Persiapan Sarimukti Ditutup, Kota Bandung Mulai Rancang Transisi ke Legok Nangka

Menjelang penutupan TPA Sarimukti, DLH Kota Bandung bersiap mengalihkan 1.000 ton sampah residu per hari ke TPPAS Legok Nangka mulai 2029.

Persiapan  Sarimukti Ditutup, Kota Bandung Mulai Rancang Transisi ke  Legok Nangka
Persiapan transisi pengelolaan sampah menuju TPPAS Legok Nangka terus dilakukan pemerintah kota menjelang berakhirnya operasional Sarimukti.

INILAHKORAN.ID - Kota Bandung mulai mempersiapkan masa transisi pengelolaan sampah, setelah tempat pengolahan dan pemrosesan akhir sampah (TPPAS) Legok Nangka ditargetkan beroperasi pada 2029. 

Fasilitas baru tersebut, akan menjadi tujuan utama pengiriman sampah setelah kapasitas TPPAS Sarimukti semakin terbatas.

Kepala Bidang Pengelolaan Persampahan dan Limbah B3, Dinas Lingkungan Hidup Kota Bandung, Salman Faruq mengatakan, berbagai persiapan terus dilakukan agar peralihan dari Sarimukti menuju Legok Nangka berjalan lancar.

Jumlah sampah yang nantinya dialihkan ke Legok Nangka, berada pada kisaran 800 hingga 1.000 ton per hari.

“Target pengiriman ke Legok Nangka sudah menjadi komitmen bersama. Karena itu, sejak sekarang kami menyiapkan kebutuhan pendukung mulai dari armada hingga sistem pengelolaan agar sampah yang dikirim memenuhi standar operasional,” kata Salman Faruq, Selasa (4/8/2026).

Dia menjelaskan, sampah yang akan dikirim nantinya bukan seluruh timbulan sampah dari rumah tangga. Melainkan sampah residu yang telah melalui proses pemilahan. Langkah tersebut, dilakukan agar fasilitas Legok Nangka dapat beroperasi secara optimal.

“Yang masuk ke sana harus sudah melewati proses pemilahan. Kami ingin sampah yang dikirim benar-benar residu, sehingga tidak ada kendala saat diterima di lokasi pengolahan,” ucapnya.

Salah satu persiapan utama, adalah pengadaan armada pengangkut yang sesuai dengan kondisi medan menuju Legok Nangka. Lokasi tersebut, memiliki jalur dengan tanjakan cukup panjang sehingga kendaraan harus memiliki kemampuan khusus.

Salman menyebut, armada yang digunakan nantinya harus dalam kondisi prima dan dilengkapi sistem tertutup atau compactor. Teknologi tersebut, dinilai penting menjaga keamanan pengangkutan, mengurangi gangguan lingkungan dan mencegah kebocoran air lindi.

“Karakter jalan menuju Legok Nangka berbeda dengan lokasi pembuangan sebelumnya. Karena itu kendaraan harus kuat dan memenuhi standar, terutama dari sisi sistem pengangkutan tertutup,” ujar dia.

Saat ini, sebagian armada telah tersedia. Namun jumlahnya akan terus ditambah dalam beberapa tahun mendatang. Kebutuhan armada, diperkirakan mencapai sekitar 80 hingga 100 unit mendukung operasional pengiriman sampah.

Selain melalui pengadaan daerah, tambahan armada juga berpotensi berasal dari kerja sama Pemerintah Provinsi (Pemprov) Jawa Barat dengan Pemerintah Belanda. Bantuan tersebut, diharapkan dapat memperkuat kesiapan sarana pengangkutan.

Sambil menunggu Legok Nangka beroperasi, pengurangan sampah dari sumbernya terus menjadi perhatian. Berbagai program pengolahan sampah organik, edukasi masyarakat dan penerapan teknologi pengolahan terus dikembangkan.

Salman menilai, pengurangan sampah sejak dari rumah tangga dan kawasan usaha menjadi langkah penting karena Kota Bandung tidak bisa lagi bergantung sepenuhnya pada tempat pembuangan akhir.

“Ke depan, pengelolaan sampah harus lebih banyak dilakukan sejak dari sumbernya. Semakin sedikit sampah yang dibuang, semakin ringan beban fasilitas pembuangan akhir,” tuturnya.

Dia memastikan, keberadaan Legok Nangka nantinya akan mengakhiri operasional TPA Sarimukti. Saat ini, kondisi Sarimukti sudah mengalami kelebihan kapasitas sehingga masa penggunaannya semakin terbatas.

“Ketika Legok Nangka mulai berjalan, seluruh pengiriman sampah akan dialihkan ke sana. Sarimukti nantinya akan ditutup, karena kondisinya sudah tidak memungkinkan untuk menjadi tumpuan utama dalam jangka panjang,” ujar dia.

Selain persiapan infrastruktur, pengolahan sampah organik juga terus diuji. Salah satunya melalui teknologi bantuan Badan Riset dan Inovasi Nasional (BRIN), yang saat ini ditempatkan di sejumlah kecamatan di Kota Bandung.

Teknologi tersebut, masih dalam tahap evaluasi untuk melihat efektivitasnya. Jika hasilnya sesuai kebutuhan, penerapan pengolahan sampah organik skala komunal akan diperluas.

Sementara itu, kondisi pengangkutan sampah ke TPA Sarimukti saat ini masih berjalan normal. Sekitar 1.000 ton sampah per hari, masih dapat dikirim tanpa terjadi penumpukan besar di tempat penampungan sementara.

“Untuk sementara proses pengangkutan masih berjalan baik. Namun persiapan menuju sistem baru, tetap harus dilakukan karena kapasitas Sarimukti semakin terbatas,” pungkasnya.


Editor : Ahmad Sayuti