperkuat persepsi ketidaksesuaian antara grup dan penggemar.
Pada akhirnya, BLACKPINK berada dalam sebuah paradoks. Mereka tetap menjadi salah satu grup K-Pop yang paling sukses secara komersial dan dikenal secara global, namun terus menghadapi skeptisisme tentang kedalaman artistik dan komitmen mereka sebagai sebuah grup.
Kebenaran mungkin terletak di antara keduanya: BLACKPINK bukanlah grup yang "malas" secara inheren, tetapi produktivitas mereka yang terbatas dan fokus karier yang terus berubah telah menciptakan kesenjangan antara harapan penggemar dan kenyataan, kesenjangan yang semakin sulit untuk diabaikan.***
Editor : Irma Nurfajri


