Penyakit Tak Menular Ancam Pembangunan Kesehatan Nasional
INILAH, Jakarta - Penyakit tidak menular (PTM) menjaINILAH, Jakarta - Penyakit tidak menular (PTM) menjadi ancaman terbesar pembangunan kesehatan nasional saat ini. di ancaman terbesar pembangunan kes
Berita Terkini, Eksklusif di Channel WhatsApp Inilahkoran.id
INILAH, Jakarta - Penyakit tidak menular (PTM) menjadi ancaman terbesar pembangunan kesehatan nasional saat ini.
Berdasarkan data Kementerian Kesehatan sejak awal tahun 2000 sebab kematian akibat PTM seperti jantung, kanker, dan gula jauh lebih tinggi dibandingkan dengan penyakit menular.
Kepala Subdit Diabetes Melitus dan Gangguan Metabolik, Direktorat Pencegahan dan Pengendalian Penyakit Tidak Menular, Kementerian Kesehatan, Prima Yosepin mengatakan, kemajuan teknologi yang cepat di Indonesia turut memberikan sumbangsih terhadap kesehatan. Itu karena menyuguhkan berbagai kemudahan bagi manusia yang rupanya menjadi penyebab datangnya penyakit di tubuh.
“Penyakit terbagi dua pertama penyakit tidak menular dan penyakit menular, dimana penyakit tidak menular ini justru lebih berbahaya dibanding penyakit menular, kalau penyakit menular pasti takut deket deket dengan orangnya karena pasti menularkan. Sementara penyakit tidak menular memang kayaknya ringan tidak menularkan ini justru sangat berbahaya,” tutur Prima di Jakarta, Selasa (18/12/2018).
Dia menjelaskan, PTM dianggap berbahaya karena jika sekali menyerang tubuh maka seumur hidup kita akan berhadapan terus dengan penyakit itu. Belum lagi jika terjadi komplikasi penyakit di dalam maka yang terjadi berikutnya adalah pengobatan yang semakin sulit dengan tingkatan biaya yang semakin tinggi.
Menurut Prima, PTM dapat dicegah melalui perubahan gaya hidup yang lebih sehat. Alasannya, karena penyakit yang tergolong katastropik ini memang kebanyakan disebabkan gaya hidup yang tidak seimbang yakni terlalu banyak makan, kebanyakan duduk karena faktor pekerjaan, merokok, dan kurangnya aktivitas fisik seperti olahraga.
Yang lebih parah, kata Prima, mayoritas penderita penyakit tidak menular tidak sadar dirinya sedang menimbun bom waktu yang hanya tersadarkan saat kondisinya sudah sangat parah.
"Pemerintah mengeluarkan peraturan kepada masyarakat untuk mengatur kadar konsumsi gula sebanyak empat sendok makan, garam satu sendok teh, dan lema lima sendok makan untuk mencegah masyarakat terserang PTM," kata Prima.
Sementara Head of Corporate Communications PT Unilever Indonesia, Maria Dewantini Dwianto mengatakan, pola makan banyak rupanya bisa jadi disebabkan karena faktor stres, sehingga kemudian memunculkan emotional eating. Dia menjelaskan, secara psikologis ketika sedang berada di bawah tekanan maka tubuh akan bereaksi untuk mencari sesuatu yang lebih baik sebagai mekanisme pertahanan.
Menurutnya setiap orang memang memiliki insting untuk bereaksi menyeimbangkan kembali hal-hal yang tidak sesuai di dalam tubuhnya. Kami memahami adanya fenomena emotional eating. Maka dari itu pihaknya memberikan edukasi kepada masyarakat untuk mewaspadai asupan gula, garam, dan lemak melalui lebel informasi di setiap produk kami.
"Kami berharap melalui edukasi dan inovasi produk yang kami miliki bisa membantu masyarakat Indonesia untuk meningkatkan kesehatan masyarakat, sehingga mendukung terciptanya Indonesia sehat," kata Maria.
Editor : inilahkoran

