Pemprov Jabar Dorong Industri Naik Kelas, Fokus Hilirisasi hingga Rantai Pasok Lokal
Pemprov Jabar menegaskan komitmennya mendorong sektor industri agar tidak lagi bertumpu pada nilai tambah rendah.
Berita Terkini, Eksklusif di Channel WhatsApp Inilahkoran.id
INILAHKORAN.ID - Pemprov Jabar menegaskan komitmennya mendorong sektor industri agar tidak lagi bertumpu pada nilai tambah rendah.
Transformasi menuju industri berdaya saing, inklusif, dan berkelanjutan menjadi agenda utama yang disepakati Pemprov Jabar dalam Forum Industri Jawa Barat bertajuk Temu Industri dalam Kerangka Pembangunan Industri Kreatif, Berdaya Saing, dan Berkelanjutan di Gedung Pakuan, Kamis (23/4/2026).
Kepala Disperindag Jabar Nining Yuliastiani menegaskan, forum itu menjadi ruang strategis untuk memperkuat komunikasi dan kolaborasi lintas sektor mulai dari pelaku industri hingga pemerintah pusat dan daerah.
“Untuk bersama-sama menyelesaikan hal yang berkaitan dengan industri di Jabar,” ujar Nining.
Mengingat, sektor industri masih menjadi tulang punggung ekonomi Jabar dengan kontribusi lebih dari 50 persen terhadap pertumbuhan ekonomi daerah.
“Jika industri berkembang dengan baik, maka pertumbuhan ekonomi Jawa Barat juga akan meningkat dan memberikan banyak dampak lanjutan,” katanya.
Menurutnya, dampak tersebut tidak hanya mendorong pertumbuhan ekonomi, tetapi juga memperluas penyerapan tenaga kerja serta mengoptimalkan pemanfaatan sumber daya lokal.
“Melalui pertemuan ini, program pemerintah seperti hilirisasi dan penguatan rantai pasok lokal juga dapat didorong,” ungkapnya.
Namun demikian, Nining mengakui tantangan besar masih membayangi sektor industri di Jabar, terutama terkait rendahnya nilai tambah produk.
“Banyak industri yang masih bersifat perakitan atau memproduksi barang sederhana, sehingga nilai jual dan daya saingnya rendah, terutama untuk ekspansi ekspor. Hal ini yang ingin disamakan persepsinya dalam pertemuan ini,” jelasnya.
Dalam forum tersebut, disepakati empat komitmen utama sebagai arah kebijakan industri ke depan. Pertama, peningkatan kualitas dan penyerapan tenaga kerja lokal.
“Kedua, peningkatan kemitraan dengan UMKM dan industri besar untuk membangun rantai pasok lokal yang terintegrasi. Dengan demikian, ketergantungan terhadap bahan baku impor maupun bahan penolong dapat dikurangi melalui pemanfaatan sumber daya lokal,” tuturnya.
Komitmen berikutnya adalah mendorong implementasi industri hijau sebagai bagian dari keberlanjutan usaha.
“Ketiga, mendorong implementasi industri hijau. Industri diharapkan tetap memperhatikan keberlanjutan lingkungan agar keberlangsungan usahanya dapat terjaga,” tambahnya.
Adapun poin terakhir menegaskan pentingnya pembangunan industri yang inklusif.
“Keempat, pengembangan industri yang inklusif dan berkelanjutan,” pungkas Nining.
Editor : Doni Ramdhani

