Pasar Online dan Modern Bikin Pedagang Tradisional Meradang, Begini Penjelasan Disdagkoperin Kota Cimahi
Kian maraknya pasar modern dan online membuat pedagang pasar tradisional di Kota Cimahi meradang lantaran banyaknya masyarakat yang beralih lantaran dinilai lebih praktis.
Berita Terkini, Eksklusif di Channel WhatsApp Inilahkoran.id
INILAHKORAN, Cimahi - Kian maraknya pasar modern dan online membuat pedagang pasar tradisional di Kota Cimahi meradang lantaran banyaknya masyarakat yang beralih lantaran dinilai lebih praktis.
Kondisi itu dibenarkan Kepala Bidang Perdagangan Dinas Perdagangan Koperasi UMKM dan Perindustrian (Disdagkoperin) Kota Cimahi, Indra Bagjana.
Pihaknya mengakui adanya keluhan para pedagang pasar tradisional soal penurunan omzet sebagai imbas adanya pasar modern dan online.
Kendati demikian, Indra menilai fenomena tersebut bukan hal baru. Sebab, persaingan antara pasar tradisional, modern, dan digital sudah terjadi cukup lama.
"Sekarang memang ada pergeseran pola konsumsi masyarakat, terutama di kalangan rumah tangga muda karena ada persaingan dengan pasar modern, pasar online juga," kata Indra baru-baru ini.
"Yang namanya pasar itu kan intinya tempat pertemuan penjual dan pembeli. Dan itu sekarang ada modifikasinya," sambungnya.
Indra menyebut, ada dua faktor utama yang memengaruhi kondisi pasar tradisional saat ini, yakni selera konsumen dan harga.
Pasar modern, jelas Indra, lebih terorganisir dalam hal harga dan pelayanan. Misalnya, harga beras premium yang dibanderol dengan harga pasti di toko ritel.
"Harga di pasar modern itu bersaing ketat. Contoh misalnya HET. Beras premium HET Rp14.900 per kilo, 5 kilogram Rp74.500. Itu dipatuhi di pasar modern. Yang agak sulit di pasar tradisional itu, kadang-kadang harga itu tidak ada bandrolnya," jelasnya.
Kendati ada fenomena pergeseran konsumen, terang Indra, namun bukan berarti pasar tradisional kehilangan seluruh basis pelanggannya, sebab masing-masing kanal distribusi memiliki ceruk pasar yang berbeda.
"Jadi tidak serta-merta pasar modern nanti mengambil konsumennya pasar tradisional. Saya melihatnya tidak begitu, hanya memang pergeseran pola konsumen memang betul terjadi. Misalnya rumah tangga-rumah tangga muda," terangnya.
Lebih lanjut Indra menuturkan, konsumen berusia 20-30 tahun itu lebih suka berbelanja secara online atau di toko modern dengan alasan praktis dan efisiensi waktu. Namun itu tak berarti membuat pasar tradisional sepi total.
"pasar tradisional itu dianggap menurun. Bukan sepi, ya, menurun, kalau disebut sepi mah tidak lah. Apalagi datangnya subuh sampai pagi-pagi. Maksimal jam 8 itu masih hidup," tuturnya.
Menurut Indra, pasar tradisional memiliki waktu prime time tersendiri yang tidak dimiliki pasar modern, yakni dari dini hari hingga pagi hari.
"Itu salah satunya kenapa toko modern itu diatur bukanya jam 10. Karena prime time pasar tradisional itu dari subuh sampai jam 8-an," tandasnya.***
Editor : JakaPermana


