Wisatawan Cirebon Tembus 2,67 Juta, tapi Rata-rata Menginap Hanya 1,3 Hari

Kunjungan wisatawan ke Kota Cirebon mencapai 2,67 juta pada semester I 2026, tetapi rata-rata lama menginap masih sekitar 1,3 hari.

Wisatawan Cirebon Tembus 2,67 Juta, tapi Rata-rata Menginap Hanya 1,3 Hari
Kunjungan wisatawan ke Kota Cirebon mencapai 2,67 juta pada semester I 2026, tetapi rata-rata lama menginap masih sekitar 1,3 hari.

INILAHKORAN.ID-Tingginya arus Wisatawan ke Kota Cirebon belum sepenuhnya diikuti dengan meningkatnya lama tinggal pengunjung. Di tengah tingginya kunjungan sepanjang 2026, rata-rata tamu Hotel di Kota Cirebon masih menghabiskan waktu sekitar satu hari.

Kondisi tersebut menjadi tantangan bagi pengembangan sektor Pariwisata Kota Cirebon. Pemerintah daerah kini tidak hanya dituntut meningkatkan jumlah kunjungan, tetapi juga mendorong Wisatawan agar memperpanjang masa tinggal sehingga aktivitas Pariwisata memberikan dampak ekonomi yang lebih besar.

Data Badan Pusat Statistik (BPS) Kota Cirebon mencatat rata-rata lama menginap tamu Hotel bintang dan nonbintang pada Maret 2026 mencapai 1,26 hari. Sementara itu, Tingkat Penghunian Kamar (TPK) berada di angka 40,94 persen.

Pada April 2026, rata-rata lama menginap sedikit meningkat menjadi 1,31 hari dengan tingkat hunian Hotel mencapai 41,29 persen.

Angka tersebut menjadi catatan tersendiri jika dibandingkan dengan tingginya arus Wisatawan yang datang ke Kota Cirebon.

Dinas Kebudayaan dan Pariwisata (Disbudpar) Kota Cirebon mencatat sebanyak 2,67 juta kunjungan Wisatawan sepanjang semester I 2026. Jumlah tersebut terdiri atas sekitar 2,65 juta Wisatawan nusantara dan 22.915 Wisatawan mancanegara.

Cirebon Masih Jadi Magnet Wisata Budaya dan Kuliner

Kepala Disbudpar Kota Cirebon Agus Sukmanjaya mengatakan, tingginya kunjungan Wisatawan nusantara menunjukkan Cirebon masih memiliki daya tarik sebagai destinasi wisata budaya, sejarah, dan kuliner.

“Mayoritas kunjungan masih berasal dari Wisatawan nusantara, sedangkan Wisatawan mancanegara juga mulai menunjukkan adanya ketertarikan terhadap destinasi di Kota Cirebon,” kata Agus, Sabtu (12/9/2026).

Menurut Agus, pemerintah daerah terus melakukan promosi destinasi, menggelar berbagai kegiatan budaya, serta meningkatkan pelayanan dan aksesibilitas.

Kolaborasi juga dilakukan bersama pelaku usaha Hotel, restoran, dan komunitas sadar wisata untuk memperkuat ekosistem Pariwisata di Kota Cirebon.

Namun, tingginya angka kunjungan tersebut masih menyisakan pekerjaan rumah. Dengan rata-rata lama tinggal Wisatawan yang baru sekitar 1,3 hari, berbagai potensi wisata sejarah, budaya, kuliner, hingga bahari perlu dikemas lebih menarik agar Wisatawan memiliki alasan untuk memperpanjang kunjungannya.

Semakin lama Wisatawan tinggal di Kota Cirebon, semakin besar pula peluang belanja mereka memberikan dampak terhadap sektor Hotel, restoran, transportasi, pusat oleh-oleh, hingga pelaku UMKM.

Karena itu, peningkatan jumlah kunjungan perlu diimbangi dengan kesiapan destinasi dan berbagai aktivitas wisata yang mampu membuat pengunjung bertahan lebih lama.

Kunjungan Wisatawan Masih Fluktuatif

Wakil Wali Kota Cirebon Siti Farida Rosmawati menyebut capaian kunjungan Wisatawan menjadi indikasi bahwa Cirebon mulai berkembang dari sekadar daerah yang dilewati menjadi salah satu tujuan wisata.

“Ini kabar yang baik bagi Kota Cirebon, bukti bahwa kita juga menjadi kota tujuan wisata,” kata Siti Farida.

Meski demikian, ia mengakui pergerakan Wisatawan tidak selalu stabil. Data BPS menunjukkan pada Maret 2026 tercatat 264,52 ribu perjalanan Wisatawan nusantara menuju Kota Cirebon.

Jumlah tersebut kemudian turun menjadi 236,43 ribu perjalanan pada April atau berkurang 10,62 persen secara bulanan.

“Dengan kondisi tersebut, perkembangan Pariwisata Kota Cirebon memasuki tantangan dan babak baru,” ucap Siti.

Menurutnya, jumlah Wisatawan tidak lagi menjadi satu-satunya indikator keberhasilan sektor Pariwisata. Pemerintah perlu memastikan Wisatawan tinggal lebih lama dan memberikan dampak ekonomi yang lebih besar bagi masyarakat.

“Jumlah Wisatawan bukan lagi satu-satunya ukuran. Yang penting, bagaimana Wisatawan tinggal lebih lama dan memberikan dampak ekonomi yang lebih besar bagi daerah,” pungkasnya.

Dengan demikian, tantangan Pariwisata Kota Cirebon ke depan bukan hanya meningkatkan jumlah Wisatawan, tetapi mengubah tingginya angka kunjungan tersebut menjadi lama tinggal dan perputaran ekonomi yang lebih besar bagi daerah.***


Editor : JakaPermana