Pasar Batik Trusmi Mati Suri, Pemkab Cirebon Pusing Tujuh Keliling Cari Formula
Geliat perekomian sentra Pasar Batik Trusmi mati suri. Menurunnya jumlah pengunjung, berimbas pada lesunya penjualan dan membuat nasib pedagang di Cirebon semakin terpuruk.
Berita Terkini, Eksklusif di Channel WhatsApp Inilahkoran.id
INILAHKORAN, Cirebon - Geliat perekomian sentra Pasar Batik Trusmi mati suri. Menurunnya jumlah pengunjung, berimbas pada lesunya penjualan dan membuat nasib pedagang di Cirebon semakin terpuruk.
Kepala Dinas Perdagangan dan Perindustrian (Disdagin) Kabupaten Cirebon Dadang Raiman mengatakan, kondisi sentra Pasar Batik Trusmi mati suri itu berlangsung bertahun-tahun.
"Memang kenyataannya, di Cirebon ini Pasar Batik Trusmi mati suri. Ini karena pembeli lebih memilih ke dalam kawasan Trusmi bukan ke pasarnya," ungkap Dadang, Selasa 30 Juli 2024.
Dadang mengaku, sampai saat ini pihaknya masih mencari formula tepat. Apakah pasar batik akan digabungkan dengan ekonomi kreatif, atau ada konsep lain. Sehingga bisa meningkatkan lagi gairah pedagang dan pengunjung ke sentra pasar batik milik pemerintah daerah tersebut.
Pihaknya sudah berdiskusi dengan Bapelintbangda. Tujuannya, agar di tahun depan pasar batik ini kira-kira bisa lebih ramai lagi.
"Mudah-mudahan nanti kedepan bisa berkolaborasi dengan ekonomi kreatifnya. Kalau terkoneksi, mungkin bisa kembali hidup," ucapnya.
Disinggung apakah ada pemeliharaan aset di Sentra Batik Trusmi, menurutnya anggaran pemeliharaan tahun ini hanya untuk pagar yang roboh dan untuk maintenance yang lainnya.
Namun, tahun sekarang penataan kawasan pasar batik trusmi bisa dilaksanakan. Jalan lainnya, pihaknya juga menggandeng Ruang Diskusi Cirebon (RDC) untuk meramaikan pasar batik.
Sebelumnya, DPRD Kabupaten Cirebon mendorong pemerintah daerah berinovasi dalam mengelola pasar batik trusmi. Pasalnya, tidak sedikit kondisi bangunan pasar batik tidak terawat.
Saat itu, Ketua Komisi II DPRD Kabupaten Cirebon, Hasan Basori menyampaikan, pihaknya mendorong Ruang Diskusi Cirebon (RDC) menjadi tokoh intelektual yang bisa mengkoordinir komunitas. Diharapkan RDC ikut andil mencari formulasinya untuk bisa meramaikan pasar batik.
Editor : Doni Ramdhani

