Padi Jabar Hadapi Anomali

Musim tanam di Jawa Barat menghadapi tantangan yang tidak ringan sepanjang 2025.

Padi Jabar Hadapi Anomali
MASALAH PAI: Sekretaris DTPH Jawa Barat Yanti Hidayatun Zakiah memberikan keterangan, di Bandung, Senin (27/7).

INILAH, Bandung - Musim tanam di Jawa Barat menghadapi tantangan yang tidak ringan sepanjang 2025. Cuaca kemarau basah, minimnya sinar matahari, hingga serangan hama sempat mengganggu produktivitas sawah, namun produksi padi tetap mampu mencatatkan pertumbuhan positif.

Dinas Tanaman Pangan dan Hortikultura (DTPH) Jawa Barat mencatat, produksi gabah di wilayah ini mencapai 10,23 juta ton pada 2025 atau meningkat 18,54 persen dibandingkan tahun sebelumnya.

Sekretaris DTPH Jabar Yanti Hidayatun Zakiah mengatakan, capaian tersebut menjadi hasil dari berbagai upaya menjaga produksi pangan di tengah perubahan iklim yang semakin sulit diprediksi.

Meski produksi meningkat, produktivitas lahan sawah justru mengalami sedikit penurunan. Berdasarkan data Badan Pusat Statistik (BPS), produktivitas padi Jabar turun dari 58,47 kuintal per hektare pada 2024 menjadi 58,26 kuintal per hektare pada 2025.

Penurunan itu dipengaruhi oleh anomali cuaca kemarau basah yang membuat intensitas penyinaran matahari berkurang. Kondisi tersebut berdampak pada proses pengisian bulir padi hingga memengaruhi hasil panen per hektare.

“Penyinaran matahari yang berkurang sedikit mengganggu proses pengisian bulir. Ditambah lagi dampak perubahan iklim memicu serangan hama seperti wereng dan penyakit tanaman,” kata Yanti, seperti dikutip dari ANTARA.

Selain faktor cuaca, kelembapan tinggi juga memicu berbagai gangguan pertanian. Banjir, longsor, serta serangan Organisme Pengganggu Tanaman (OPT), seperti penyakit blas dan wereng batang cokelat, turut menjadi tantangan yang harus dihadapi petani.

Namun, kondisi tersebut tidak membuat produksi padi Jabar mengalami penurunan. Ketersediaan air sepanjang tahun justru membantu meningkatkan luas tanam menjadi 2.106.724 hektare pada 2025, dibandingkan 1.918.137 hektare pada 2024. (gin)


Editor : Inilahkoran