Pascalebaran Harga Cabai Rawit di KBB Masih Tinggi, Tembus Rp90 Ribu per Kilo

Beberapa harga kebutuhan pokok pascalebaran di KBB masih tinggi salah satunya cabai rawit yang tembus Rp90 ribu per kilogram

Pascalebaran Harga Cabai Rawit di KBB Masih Tinggi, Tembus Rp90 Ribu per Kilo
Pascalebaran harga beberapa kebutuhan pokok di sejumlah pasar tradisional di KBB masih tinggi, salah satunya cabai rawit yang tembus Rp90 ribu per kilogram. Foto istimewa

INILAHKORAN.ID – Pascamomen Lebaran 2026, sejumlah komoditas kebutuhan pokok di pasar tradisional Kabupaten Bandung Barat (KBB) masih tercatat berada pada level tinggi, meskipun sebagian jenis telah menunjukkan tren penurunan dibandingkan periode pekan sebelumnya. 

Kondisi tersebut membuat sebagian masyarakat harus menyesuaikan pola pembelian kebutuhan pokok sehari-hari. Bahkan, di beberapa pasar tradisional, harga cabai rawit eceran saat ini berkisar Rp90.000 per kilogram. 

Angka tersebut memang turun signifikan dari puncaknya yang sempat menyentuh Rp120.000 per kilogram, namun masih tergolong mahal bagi sebagian kalangan.
 
Sementara itu, harga minyak goreng curah mengalami kenaikan menjadi Rp23.000 per kilogram. Untuk kemasan ukuran di bawah satu liter, dijual dengan harga sekitar Rp20.000 per unit.
 
Pada kelompok komoditas protein, harga daging ayam tetap berada di angka Rp40.000 per kilogram. Sedangkan daging sapi diperjualbelikan pada kisaran harga Rp140.000 hingga Rp150.000 per kilogram.
 
Kenaikan dan fluktuasi harga ini mulai mengganggu anggaran rumah tangga. Ita (43), salah satu pembeli di pasar tradisional mengaku terpaksa mengurangi jumlah pembelian akibat ketidakstabilan harga.
 
“Sekarang apa-apa serba mahal, terutama cabai dan minyak goreng. Saya terpaksa mengurangi jumlah belanja agar bisa mengalokasikan uang untuk kebutuhan lain,” kata Ita, Senin 30 Maret 2026.
 
Menurutnya, tekanan harga sudah terasa sejak menjelang Hari Raya Idulfitri tahun ini dan hingga saat ini belum kembali ke level normal. 

“Harapannya harga bisa cepat turun lagi karena kebutuhan dapur itu setiap hari ada,” ucapnya.
 
Sementara itu, salah seorang pedagang cabai rawit, Fitri (30) menjelaskan, fluktuasi harga terjadi akibat keterbatasan pasokan dari petani. 

harga memang sudah turun dari Rp120.000 menjadi Rp90.000 per kilogram, tapi masih tinggi karena pasokan belum banyak,” jelasnya.
 
Fitri mengakui, dirinya tidak berani menyetok dalam jumlah besar untuk menghindari risiko kerugian akibat pembusukan. 

“Saya hanya mengambil stok secukupnya saja agar tidak terjebak barang tidak terjual,” katanya.
 
Rudi (35), pedagang daging ayam mangatakqn, harga yang masih tinggi dipengaruhi oleh harga pembelian dari distributor yang belum mengalami penurunan. 

harga dari pemasok masih tinggi, jadi kami juga harus menjual sesuai dengan itu. Pembeli ada, tapi jumlahnya tidak sebanyak biasanya,” ungkapnya.
 
Rudi menyebut, sebagian besar pembeli kini memilih membeli dalam jumlah lebih kecil. 

“Biasanya mereka membeli satu kilogram, tapi sekarang banyak yang hanya mengambil setengah kilogram saja,” ujarnya.***


Editor : Ahmad Sayuti