Pakar : Mau PTM 100 Persen? Penuhi Dulu Syaratnya

Pakar pendidikan UPI menyebutkan jika sekolah ingin melaksanakan PTM 100 persen harus terlebih dulu memenuhi beberapa syarat.

Pakar : Mau PTM 100 Persen? Penuhi Dulu Syaratnya
Saat menjalankan PTM 100 persen, aspek keselamatan dan kesehatan warga sekolah harus jadi prioritas.

INILAHKORAN, Bandung - Rencananya pembelajaran tatap muka (PTM) 100 persem akan berlangsung pada 10 Januari 2022 mendatang. Apakah PTM ini berlangsung 100 persen?

Di Kota Bandung sendiri PTM 100 persen dilangsungkan secara bertahap, dengan harapan tidak kemnbali muncul klaster baru, dan tetap memperhatikan prokes.

Pengamat pendidikan UPI Cecep Darmawan mengatakan pihak sekolah dan Satgas Covid-19, harus mengecek terlebih dahulu terkait infrastruktur protokol kesehatan (prokes) di setiap sekolah sebelum melaksanakan PTM 100 persen.

"Selain itu, anak-anak, guru dan tenaga kependidikan (tendik) harus sudah divaksin kedua kalinnya," kata Guru Besar UPI itu, 6 Januari 2022.

Baca Juga: PTM 100 Persen di Kota Bandung Dilakukan Bertahap

Dia menuturkan, 100 persen itu artinya, siswa-siswi memang sekolah tatap muka, tapi PTM-nya bergilir, dan lama belajar di sekolah juga pembelajarannya masih dibatasi, misalnya 3 jam dan tidak ada jeda waktu istirahat.

Pihaknya setuju, bahwa istilah PTM 100 persen bagi yang sudah memenuhi, tapi harus dengan catatan. Seperti infrasturktur prokesnya baik, soal vaksinasinya sudah 100 persen, dan  bagaimana j pengawasannya. Pengawasan bukan hanya oleh pemerintah, tapi elemen masyarakat, dan orangtuanya.

"Jadi tetap, 100 persen itu bukan seperti dulu sebelum era covid. Bahwa dalam pendidikan saat ini tetap harus menggunakan prokes sebagai oleh-oleh era Covid-19. Itu istilah saya ya," ucap Cewan sapaan akrabnya.

Baca Juga: Tunda PTM 100 Persen, Pemerintahan Kota Bogor Geber Vaksinasi Anak 6 Hingga 11 Tahun

Kata dia, PTM 100 persen itu tidak berarti menghilangkan pembelajaran jarak jauh (PJJ) melalui daring.  Bahwa PJJ itu masih tetap dibutuhkan.

Karena, kata dia, ketika PTM 100 persen sekalipun, waktu tatap mukanya dibatasi, dan mungkin juga kehadiran siswa tidak tiap hari alias belajarnya pun bergilir. Jadi PJJ masih tetap dibutuhkan untuk menjadi bagian  dalam proses pembelajaran.

"PJJ itu sebagai alternatif  pendekatan saat ini yang dapat dipadukan dengan PTM. Inilah yang disebut blended learning atau hybrid learning, yakni memadukan antara PJJ dan PTM.  Branded learning, atau hybrid learning itu menjadi model pembelajaran saat ini dan ke depan. Saya yakin itu masih harus dipakai," imbuh Cewan.

Dia menambahkan, kalau ada anggarannya, sebaiknya siswa, guru dan tendik itu sebelum masuk di hari pertama masuk sekolah, adakan tes PCR atau antigen antigen. *** (Okky Adiana)


Editor : inilahkoran