Panas Menyengat Bahaya Mendekat
Kemarau tak hanya menghadirkan langit cerah. Di balik musim kering, ancaman datang silih berganti
Berita Terkini, Eksklusif di Channel WhatsApp Inilahkoran.id
Oleh: Yuliantono/Yogo Triastopo
Langit yang cerah belum tentu berarti keadaan aman. Di Jawa Barat, musim kemarau tahun ini tidak hanya membawa tanah yang mulai mengering dan berkurangnya pasokan air.
Di balik teriknya matahari, ancaman lain ikut mengintai, mulai dari angin kencang hingga kebakaran hutan dan permukiman. Saat sebagian warga mulai menanti hujan, pemerintah justru mengingatkan kewaspadaan tak boleh ikut mengering.
Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Jawa Barat mencatat, sepanjang Juni hingga Juli 2026 telah terjadi lima kejadian cuaca ekstrem berupa angin kencang. Peristiwa tersebut terjadi di Kabupaten Bandung, Bandung Barat, Kabupaten Bogor, Cianjur, dan Majalengka.
Pranata Humas Ahli BPBD Jawa Barat, Hadi Rahmat, mengatakan satu orang meninggal dunia akibat cuaca ekstrem pada musim kemarau tahun ini.
"Kalau kejadiannya, di Kabupaten Bandung, Bandung Barat, Kabupaten Bogor, Cianjur sama Majalengka," ujar Hadi saat dihubungi, Senin (27/7).
Korban jiwa tercatat terjadi di Majalengka setelah tertimpa baliho saat angin kencang melanda. "Ada satu kemarin itu, di Majalengka. Akibat tertimpa baliho," ucapnya.
Karena itu, Hadi mengingatkan masyarakat agar tidak menganggap musim kemarau sebagai musim yang bebas dari cuaca ekstrem.
"Jadi tetap harus hati-hati. Hindari kayak diam di bawah pohon besar atau baliho dan sejenisnya. Jadi angin kencang ini terjadi bukan hanya pas saat hujan. Di kemarau juga ada. Jadi diimbau untuk hati-hati," katanya.
Namun, menurut BPBD Jawa Barat, ancaman terbesar pada musim kemarau justru bukan berasal dari alam.
Kepala Pelaksana BPBD Jawa Barat, Teten Ali Mulku Engkun, mengatakan sebagian besar kebakaran hutan dan lahan (karhutla) di Jawa Barat dipicu oleh kelalaian manusia.
"Karhutla tuh di kita biasanya bukan seperti di luar negeri, yang akibat panas berlebihan, bergesekan kemudian menimbulkan api, tapi rata-rata akibat puntung rokok, bikin perapian kemudian lupa dimatikan dan membakar sampah," ungkap Teten.
Karena itu, masyarakat diminta lebih berhati-hati saat beraktivitas di kawasan terbuka, terutama di lahan yang dipenuhi vegetasi kering.
Selain kebakaran hutan, risiko kebakaran permukiman juga meningkat selama musim kemarau. Instalasi listrik yang sudah tua, sambungan kabel yang semrawut, hingga penggunaan daya berlebih menjadi penyebab korsleting yang kerap berujung kebakaran.
"Periksa juga aliran listrik, kira-kira ditemukan listrik yang tidak stabil dan kabel-kabelnya sudah kedaluwarsa segera lakukan perbaikan melalui petugas PLN," ucapnya.
BPBD juga mengingatkan warga agar berhati-hati menggunakan lilin saat terjadi pemadaman listrik.
"Kalau misalnya sekarang ada pemadaman api ya jangan menggunakan lilin yang berdekatan dengan barang-barang yang berbahaya," katanya.
Menurut Teten, karakteristik musim kemarau membuat api jauh lebih mudah membesar karena vegetasi yang mengering dan embusan angin yang mempercepat penyebaran.
"Apalagi yang di daerah pegunungan, jadi kejadian yang kemarin itu (kampung adat) cepat sekali, dalam waktu sejam sudah habis disamping material yang mudah terbakar, kedua anginnya," ujarnya.
Peristiwa yang dimaksud adalah kebakaran di Kampung Adat Kasepuhan Ciptamulya, Kabupaten Sukabumi. Meski demikian, penanganan terhadap warga terdampak terus berjalan.
Pemerintah menyalurkan bantuan logistik, sementara sebagian warga memilih tinggal bersama kerabat sebagai bagian dari tradisi gotong royong.
"Kita support dengan logistik-logistik yang diperlukan dan kita sebetulnya di sana sudah siapkan tenda tapi ada kearifan-kearifan lokal bahwa di sana mereka harus di saudaranya gitu ya, sebagai bagian daripada gotong royong," tutupnya.
Sementara itu, dampak kemarau mulai terasa di Kota Bandung. Meski pasokan air di beberapa wilayah mulai menurun, Pemerintah Kota Bandung memastikan kondisinya masih terkendali.
Wali Kota Bandung Muhammad Farhan mengatakan distribusi air bersih melalui mobil tangki terus dilakukan agar kebutuhan masyarakat tetap terpenuhi.
"Sejauh ini kekeringan ada, tapi bisa teratasi dengan baik melalui distribusi tangki air di daerah-daerah. Tidak ada keluhan. Semuanya terpenuhi," kata Farhan.
Wilayah timur Kota Bandung, khususnya Cibiru Utara, menjadi kawasan yang paling mendapat perhatian karena mulai mengalami penurunan pasokan air.
"Memang biasanya di wilayah timur yang paling ramai. Tahun lalu ada, tapi kita bisa tangani dengan tangki," ujarnya.
Menurut Farhan, sumber mata air di kawasan tersebut kini banyak dimanfaatkan untuk distribusi air bersih sehingga sebagian warga mulai merasakan aliran air yang melemah.
"Di sana ada sumber mata air yang dieksploitasi oleh tangki-tangki. Jadi untuk masyarakat memang ada yang seret, tapi aman sejauh ini," jelasnya.
Dia memastikan hingga kini belum ada kondisi darurat akibat kekeringan. Distribusi air bersih dilakukan hampir setiap hari dengan dukungan PDAM, TNI AD, dan berbagai pihak lainnya.
"Belum ada laporan darurat," tegasnya. "Hampir setiap hari minimal satu tangki dikirim ke salah satu RW. Sejauh ini terpenuhi," jelas Farhan. (gin)
Editor : Inilahkoran

