Muhammad Ahsanul Husna, Pelita Masyarakat Dhuafa Menyongsong Indonesia Jaya

Muhammad Ahsanul Husna, sosok inspiratif dari Semarang yang menggagas sekolah gratis bagi masyarakat miskin peraih SATU Iindonesia Awards

Muhammad Ahsanul Husna, Pelita Masyarakat Dhuafa Menyongsong Indonesia Jaya
Muhammad Ahsanul Husna, penggagas sekolah gratis SD Darussalam Semarang Barat bagi keluarga miskin yang sukses menerima penghargaan SATU Indonesia Awards 2021

INILAHKORAN,Bandung,- Kemiskinan masih menjadi bayang-bayang suram kehidupan sebagian besar masyarakat Indonesia.

Kondisi itu tak jarang menjadi kendala masyarakat untuk mendapatkan hak-hak dasar seperti mengenyam pendidikan yang layak.

Tak hanya kesulitan mendapatkan pendidikan yang layak dan memadai sebagai hak dasar seluruh warga negara, potret buram juga terjadi pada sekolah berbasis pendidikan islam.

Baca Juga: Leg Kedua Final Piala AFF 2020, Mampukah Timnas Indonesia Ciptakan Keajaiban Seperti Barcelona?

Sebuah ironi di negara yang mayoritas penduduknya muslim, mendapatkan pendidikan berbasis agama Islam menjadi mimpi tak terbeli bagi masyarakat menengah ke bawah terlebih kaum dhuafa.

Namun tentu akan selalu ada jalan dalam setiap kesulitan, selalu ada harapan dalam setiap kebuntuan. Pun terkait potret suram dunia pendidikan bagi warga kurang mampu.

Di tengah kegelisahan para orang tua untuk dapat menyekolahkan anak-anaknya, munculnya pelita bernama Muhammad Ahsnul Husna.

Baca Juga: Tahun Baru 2022, Ini Hal Terpenting yang Harus Dilakukan Kata Ustadz Adi Hidayat

Warga Jalan Borobudur Raya RT 05 RW 08 Kembangarum, Semarang Barat itupun seakan menjadi pelita baru bagi kesulitan masyarakat miskin di sekitar Semarang Barat dengan menghadirkan sekolah gratis.

Langkah nyata yang kemudian membawanya tidak hanya menjadi inspirasi banyak orang, juga mengantarkan sosoknya meraih penghargaan SATU Indonesia Awards (SIA) 2021 Kategori Pendidikan Tingkat Provinsi.

Potret kemiskinan yang dialami sebagian besar masyarakat di daerahnya lah yang membawanya kemudian memutuskan untuk bergerak turut membantu sesama dan menjadi penerang bagi anak-anak yang lahir dari kalangan keluarga tidak mampu.

Baca Juga: Kenang Keteladanan Gus Dur, Yenny Wahid Bagikan Sembilan Nilai Keteladanan Sosok Sang Ayah

Perjalanan dan kiprah Ahsan sapaan akrab Muhammad Ahsanul Husna tentu saja tidaklah semulus yang digambarkan. Meski berlabel sekolah gratis, masyarakat tentu saja tidak begitu saja percaya dan yakin dengan ketulusannya.

Terlebih, tak hanya memberikan sekolah gratis, Ahsan juga berusaha sekuat tenaga menghadirkan sekolah yang unggul dan berkualitas meski tak membebankan pembayaran pada peserta didiknya.

Untuk memenuhi harapan itu, Ahsan mengaku bahkan harus menanggung sejumlah kegetiran hingga harus berurusan dengan kalangan perbankan untuk sekadar meminjam uang, jerih payah dan perjuangan Muhammad Ahsanul Husna pun berbuah indah dengan mampu melahirkan sekolah gratis bagi anak-anak dari kalangan tidak mampu.

Baca Juga: Wagub Jabar Terima Laporan Hasil Pemeriksaan Semester II Tahun 2021 dari BPK

Dalam obrolannya bersama Inilah Koran, Ahsan mengungkapkan, munculnya gagasan menghadirkan lembaga pendidikan islam gratis bagi masyarakat miskin berawal dari keresahannya terhadap fenomena sekolah islam yang biayanya mahal. Sehingga sangat tidak mungkin terjangkau oleh kalangan menengah ke bawah.

