Pemuda dan Perempuan Lintas Iman Asia Serukan Perdamaian dari Cirebon
Pemuda dan perempuan lintas iman dari sejumlah negara Asia menyerukan penguatan perdamaian dan melawan intoleransi dalam forum di Cirebon.
Berita Terkini, Eksklusif di Channel WhatsApp Inilahkoran.id
INILAHKORAN.ID-Pemuda dan Perempuan Lintas Iman dari sejumlah negara di Asia menyerukan penguatan Perdamaian dan penghentian berbagai bentuk intoleransi serta ekstremisme kekerasan, 25 tahun setelah tragedi 11 September 2001 atau 9/11.
Seruan tersebut mengemuka dalam Regional Learning Exchange bertajuk “Turning the Tide: Christian and Muslim Youth & Women Building Peace in Asia” yang digelar di Cirebon, Jawa Barat, pada 6–11 September 2026.
Kegiatan yang diselenggarakan AMAN Indonesia dan Asian Lay Leaders (ALL) Forum bersama Fahmina Institute dan Kongres Ulama Perempuan Indonesia (KUPI) itu mempertemukan Pemuda, Perempuan, tokoh agama, akademisi, organisasi masyarakat sipil, dan pegiat Perdamaian dari berbagai negara Asia.
Country Representative AMAN Indonesia, Ruby Kholifah mengatakan, dampak tragedi 9/11 tidak hanya mengubah politik dan keamanan global, tetapi juga meninggalkan ketakutan dan ketegangan antarkomunitas.
“Dua puluh lima tahun setelah 9/11, masyarakat Asia masih menghadapi berbagai bentuk polarisasi, intoleransi, ekstremisme kekerasan, diskriminasi dan ketimpangan,” kata Ruby, Sabtu 12 September 2026.
Menurutnya, upaya menciptakan Perdamaian tidak cukup hanya dengan mencegah terjadinya kekerasan. Persoalan ketidakadilan, diskriminasi, eksklusi dan marginalisasi juga harus diselesaikan.
Dalam forum tersebut, Perempuan dan Pemuda didorong mengambil peran lebih besar sebagai pemimpin dan agen Perdamaian di komunitas masing-masing.
Dia menjelaskan, Cirebon dipilih menjadi lokasi kegiatan karena dinilai memiliki pengalaman dalam pengembangan Perdamaian berbasis komunitas, pendidikan Islam inklusif, kepemimpinan Perempuan dalam kehidupan keagamaan, serta hubungan Lintas Iman.
Selama kegiatan, peserta mengunjungi sejumlah lembaga dan pesantren, antara lain Pesantren KHAS Kempek, Pesantren Kebon Jambu Al-Islamy, Fahmina Institute dan CILEM. Mereka juga mengunjungi Keraton Kasepuhan dan Goa Sunyaragi untuk mempelajari sejarah keberagaman budaya Cirebon.
Pertemuan tersebut menghasilkan rencana aksi dan Deklarasi Bersama untuk Perdamaian di Asia. Peserta berkomitmen memperkuat dialog lintas agama, budaya dan generasi, meningkatkan kepemimpinan Perempuan dan Pemuda, serta memperjuangkan hak kelompok marginal dan rentan.
Tokoh Fahmina Institute, KH Husein Muhammad menilai perjumpaan lintas agama seperti yang berlangsung di Cirebon penting diperluas untuk mengurangi prasangka dan potensi permusuhan antarkelompok.
“Saya sudah selalu mengatakan, konflik atau permusuhan di antara kita adalah karena kita tidak mengerti atas yang lain,” ujar Husein.
Ia mendorong organisasi keagamaan, termasuk NU dan Muhammadiyah, semakin aktif membuka ruang perjumpaan antarumat beragama.
Rangkaian kegiatan ditutup pada 11 September 2026 melalui agenda “Healing Memories, Building a Future” di Gereja Katolik Bunda Maria, Kota Cirebon.
Kegiatan diisi refleksi Lintas Iman, doa bersama, pembacaan deklarasi dan pertunjukan Perdamaian.
Forum di Cirebon tersebut menjadi bagian awal dari inisiatif regional selama tiga tahun untuk memperkuat kepemimpinan Pemuda dan Perempuan serta membangun jejaring Perdamaian lintas negara di Asia.***
Editor : JakaPermana

