Petani Transmigrasi Batu Menjemput Pasar Baru

Petani Transmigrasi Batu Menjemput Pasar Baru
PANEN: Kegiatan Farmer Field and Business School (FFBS) pertemuan ke-7 sekaligus panen di Demplot Trans-Organik, Desa Sumber Jaya Permai, Kawasan Transmigrasi Batu Betumpang, Kabupaten Bangka Selatan, Kepulauan Bangka Belitung.(ANTARA FOTO)

INILAH, Batu- Di Desa Sumber Jaya Permai, Kawasan Transmigrasi Batu Betumpang, Kabupaten Bangka Selatan, Kepulauan Bangka Belitung, panen sayuran bukan sekadar soal berapa kilogram hasil yang bisa dipetik dari lahan.

Bagi petani, ada pertanyaan lain yang tak kalah penting: ke mana hasil panen akan dijual, siapa yang akan membelinya, dan berapa pendapatan yang bisa dibawa pulang? Pertanyaan itu menjadi bagian dari upaya petani setempat mengembangkan usaha hortikultura agar tidak hanya mampu menghasilkan sayuran berkualitas, tetapi juga memiliki pasar yang lebih pasti.

Harapan tersebut mulai dirintis melalui pendampingan Tim Ekspedisi Patriot (TEP) 1 IPB University yang menjajaki peluang kerja sama pasokan sayuran ke Satuan Pelayanan Pemenuhan Gizi (SPPG) Pulau Besar.

Kerja sama ini diharapkan membuka akses pasar baru bagi petani sekaligus memperluas peluang usaha pertanian di kawasan transmigrasi.

Upaya tersebut dilakukan melalui kegiatan Farmer Field and Business School (FFBS) pertemuan ketujuh yang dirangkaikan dengan panen di Demplot Trans-Organik, Desa Sumber Jaya Permai, beberapa waktu lalu.

Bersama 18 petani penggerak, tim memanen 107 kilogram sayuran yang terdiri atas pakcoy, selada, bayam, dan kangkung. Hasil panen itu menjadi bagian dari proses belajar petani untuk menghasilkan produk yang sesuai dengan kebutuhan pasar, bukan sekadar memenuhi kebutuhan budidaya.

Sebab, bagi petani, keberhasilan menanam belum tentu berakhir dengan keberhasilan menjual. Sayuran yang tumbuh baik tetap membutuhkan pembeli, sementara akses pasar dan harga yang tidak menentu selama ini menjadi tantangan dalam mengembangkan usaha pertanian.

Karena itu, pendampingan yang dilakukan TEP IPB University tidak berhenti pada teknik budidaya. Petani juga belajar menyortir hasil panen, memilah sayuran berdasarkan kualitas, serta mengemas produk agar sesuai dengan kebutuhan calon pembeli.

“Transisi pertanian tidak cukup berhenti pada bagaimana petani menghasilkan produk yang lebih baik. Kita juga perlu memastikan produk tersebut memiliki akses pasar,” kata Ketua TEP IPB University, Suprehatin.

Penjajakan pasokan ke SPPG Pulau Besar menjadi salah satu langkah untuk mendekatkan petani dengan calon pembeli. Dengan memahami kebutuhan pasar sejak awal, petani diharapkan dapat merencanakan produksi secara lebih terarah dan memiliki peluang penjualan yang lebih baik.

Bagi Ayik Sofyan, salah seorang petani penggerak dari Desa Sumber Jaya Permai, komunikasi dengan calon pembeli menjadi harapan bagi pengembangan usaha hortikultura di wilayahnya.

“Adanya komunikasi dengan SPPG dan pedagang lokal memberikan harapan bagi pengembangan usaha hortikultura kami,” kata Ayik.

Harapan itu sejalan dengan arah pengembangan kawasan transmigrasi yang tidak hanya berfokus pada peningkatan produksi, tetapi juga pada kemampuan warga membangun usaha yang memberikan nilai ekonomi.

Menteri Transmigrasi M. Iftitah Sulaiman Suryanagara mengatakan, pengembangan usaha di kawasan transmigrasi harus berorientasi pada pasar dan peningkatan pendapatan masyarakat.

“Jangan hanya melihat apa yang bisa dibuat, tetapi juga siapa yang akan membeli dan bagaimana produk tersebut dapat meningkatkan pendapatan masyarakat,” kata Menteri Iftitah dalam keterangannya di Jakarta, Minggu (25/10).

Melalui program Trans-Organik, TEP IPB University berharap petani Batu Betumpang dapat meningkatkan mutu sayuran, memperluas jaringan pemasaran, dan mengembangkan usaha pertanian secara berkelanjutan. (bsf)


Editor : Inilahkoran