Pemprov Jabar Minta SPPG Kurangi Sampah Makanan dari MBG

Pemerintah Provinsi Jawa Barat bakal menemui pengelola Satuan Pelayanan Pemenuhan Gizi (SPPG), agar bersama-sama membantu mengurangi sampah makanan

Pemprov Jabar Minta SPPG Kurangi Sampah Makanan dari MBG
Sekretaris Daerah (Sekda) Jabar, Herman Suryatman

INILAHKORAN.ID - Pemerintah Provinsi Jawa Barat bakal menemui pengelola Satuan Pelayanan Pemenuhan Gizi (SPPG), agar bersama-sama membantu mengurangi Sampah makanan.

Sekretaris Daerah (Sekda) Jabar, Herman Suryatman mengatakan, sejauh ini memang pihaknya belum mengetahui seberapa banyak limbah Sampah makanan dari program Makan Bergizi Gratis (MBG).

"Kami akan konsolidasi dengan pengelola SPPG ini. Sampah dari SPPG ini kan Sampah makanan. Tapi kami belum tahu angka persis," ujar Herman dikutip Rabu 25 Februari 2026.

Hanya saja dia menduga, ada dampak terhadap penambahan Sampah dari MBG karena seperti Kota Bandung, yang meminga penambahan kuota ritase pembuangan Sampah ke TPPAS Sarimukti, Kabupaten Bandung Barat.  

"Yang jelas dari kota Bandung, dari berbagai kabupaten/kota meminta tambah ritase dan kami bertahan (menolak). Masa ritase ditambah, sementara di hulu tidak ada penanganan serius. Nanti yang jebolnya Sarimukti," ucapnya.  

Meski belum pasti adanya lonjakan Sampah dari program MBG, Pemprov Jabar kata dia, tetap berkomitmen mendorong pengurangan Sampah dari hulu.  

"Saya tidak paham, yang jelas Kota Bandung minta tambahan ritase. Tapi saya bilang, hulunya dihajar juga. Misalnya kita mulai dari rumah makan, restoran, hotel. Pokoknya tidak boleh ada siapapun yang makan di restoran di Kota Bandung yang menyisakan makanan," ujarnya.  

Menurutnya pengurangan Sampah ini dapat dilakukan. Maka dari itu dia mendorong ada kedisiplinan baik dari pemilik usaha makanan maupun pembeli, dalam mengurangi Sampah.

 "Karena saya sudah cek ke puluhan restoran, sebagian besar itu yang makan di restoran bersisa. Bayangkan Kota Bandung ada berapa ribu restoran, dikalikan saja. Ya kan? Kalau saja kita disiplin untuk hal itu di restoran, di hotel kemudian masuk ke rumah tangga, bisa. Walaupun saya paham susah, karena menyangkut perilaku tapi harus," ungkapnya.  

Saat ini lanjut Herman, harus dibangun optimisme bersama bahwa Sampah bisa dikurangi dengan langkah konkrit, supaya tidak terjadi ledakan Sampah di Bandung Raya.

 "Ini PR bersama. Tapi saya optimis. Sarimukti sudah meledak, kan kita rugi semua. Tidak boleh terjadi ledakan Sampah di Cekunhan Bandung. Caranya, ya maksakeun maneh, ngelola Sampah dari rumah tangga," tandasnya. ***


Editor : JakaPermana