Pemprov Jabar Kucurkan Rp121 Miliar untuk Operasional Metro Jabar Trans

Metro Jabar Trans (MJT) resmi mengaspal per hari ini, Rabu 1 Januari 2025.  Total, ada enam rute utama di wilayah Kota Bandung, Bandung Barat, Kabupaten Bandung dan Jatinangor Sumedang. 

Pemprov Jabar Kucurkan Rp121 Miliar untuk Operasional Metro Jabar Trans
Metro Jabar Trans (MJT) resmi mengaspal per hari ini, Rabu 1 Januari 2025.  Total, ada enam rute utama di wilayah Kota Bandung, Bandung Barat, Kabupaten Bandung dan Jatinangor Sumedang. 
INILAHKORAN, Bandung - Metro Jabar Trans (MJT) resmi mengaspal per hari ini, Rabu 1 Januari 2025.  Total, ada enam rute utama di wilayah Kota Bandung, Bandung Barat, Kabupaten Bandung dan Jatinangor Sumedang. 
Adapun rutenya yakni Leuwipanjang – Soreang, Kota Baru Parahyangan – Alun-alun Bandung, BEC – Baleendah, Leuwipanjang – Dago, Dago – Jatinangor dan Leuwipanjang – Majalaya.
Metro Jabar Trans ini merupakan nama baru, yang diluncurkan Pemerintah Provinsi Jabar untuk mengganti Trans Metro Pasundan yang sudah melayani masyarakat sejak 2021. 
Enam rute utama di cekungan Bandung itu dilayani 85 unit BRT Metro Jabar Trans dengan tarif Rp4.900 untuk umum dan Rp2.000 untuk pelajar dan lansia. 
Plh Kepala Dinas Perhubungan (Kadishub) Jabar Ade Afriandi mengatakan, perubahan nama ini dilakukan lantaran mulai 2025 pembiayaannya ditanggung Pemerintah Provinsi Jabar. 
"Pelayanan untuk bus rapid transit berjalan, hanya kemarin dengan Kemenhub per 1 Januari 2025 pembiayaannya menjadi tanggung jawab Pemprov, dibiayai sendiri, yang kemarin itu dari kementerian biayanya," ujar Ade, Rabu 1 Januari 2025.
Tahun ini, Pemprov Jabar mengalokasikan anggaran sebesar Rp. 121 miliar dari Anggaran Pendapatan Belanja Daerah (APBD) untuk operasional BRT Metro Jabar Trans meliputi subsidi tarif, BBM, listrik (Bus Listrik) sopir, sarana prasarana dan pemeliharaan armada.
"Untuk operasional setahun itu Rp 121 miliar, tahun yang akan datang harus ada sharing dengan kabupaten/kota yang Bandung Raya," katanya. 
Skema sharing ini, kata dia, masih dalam perhitungan dan akan diputuskan oleh masing-masing Kepala daerah terpilih di wilayah cekungan Bandung Raya. 
"Nanti di akhir 2025 tentu harus dipersiapkan anggaran yang sharing nanti untuk 2026," ucapnya.
Dishub sendiri memperkirakan Metro Jabar Trans dapat dipergunakan sekitar 17.848 penumpang. Jumlah itu, kata dia, bakal terus meningkat seiring dengan penyempurnaan BRT hingga 2027.
"Itu dibangun 2025 ya secara bertahap. Jadi, dari mulai jalan, halte, rambu-rambu, depo, kemudian sistemnya. Jadi, turun di mana, naik di mana, kita sudah tahu jam berapa dan sebagainya. Tahun 2025 juga, tugas kita lebih banyak mensosialisasikan, karena baru kemungkinan pada 2027, yang betul-betul seluruh pelayanan bisa terintegrasi," ucapnya.
Menurut pantauan di halte Alun-alun Bandung, masih banyak BRT yang tulisannya Trans Metro Pasundan, meski sudah diubah menjadi Metro Jabar Trans oleh Pemprov Jabar. 
Dimusim liburan ini, BRT relatif ramai digunakan wisatawan lokal untuk menuju kawasan Alun-alun Bandung dan sekitarnya.
Salah satunya Aep (38) warga Cimareme, Kabupaten Bandung yang mengaku belum tahu, jika BRT berubah nama dari Trans Metro Pasundan menjadi Metro Jabar Trans
"Belum tahu ya, emang bedanya apa," ujar Aep saat ditemui di Alun-alun, Kota Bandung. 
Aep mengaku sering menggunakan BRT untuk bepergian dari Padalarang ke Kota Bandung menggunakan BRT rute Kota Baru Parahyangan - Alun-alun Bandung.
"Nyaman sih, murah juga ongkosnya. Cuma waktu tempuhnya saja yang tidak pasti karena kadang macet di jalannya," ungkapnya. ***


Editor : JakaPermana