Nur Lomrah Dua Dekade Mengabdi di SDN Terpencil KBB, Diangkat Guru PPPK Paruh Waktu Jelang Usia Pensiun

Hampir dua dekade Nur Lomrah mengabdikan dirinya sebagai guru honorer di KBB. Tak menyangka bakal diangkat sebagai guru PPPK paruh waktu

Nur Lomrah Dua Dekade Mengabdi di SDN Terpencil KBB, Diangkat Guru PPPK Paruh Waktu Jelang Usia Pensiun
Nur Lomrah seorang guru honorer yang mengabdi tanpa pamrih selama lima dekade di sebuah SDN di lereng perbukian Cililin KBB, kini bisa bernafas lega setalah diangkat jadi PPPK paruh waktu.

INILAHKORAN.ID - Sudah dua dekade Nur Lomrah mengabdikan dirinya sebagai guru honorer di KBB. Tak menyangka bakal diangkat sebagai guru PPPK paruh waktu.  

Di lereng pegunungan Kabupaten Bandung Barat (KBB), di sudut yang cukup terpencil di SDN 5 Cililin, Nur Lomrah terus mengabdikan dirinya sebagai seorang guru, dan jelang akhir masa pensiunnya dia justru diangkat sebagai PPPK paruh waktu, yakni di 2026. 

"Awalnya, yang terlintas di benak adalah perubahan gaji," kata Lomrah menanggapi pengangkatan dirinya sebagai PPPK paruh waktu, Selasa 20 Januari 2026.

Penantian panjang yang melelahkan bukanlah hal asing bagi Lomrah. Cita-cita menjadi guru tumbuh sejak kecil, setelah orang tuanya menyarankan agar ia masuk Sekolah Pendidikan Guru (SPG) untuk segera mendapatkan pengangkatan.

Namun, takdir menyajikan jalan yang lebih berliku lantaran beberapa kali mengikuti tes gagal berturut-turut, hingga akhirnya tempatnya ditemukan di jalur P3K paruh waktu.

"Meskipun menjelang pensiun, semua tetap aku syukuri," ucapnya dengan tatapan mata yang penuh rasa syukur.

Ketika pertama kali menginjakkan kaki di dunia pendidikan, Lomrah menemukan suasana yang jauh berbeda dari sekarang.

"Dulu, pendidikan berpusat pada guru, semua berjalan dengan cara nulis di papan tulis dan hapalan," katanya.

Kini, lanskap pendidikan telah bergeser total ke arah pembelajaran yang berpusat pada siswa, dengan kolaborasi dan penggunaan teknologi seperti laptop sebagai bagian tak terpisahkan dari proses belajar.

Namun, yang paling membuat hatinya terpukau bukanlah kemajuan teknologi, melainkan momen ketika mata siswa tiba-tiba bersinar karena akhirnya memahami pelajaran yang disampaikan.

"Itu adalah hadiah terindah yang bisa aku dapatkan sebagai guru," ujarnya dengan senyum hangat.

Tak semua hari berjalan mulus. Tantangan terbesar yang pernah dihadapinya adalah mengajar anak-anak yang belum bisa membaca dan menulis.

"Kita harus sabar," katanya.

Untuk mengatasi hal itu, ia mencoba membawa inovasi sederhana namun bermakna, yakni bukan semua pelajaran harus tertulis di buku, melainkan bisa disampaikan melalui cerita dan pengalaman nyata, sehingga siswa menjadi lebih tertarik dan mudah menyerap ilmu.

Prinsip yang selalu dipegang teguhnya sederhana namun kuat, yakni keyakinan bahwa pengangkatan pasti akan datang.

"Sekarang terbukti, meskipun dalam bentuk P3K paruh waktu," ujarnya. Tidak pernah ada pikiran untuk menyerah, karena di balik setiap usaha ada tujuan yang mulia: mencerdaskan anak bangsa.

Mengabdi Bukan Sekadar Profesi, Melainkan Komitmen

Bagi Lomrah, "mengabdi" dalam dunia pendidikan bukan sekadar pekerjaan rutin. Ia melihatnya sebagai komitmen dan keikhlasan untuk mendidik serta membimbing generasi muda.

Dengan status baru yang diperolehnya, ia hanya punya satu tujuan sederhana, yaitu memberikan yang terbaik bagi siswa dan sekolahnya.

"Sekolah tempatku mengajar rusak berat, sering bocor dan bahkan tidak layak pakai," ujarnya dengan nada yang sedikit menyakitkan.

Impian kecilnya yang belum terwujud adalah melihat sekolah tersebut segera dibangun dan diperbaiki, agar anak-anak bisa belajar dengan nyaman.

Kepada rekan tenaga pendidikan muda maupun mereka yang sedang mengalami kesulitan, Lomrah mengajak untuk terus berjuang dengan semangat dan kesabaran.

"Janganlah jadi guru yang ditakuti, jadilah guru yang dihormati dan disegani, karena guru adalah orang tua di sekolah," pesannya yang penuh makna untuk disampaikan ke seluruh komunitas pendidikan Jawa Barat.

Untuk lima tahun ke depan, ia berharap kualitas pendidikan di Kabupaten Bandung Barat terus meningkat, beserta perbaikan sarana dan prasarana sekolah.

Perempuan paruh baya itu bertekad untuk tetap berperan aktif dalam mewujudkan harapan itu, hingga akhir masa mengabdinya.***


Editor : Ahmad Sayuti