Penyebab Keracunan Massal Warga Tipar Masih Misterius Lantaran Pengambilan Sampel Makanan Tak Sesuai SOP Labkesda
Dinas Kesehatan (Dinkes) Kabupaten Bandung Barat (KBB) mengaku tak bisa mengetahui penyebab keracunan massal yang menimpa 83 warga Kompleks Tipar Silih Asih, RW 17, Desa Laksanamekar, Kecamatan Padalarang beberapa waktu lalu lantaran sampel makanan yang dikirim ke laboratorium telah melebihi batas waktu.
Berita Terkini, Eksklusif di Channel WhatsApp Inilahkoran.id
INILAHKORAN, Ngamprah - Dinas Kesehatan (Dinkes) Kabupaten Bandung Barat (KBB) mengaku tak bisa mengetahui penyebab keracunan massal yang menimpa 83 warga Kompleks Tipar Silih Asih, RW 17, Desa Laksanamekar, Kecamatan Padalarang beberapa waktu lalu lantaran sampel makanan yang dikirim ke laboratorium telah melebihi batas waktu.
Plt Kepala Dinkes KBB Deni Achmad menjelaskan, sampel makanan yang akan diuji idealnya dikirim ke laboratorium dua hari setelah peristiwa keracunan massal di Tipar terjadi.
"Hal itu dilakukan agar mencegah bias terhadap sampel makanan," kata Deni saat dikonfirmasi, Minggu 14 Juli 2024.
Kendati demikian, Deni menyayangkan kasus keracunan di Tipar justru baru diketahui 3 hari pasca kejadian sehingga sampel makanan yang dikirim tak dapat diperiksa.
"Untuk hasil laboratorium di Tipar, tidak dapat dinilai. Karena menurut SOP, pemeriksaan sample makanan tidak boleh lebih dari 2x24 jam," jelasnya.
Deni menuturkan, kejadian keracunan terjadi di hari Minggu, sementara warga setempat baru melapor ke Puskesmas dan Dinkes setelah tiga hari yaitu di hari Rabu.
"Jadi sampel tak bisa dicek oleh laboratorium," ucapnya.
Meski tak diketahui penyebabnya, sebagai langkah antisipasi, Dinas Kesehatan bakal memperketat pengawasan terhadap para pelaku usaha kuliner dan katering. Mereka akan diberi pembinaan tentang pengolahan makanan secara higienis.
"Untuk antisipasi kejadian serupa kita akan melakukan pengawasan lebih ketat terhadap pelaksanaan pembuatan makanan untuk konsumsi jumlah besar. Kami akan kolaborasi dengan berbagai stakeholder," ujarnya.
Sebelumnya, Dinas Kesehatan dan aparat kewilayahan telah mengirimkan 8 sampel makanan untuk menyelidiki kasus keracunan di Tipar.
"Sampel itu meliputi nasi, ayam goreng, telor balado, capcay, perkedel jagung, kerupuk, udang, dan sambal," sebutnya.
Diberitakan sebelumnya kasus keracunan kembali terjadi di Kabupaten Bandung Barat (KBB). Kali ini, menimpa 83 warga Kampung Tipar Silih Asih RT 02/ RW 17, Desa Laksanamekar, Kecamatan Padalarang.
Berdasarkan informasi yang dihimpun inilahkoran.id, warga yang mengalami keracunan rata-rata mengalami gejala seperti mual, pusing, muntah-muntah, diare, serta demam.
Gejala keracunan itu dirasakan warga sejak Senin 24 Juni 2024 dan puncaknya terjadi pada Rabu 26 Juni 2024.
"Untuk kronologisnya berdasarkan informasi dari pak kades, pak RW dan orang yang punya hajatnya sebetulnya kejadiannya hari Minggu tanggal 23 Juni 2024," kata Camat Padalarang, Agus Achmad Setiawan saat ditemui di lokasi kejadian, Rabu 26 Juni 2024 malam.
Agus menjelaskan, beliau (warga yang menggelar syukuran khitanan) mengundang warga sekitar yang ada di RW 17.
"Mengundang salawatan bada Ashar, setelah itu biasa kan kalau ada hajatan dikasih bingkisan nasi kotak. Ada 150 orang yang dikasih oleh yang punya hajat," jelas Agus.
Kendati demikian, lanjut Agus, gejala tak dirasakan warga pada hari itu. Namun ada sebagian warga yang juga yang merasakan gejala keracunan.
"Tapi mereka menganggap sakit perut dan mual-mual biasa. Sehingga, aparat kewilayahan seperti RW dan kades pun tidak melapor ke kami karena dianggap gejala biasa," ujarnya.
"Namun, aparat kewilayahan mendapatkan banyak laporan warga dengan keluhan yang sama, yakni pusing, mual dan muntaber," sambungnya.
Agus menyebut, pihaknya pun sudah mengundang warga yang menyelenggarakan hajat dan beliau mau bekerjasama.
"Dari 150 nasi kotak yang disediakan, yang merasakan adanya indikasi keracunan dari makanan ini ada 83 orang," sebutnya.
Sementara untuk sampel makanannya, sambung Agus, diambil Dinkes itu dibawa dari seorang warga yang sama sekali tidak memakan nasi kotak dari tetangga yang menggelar syukuran khitanan.
"Sampel nasi kotaknya sudah dibawa sama Puskesmas, menunya ada capcay, ayam goreng, telur balado, dan lain-lain," kata Agus saat ditemui, Kamis 27 Juni 2024.
"Jadi kebetulan ada warga yang masih simpan nasi kotaknya di kulkas," sambungnya.
Editor : Doni Ramdhani

