Pendengaran Rusak Bisa Terjadi Lebih Cepat, Ini Tanda yang Sering Diabaikan
Dikutip dari laporan BBC Future, gangguan pendengaran tidak lagi hanya dialami lansia. Para ahli kini mulai menemukan kasus serupa pada remaja hingga anak-anak.
Berita Terkini, Eksklusif di Channel WhatsApp Inilahkoran.id
INILAHKORAN.ID - Dikutip dari laporan BBC Future, gangguan pendengaran tidak lagi hanya dialami lansia. Para ahli kini mulai menemukan kasus serupa pada remaja hingga anak-anak, sebagian dipicu oleh paparan suara keras yang terjadi setiap hari tanpa disadari.
Menurut pakar audiologi di Cleveland Clinic, Valerie Pavlovich Ruff, kerusakan pendengaran bersifat permanen. Sel rambut di dalam koklea yang berfungsi menangkap suara tidak dapat tumbuh kembali setelah rusak. Karena itu, pencegahan menjadi satu-satunya cara menjaga kemampuan mendengar dalam jangka panjang.
Paparan suara keras tidak hanya berasal dari konser musik. Kebiasaan mendengarkan musik menggunakan earphone dengan volume tinggi, menggunakan mesin pemotong rumput, mengendarai motor, hingga berkendara dengan jendela mobil terbuka di jalan tol juga dapat memberikan paparan kebisingan yang berisiko merusak telinga apabila terjadi terus-menerus.
Gangguan pendengaran biasanya muncul secara perlahan sehingga banyak orang tidak menyadarinya. Salah satu tanda awal yang perlu diwaspadai adalah telinga berdenging setelah berada di lingkungan yang bising. Selain itu, seseorang mulai kesulitan mengikuti percakapan di tempat ramai atau sering meminta lawan bicara mengulang ucapannya.
Penelitian juga menunjukkan gangguan pendengaran pada usia lanjut berkaitan dengan meningkatnya risiko penurunan fungsi kognitif dan demensia. Meski hubungan sebab akibatnya masih terus diteliti, para ahli sepakat bahwa menjaga pendengaran sejak muda menjadi investasi kesehatan di masa depan.
Karena itu, penggunaan pelindung telinga saat berada di lingkungan bising, membatasi volume earphone, serta segera memeriksakan pendengaran ketika muncul gejala menjadi langkah yang disarankan untuk mencegah kerusakan lebih lanjut.
Editor : Doni Ramdhani


