PKC Bidik Usaha Lain Gali Potensi Pendapatan Perusahaan
PT Pupuk Kujang Cikampek (PKC), melirik pengembangan potensi bisnis lain di luar produksi pupuk Urea dan NPK. Salah satunya, dengan memaksimalkan pemanfaatkan sisa lahan di kawasan perusahaan.
Berita Terkini, Eksklusif di Channel WhatsApp Inilahkoran.id
INILAH, Karawang – PT Pupuk Kujang Cikampek (PKC), melirik pengembangan potensi bisnis lain di luar produksi pupuk Urea dan NPK. Salah satunya, dengan memaksimalkan pemanfaatkan sisa lahan di kawasan perusahaan.
Salah satu yang akan dilakukan perusahaan BUMN ini, dengan membangun pabrik untuk produksi CO2 cair dan pabrik katalis. Tak hanya itu, PKC juga juga akan melakukan pengembangan usaha dengan menyewakan lahannya untuk menambah revenue (pendapatan).
Direktur Teknik dan Pengembangan PT Pupuk Kujang Cikampek, Hanggara Patrianta menuturkan, selama ini kawasan PKC memiliki luas areal yang secara keseluruhan mencapai 510 hektare. Dari luasan itu, yang baru termanfaatkan sekitar 50 persennya. Jadi, selebihnya belum termanfaatkan dengan maksimal.
“Sebenarnya, banyak potensi yang bisa digali. Yakni, dengan cara memaksimalkan pemanfaatan lahan yang tersisa ini,” ujar Hanggara, Senin (27/1/2020).
Hanggara menjelaskan, di tahun ini ada dua kegiatan yang cukup besar untuk mengembangkan usaha. Yaitu, membangun pabrik CO2 yang nilai investasinya mencapai Rp 110 miliar. Serta, pabrik katalis yang nilai investasinya mencapai Rp 160 miliar. Kedua pabrik ini, digadang-gadang akan menghasilkan pendapatan baru bagi Pupuk Kujang.
Perusahaannya memiliki alasan terkait pembangunan pabrik baru itu. Mengingat, selama ini dalam memproduksi pupuk, terutama jenis urea,banyak gas CO2 yang terbuang percuma dan menguap begitu saja ke udara. Padahal, gas yang lost itu, menurutnya, masih memiliki nilai ekonomis yang cukup lumayan.
“Dengan adanya pabrik CO2 ini, diharapkan gas yang lost bisa diminimalisasi,” jelas dia.
Jadi, tujuan manajemen membangun pabrik CO2 ini untuk memanfaatkan gas ekses CO2 dari proses produksi pabrik Kujang 1A dan Kujang 1B. Nantinya, produk yang dihasilkan oleh pabrik ini, yakni CO2 cair yang bisa bermanfaat di segala industri.
Dalam upaya ini, sambung dia, perusahaannya menggandeng sejumlah pihak. Salah satunya, untuk melakukan analisis terkait memanfaatkan gas yang lost itu. Menurutnya, bisnis baru ini akan sangat menguntungkan bagi perusahaan. Apalagi, selain bahan bakunya tersedia, pasarnya juga ada.
Hasil hitungan sementara, sambung dia, dari pabrik ini pendapatannya bisa mencapai Rp 700 miliar. Makanya, di 2020 ini pembangunan pabrik CO2 ini akan dikebut. Terlebih, targetnya pabrik ini bisa selesai dibangun di tahun ini.
Dia menambahkan, selain pabrik CO2, manajemen juga akan membangun pabrik katalis. Pabrik katalis ini, digadang-gadang sebagai perusahaan satu-satunya yang nasionalisme di Indonesia. Sebab, perusahaan katalis yang sudah ada sebelumnya mayoritas adalah dari luar.
“Untuk pembangunan katalis, kita menggandeng ITB,” tambah dia.
Saat ini, sekitar 60 persen katalis sudah tak lagi diperjualbelikan secara bebas. Sisanya, 40 persen lagi masih dijual secara bebas. Tetapi, itupun impor. Sehingga, pabrik katalis yang dikembangkan melalui kerja sama ini, 100 persen dibuat oleh SDM dalam negeri.
Pabrik katalis ini, direncanakan untuk memenuhi kebutuhan katalis industri pengilangan, industri kimia, petrokimia serta industri oleokimia. Ditargetkan, pembangunan pabrik ini akan rampung pada 2021 mendatang.
“Untuk proses pembanguannya, saat ini mulai berjalan,” pungkasnya. (Asep Mulyana)
Editor : Bsafaat

