Pengabdian APIK PTMA 2025 di Desa Trijaya: Membangun Masyarakat Tangguh Bencana Lewat Edukasi dan Simulasi

Silaturahmi Nasional APIK PTMA 2025, Asosiasi Pendidikan Ilmu Komunikasi Perguruan Tinggi Muhammadiyah dan Aisyiyah (APIK PTMA) 2025 turut menggelar kegiatan pengabdian masyarakat di Desa Trijaya, Kabupaten Kuningan sebagai bagian dari upaya membangun masyarakat tangguh bencana

Pengabdian APIK PTMA 2025 di Desa Trijaya: Membangun Masyarakat Tangguh Bencana Lewat Edukasi dan Simulasi
Sebagai bagian dari rangkaian kegiatan Silaturahmi Nasional APIK PTMA 2025, Asosiasi Pendidikan Ilmu Komunikasi Perguruan Tinggi Muhammadiyah dan Aisyiyah (APIK PTMA) menyelenggarakan kegiatan pengabdian kepada masyarakat bertema "Peningkatan Kapasitas Mitigasi Bencana Berbasis Masyarakat" di Desa Trijaya, Kecamatan Mandirancan, Kabupaten Kuningan, Jawa Barat.

INILAHKORAN,Cirebon- Sebagai bagian dari rangkaian kegiatan Silaturahmi Nasional APIK PTMA 2025, Asosiasi Pendidikan Ilmu Komunikasi Perguruan Tinggi Muhammadiyah dan Aisyiyah (APIK PTMA) menyelenggarakan kegiatan pengabdian kepada masyarakat bertema "Peningkatan Kapasitas Mitigasi Bencana Berbasis Masyarakat" di Desa Trijaya, Kecamatan Mandirancan, Kabupaten Kuningan, Jawa Barat.

Kegiatan ini merupakan wujud nyata implementasi Tri Dharma Perguruan Tinggi, khususnya dalam membangun kesadaran dan ketangguhan masyarakat desa terhadap risiko bencana alam. Desa Trijaya dipilih karena berada di wilayah perbukitan yang rawan terhadap bencana hidrometeorologi seperti banjir dan tanah longsor, ditambah dengan keterbatasan sistem peringatan dini dan minimnya pelatihan kebencanaan sebelumnya.

Bertempat di Bumi Perkemahan Huludayeuh, kegiatan yang digelar pada Minggu, 22 Juni 2025 diikuti  sekitar 50 peserta dari berbagai unsur masyarakat, mulai dari aparat desa, tokoh masyarakat, pemuda, pelajar, ibu rumah tangga, hingga kelompok rentan seperti perempuan dan lansia.

Rangkaian kegiatan meliputi edukasi kebencanaan, pelatihan penggunaan alat mitigasi sederhana, hingga simulasi evakuasi. Materi disampaikan oleh tim relawan Tagana serta peserta APIK PTMA dari berbagai kampus. "Masyarakat perlu dibekali pemahaman yang tepat tentang potensi bencana dan cara meresponsnya. Simulasi seperti ini sangat dibutuhkan," ujar salah satu relawan.

Sekretaris APIK PTMA, Agus Triyono dari UM Surakarta, menegaskan, kegiatan pengabdian ini merupakan langkah strategis dalam memperkuat sinergi antara perguruan tinggi, pemerintah desa, dan warga dalam membangun kesiapsiagaan komunitas. "Mitigasi bencana tidak bisa dilakukan satu pihak. Perlu kolaborasi yang partisipatif, dan itulah semangat dari kegiatan hari ini," jelasnya.

Selain kegiatan lapangan, tim pengabdian juga tengah menyusun modul pelatihan mitigasi bencana berbasis komunitas yang akan diajukan sebagai Hak Kekayaan Intelektual (HAKI). Modul ini akan disesuaikan dengan konteks desa dan ditulis dengan pendekatan bahasa sederhana dan ilustratif. Tak hanya itu, video animasi edukatif berdurasi 3–5 menit juga akan diproduksi sebagai media penyuluhan berkelanjutan.

Ketua Program Studi Ilmu Komunikasi Universitas Muhammadiyah Cirebon (UMC), Ida Ri’aeni, selaku tuan rumah Silat APIK 2025, menyampaikan harapannya agar kegiatan ini menjadi pemicu transformasi budaya tanggap bencana di desa. "Kami ingin meninggalkan jejak yang berdampak, bukan hanya seremonial. Ini adalah kontribusi komunikasi strategis untuk kemanusiaan," tegasnya.

Ketua APIK PTMA, Dr. Choirul Fajri menambahkan, kegiatan Pengabdian Masyarakat mampu menjadi model pelibatan masyarakat dalam pengurangan risiko bencana dan memperkuat ketahanan sosial secara kolektif. 

Menurutnya, Silat APIK PTMA tidak hanya menjadi forum ilmiah, tetapi juga penggerak nyata perubahan di tengah masyarakat. Choirul Fajri juga mengapresiasi semangat dan kebersamaan seluruh perwakilan universitas yang hadir yakni Universitas Muhammadiyah Sidoarjo, UM Malang, UM Jakarta, UHAMKA Jakarta, Universitas Saintek Muhammadiyah Jakarta, UM Yogyakarta, Universitas Ahmad Dahlan (UAD) Yogya, Universitas ‘Aisyiyah (Unisa) Yogyakarta, UM Bengkulu, UM Lampung, UM Maluku Utara, UM Makassar, UM Buton, UM Cileungsi, UM Klaten, UM Ponorogo, UM Karanganyar, UM Bandung, UM Magelang, UM Surakarta, dan UM Riau.

Kehadiran perwakilan tersebut lanjutnya menunjukkan semangat gotong royong dan solidaritas akademik yang kuat dalam upaya pengurangan risiko bencana. "Kegiatan ini tidak hanya meningkatkan kapasitas warga, tapi juga memperkuat relasi antarkampus sebagai jejaring komunikasi yang aktif dan peduli," pungkasnya.***


Editor : Ghiok Riswoto