Penerima Bantuan Pangan di Kota Bandung Turun 2 Persen, Bulog Siapkan 4.900 Ton Beras
Penerima bantuan pangan di Kota Bandung turun 2 persen menjadi sekitar 143.000 orang. Bulog menyiapkan 4.900 ton beras untuk penyaluran hingga September 2026.
Berita Terkini, Eksklusif di Channel WhatsApp Inilahkoran.id
INILAHKORAN.ID - Jumlah penerima bantuan pangan alokasi Juli-September 2026 di Kota Bandung, mengalami penurunan sekitar 2 persen dibandingkan alokasi sebelumnya. Meski demikian, penyaluran bantuan tetap dilakukan kepada sekitar 143.000 penerima.
Pemimpin Perum Bulog Kantor Cabang Bandung Kanwil Jawa Barat, Yanto Nurdianto mengatakan, penyaluran bantuan pangan merupakan penugasan dari badan pangan nasional (Bapanas).
“Terkait bantuan pangan ini, Bulog memang mendapat penugasan dari badan pangan nasional untuk menyalurkan bantuan pangan alokasi Juli sampai September 2026,” kata Yanto Nurdianto, Kamis (27/8/2026).
Menurutnya, sebelum penyaluran dilakukan. Bulog bersama Dinas Ketahanan Pangan dan Pertanian (DKPP) dan Dinas Sosial (Dinsos) Kota Bandung telah melakukan pemeriksaan kualitas beras di gudang pada pekan lalu.
“Setelah proses pemeriksaan kualitas selesai, penyaluran mulai dilakukan pada minggu ini. Saat ini penyaluran sudah berlangsung di empat kecamatan dari total 30 kecamatan di Kota Bandung,” ucapnya.
Yanto menargetkan, seluruh bantuan pangan Kota Bandung dapat tersalurkan hingga 20 September 2026. Setiap penerima memperoleh bantuan berupa 10 kilogram beras untuk alokasi tersebut.
Dengan jumlah penerima sekitar 143.000 orang, Bulog menyiapkan kurang lebih 4.900 ton beras memenuhi kebutuhan bantuan pangan di Kota Bandung.
“Kalau jumlah penerimanya sekitar 143.000 dan masing-masing mendapatkan 10 kilogram per alokasi, totalnya kurang lebih 4.900 ton beras untuk Kota Bandung,” ucapnya.
Terkait berkurangnya jumlah penerima, dia menegaskan Bulog tidak memiliki kewenangan menentukan maupun mengubah data penerima bantuan pangan. Data tersebut, diterima Bulog berdasarkan data tunggal sosial ekonomi dari Kementerian Sosial.
“Jadi, terkait dengan adanya penurunan jumlah penerima, itu bukan ranah Bulog. Bulog dalam hal ini bertugas menyediakan beras dan menyalurkannya sesuai data penerima yang diberikan,” ujar dia.
Dia mengatakan, perubahan jumlah penerima baik kenaikan maupun penurunan menjadi kewenangan Kementerian Sosial. Karena itu, Bulog tidak mengetahui secara detail alasan perubahan data penerima pada setiap periode.
“Jadi, kami di Bulog tidak mengetahui secara detail alasan kenapa jumlah penerima bisa turun atau naik karena data tersebut berasal dari kementerian terkait,” jelasnya.
Bagi masyarakat yang tidak lagi menerima bantuan pangan, Bulog memiliki program stabilisasi pasokan dan harga pangan (SPHP). Program tersebut, memungkinkan masyarakat memperoleh beras dengan harga di bawah harga eceran tertinggi (HET).
Yanto menjelaskan, harga beras SPHP di gudang Bulog berada di kisaran Rp11.000 per kilogram. Sementara melalui toko pengecer dan saluran distribusi lainnya, masyarakat dapat memperoleh beras sekitar Rp12.500 per kilogram.
“Melalui SPHP, beras dijual dengan harga di bawah harga eceran tertinggi. Di gudang Bulog, harganya sekitar Rp11.000 per kilogram. Kemudian melalui toko pengecer dan saluran distribusi lainnya, masyarakat bisa memperoleh beras dengan harga sekitar Rp12.500 per kilogram,” tutur dia.
Sementara itu, Kepala DKPP Kota Bandung Gin Gin Ginanjar mengatakan, pemerintah memastikan bantuan pangan diberikan kepada penerima sesuai data yang telah ditetapkan. Selain itu, kualitas dan kuantitas beras yang disalurkan juga menjadi perhatian.
Dia menilai, bantuan pangan dapat membantu masyarakat menghadapi kondisi ketika daya beli mengalami tekanan. Bantuan beras dinilai dapat mengurangi pengeluaran rumah tangga untuk kebutuhan pangan.
“Bantuan ini bisa menjadi daya ungkit untuk mengurangi pengeluaran masyarakat. Jadi, di satu sisi pengeluaran masyarakat berkurang, sementara di sisi lain bantuan ini juga bisa membantu mengendalikan inflasi dan gejolak harga,” kata Gin Gin Ginanjar.
Dia berharap, program bantuan pangan dapat kembali dilanjutkan setelah September 2026. bantuan pangan tersebut, merupakan periode kedua setelah sebelumnya dilaksanakan pada Februari-Maret.
“Kita berharap bantuan ini bisa terus berlanjut. Ini merupakan periode kedua. Periode pertama berlangsung pada Februari-Maret dan sudah selesai,” ucapnya.
Gin Gin mengatakan, pada periode Februari-Maret. Bantuan yang diberikan tidak hanya berupa beras, tetapi juga minyak goreng. Sedangkan untuk periode Juli-September 2026, bantuan yang disalurkan berupa beras.
“Kita berharap setelah September nanti, program ini bisa kembali berlanjut dan ada lagi bantuan seperti tahun sebelumnya. Pada 2025, bantuan beras ini bahkan berlangsung sampai sembilan bulan berturut-turut,” tandas dia.
Editor : Ahmad Sayuti

