Kemenparekraf: APBN 2022 Alokasikan Rp13,8 Triliun Dukung Kebangkitan Industri Pariwisata Tanah Air

Dalam APBN 2022, pemerintah mengalokasikan Rp13,8 triliun untuk sektor pariwisata. Dana itu diharapkan mampu mendongkrak industri pariwisata

Kemenparekraf: APBN 2022 Alokasikan Rp13,8 Triliun Dukung Kebangkitan Industri Pariwisata Tanah Air
Dalam APBN 2022, pemerintah mengalokasikan Rp13,8 triliun untuk sektor pariwisata. Alokasi itu diharapkan mampu mendongkrak industri pariwisata tahun depan.

INILAHKORAN, Bandung - Dalam APBN 2022, pemerintah mengalokasikan Rp13,8 triliun untuk sektor pariwisata. Alokasi itu diharapkan mampu mendongkrak industri pariwisata tahun depan.

Staf Ahli Bidang Manajemen Krisis Kementerian Pariwisata dan Ekonomi Kreatif (Kemenparekraf) Henky Manurung optimistis industri pariwisata bangkit pada 2022 mendatang. Dia pun meyakini, seiring terkendalinya pandemi Covid-19 itu sektor pariwisata bisa menjadi tulang punggung pertumbuhan ekonomi negeri.

Menurutnya, dalam Anggaran Pendapatan dan Belanja Negara (APBN) 2022 menyebutkan ada Rp13,8 triliun yang dialokasikan untuk sektor industri pariwisata. Rinciannya, Rp3,7 triliun dialokasikan ke sektor pariwisata dan Rp10,1 triliun untuk pembangunan pariwisata 2022. Alokasi dana itu termasuk pengembangan pariwisata, peningkatan kualitas SDM pariwisata, pemulihan pasar pariwisata, dan rebranding pariwisata menuju pasar yang tangguh dan berkelanjutan.

Baca Juga: Event Lari Marathon di Puncak Diyakini Kerek Pemulihan Ekonomi dan Pariwisata Kabupaten Bogor

“Optimisme itu diimplementasikan dalam strategi pemerintah yang harus didukung pemerintahan daerah. Ke depan, wisnus (wisatawan Nusantara) akan menjadi tulang punggung industri pariwisata negeri ini,” kata Henky dalam Dialog Produktif Komite Penanganan Covid-19 dan Pemulihan Ekonomi Nasional (KPCPEN), Rabu 22 Desember 2021.

Dia mengakui, jelang liburan akhir tahun ini geliat kunjungan wisnus tampak di sejumlah daerah tujuan wisata. Henky menyebutkan, tingkat hunian kamar di 24 provinsi kini terjadi peningkatan okupansi.
Guna menyokong pemulihan sektor pariwisata pada 2022, pemerintah menjalan sejumlah strategi. Selain harus didukung pemerintahan daerah, strategi itu pun harus dijalankan para pelaku pariwisata yang harus cermat menghadapi peruibahan perilaku wisatawan.

“Kemenparekraf saat ini menilai tren pemulihan pariwisata yang kini berfokus pada empat faktor yaitu kebersihan, rendah sentuhan, lebih sedikit mobilitas, dan tidak beramai-ramai. Tentunya, hal itu didukung standar kesehatan dengan sertifikat CHSE (Cleanliness, Health, Safety, and Environment Sustainability) demi pariwisata yang berkualitas,” tuturnya.

Baca Juga: Pengelola Floating Market Lembang Senang dengan Bus Pariwisata Gratis Dishub Jabar

Fokus pengembangan ke wisnus itu pun disepakati Gabungan Industri Pariwisata Indonesia (GIPI). Ketua Umum GIPI Didien Junaedy menyebutkan sejak 2018 pihaknya mengusulkan perubahan paradigma tersebut. Pihaknya mengharapkan optimalisasi wisnus harus dilakukan mengingat potensi pasarnya relatif gemuk.

“Agar fokus mengembangkan wisatawan domestik, memang dibutuhkan kolaborasi dengan pemerintahan daerah. Artinya, jika ada proyek pariwisata itu bisnisnya diberikan kepada para pelaku industri. Apalagi, sekarang ada sekian ratus desa wisata yang bisa dijual kepada wisatawan,” ujar Didien.

Dia menambahkan, guna membangkitkan industri pariwisata itu dibutuhkan pengembangan produk. Hal itu membutuhkan adaptasi,inovasi, dan kolaborasi berbagai pihak. Tak hanya pemerintah, pihak swasta pun diharapkan bisa bergabung dalam kolaborasi yang ditujukan membangkitkan industri pariwisata.

Baca Juga: Pramuka Jabar – Yogyakarta Siap Kolaborasi Kembangkan Pariwisata

“Dia tahun pandemi ini, memang industri pariwisata sangat terpapar. Untuk itu, industri membutuhkan uluran tangan pemerintah untuk menghidupkan pariwisata. Mereka membutuhkan bridging capital atau bantuan modal awal untuk mempertahankan bisnisnya,” jelasnya.

Bahkan, Didien memprediksi pandemi Covid-19 ini tidak akan selesai selama dua tahun ke depan. Lantaran hal itu, dalam era ketidakpastian ini optimalisasi kunjungan wisnus relatif relevan daripada mengharap lebih kunjungan wisatawan mancanegara.

Senada dengan itu, Wakil Gubernur Bali Tjokorda Oka Artha Ardana Sukawati pun optimistis kebangkitan pariwisata Tanah Air bakal terjadi pada 2022 mendatang. Dia mengaskan, ketaatan para pelaku industri pariwisata di Bali saat ini menyentuh angka 95%.

“Selain itu, di Nusa Dua tingkat okupansi kamar kini mencapai 56%. Angka ini terbilang naik dibandingkan sebelumnya,” ujarnya seraya menyebutkan Bali memiliki 50 hotel karantina yang tersebar di kantong-kantong destinasi wisata. (dnr)


Editor : inilahkoran