"Ini yang membuat saya berpikir, bagaimana caranya agar ada sekolah islam yang gratis bagi masyarakat miskin. Pendidikan itu tentu saja menjadi modal penting, terlebih sekolah islam. Namun sayang kebanyakan sudah menjadi kapitalis dan sangat tidak terjangkau biayanya," ungkap Dosen Tetap Fakultas Agama Islam Unwahas Semarang yang juga Sekretaris Umum Persatuan Guru Nahdlatul Ulama (PERGUNU) Jawa Tengah kepada Inilah Koran, Rabu, 29 Desember 2021.

Pria kelahiran Semarang, 27 Juni 1986 itu mengungkapkan, terdorong dengan kondisi hal itu, dia bersama beberapa saudaranya pun kemudian mendirikan SD Darussalam pada 2006. Tekadnya tak lain bagaimana menghadirkan sekolah gratis bagi masyarakat miskin dengan kualitas unggul.

Baca Juga: Jabar Pelopor Sertifikasi Kompetensi Kepala Sekolah Berintegritas di Indonesia

"Alhamdulillah, tahun 2006 berdiri SD Darussalam. Saat itu kita urunan atau patungan dengan saudara-saudara," ungkap pengajar Diklat Calon Kepala Sekolah LPPKS Kemendikbud moda daring, luring dan kombinasi itu.

Kendati pada awalnya terseok-seok karena hanya mengandalkan dari modal patungan keluarga, tekad dan niat baiklah yang terus menguatkan hingga SD Darussalam pun mampu berdiri sejajar dengan sekolah-sekolah islam unggulan. Namun, tantangan selanjutnya adalah meyakinkan masyarakat.

"Tantangannya tentu saja meyakinkan warga sekitar. Ya karena wajar kalau masyarakat meragukan kualitasnya karena sekolah gratis. Tapi Alhamdulillah, sampai sekarang baik dari sarana dan prasarana dan lainnya kita Insya Allah sudah sejajar dengan sekolah unggulan," paparnya.

Baca Juga: Bali United dan PSM Makassar Mewakili Indonesia di Piala AFC 2022

Lebih lanjut, lulusan Fakultas Tarbiyah IAIN Walisongo Semarang itu menambahkan, disamping memberikan sekolah gratis, dia dan keluarganya juga berkomitmen untuk terus menggunakan pendapatan yayasan bagi pengembangan dan bantuan-bantuan siswa.

"Kalaupun ada pendapatan untuk sekolah seperti bantuan dana Bos, itu semuanya kita alokasikan untuk kepentingan membayar pengajar dan kebutuhan sekolah lainnya. Alhamdulillah, saudara-saudara saya juga sudah selesai dengan urusan keduniawiaan," ujarnya.

Disinggung terkait kirukulum, Ahsan mengungkapkan, kurikulum pembelajaran tetap mengacu pada penerapan Kemendikbud. Namun SD Darussalam memberikan tambahan dalam pembelajaran pendidikan agama islam (PAI), seperti rutinitas membaca Asmaul Husna dan surat-surat pendek setiap hari di lapangan sebelum memulai pembelajaran lainnya. Bahkan, bagi siswa kelas 6 yang akan lulus, maka diwajibkan sudah hapal juz 30.

Baca Juga: Seblak, Makanan Khas Asal Bandung Ternyata Masuk Daftar Makanan Paling Banyak Dicari di Tahun 2021

Ahsan berharap, ke depan, pihaknya dapat mendirikan borading school. Hal itu tak lain untuk lebih memaksimalkan pendidikan bagi anak-anak."Tentu saja pengembangan akan selalu menjadi target kami. Kita semua punya mimpi agar kemiskinan jangan sampai menjadi kendala bagi orang tua menyekolahkan anaknya melalui sekolah gratis ini," papar Ahsan.

Dia menambahkan, kendati secara kualitas maupun sarana dan prasarana, sekolahnya kini sudah jauh lebih baik. Namun kendala lain terkadang datang dari para orang tua didik yang kadang belum mampu memberikan contoh bagi anak-anaknya. Itulah yang mendorongnya berkeinginan membangun boarding school.

"Ya itulah pekerjaan terberat kemudian, ketika anak-anak sudah dibekali dengan pengetahuan termasuk juga diajarkan terkait berbagai kewajiban sebagai muslim. Terkadang ada orang tua yang di rumahnya belum mampu menjadi teladan bagi anak-anaknya. Ini tentu pekerjaan dan tanggung jawab bersama untuk mengatasinya," pungkas Ahsan.***(Ghiok Riswoto)


Editor : inilahkoran