PKL Ditertibkan, Pengguna Jogging Track Dadaha Dukung Penataan tapi Minta Relokasi

Penertiban PKL di sekitar jogging track Kompleks Olahraga Dadaha, Kota Tasikmalaya, mendapat tanggapan beragam dari pengguna fasilitas olahraga.

PKL Ditertibkan, Pengguna Jogging Track Dadaha Dukung Penataan tapi Minta Relokasi
Sejumlah warga tampak berjalan kaki di sekitar jogging track Kompleks Olahraga Dadaha, Kota Tasikmalaya. (n nurohman)

INILAHKORAN.ID - Penertiban pedagang kaki lima (PKL) di sekitar jogging track Kompleks Olahraga Dadaha, Kota Tasikmalaya, mendapat tanggapan beragam dari pengguna fasilitas olahraga.

Sebagian mendukung penataan kawasan agar aktivitas olahraga lebih nyaman. Namun, di sisi lain, keberadaan pedagang juga dinilai berkaitan dengan persoalan ekonomi masyarakat sehingga pemerintah diminta menyiapkan lokasi relokasi.

Penertiban dilakukan Tim penataan Kompleks Olahraga Dadaha. Petugas mengangkut sejumlah lapak dan material pedagang yang berada di sekitar jogging track dekat Benteng Stadion Wiradadaha.

Salah seorang pengguna jogging track, Pawaz Ghozi (23), mengaku berada di posisi yang tidak sepenuhnya mendukung maupun menolak penertiban tersebut.

“Fifty-fifty sih, dibilang support juga enggak, cuma kalau ngomong secara kebaikan tata kota iya,” kata Pawaz, Kamis (27/8/2026).

Menurutnya, dari sisi penataan kota, kawasan jogging track memang seharusnya memberikan ruang yang nyaman bagi masyarakat untuk berolahraga.

Namun, ia juga memahami kondisi ekonomi para pedagang yang selama ini menggantungkan penghasilan dari aktivitas berjualan di Dadaha.

“Dengan ekonomi saat ini agak ada kasihannya juga, pilihannya susah juga buat ke masyarakat,” ujarnya.

Pawaz menilai solusi yang dapat ditempuh adalah menyediakan lokasi relokasi bagi para pedagang.

“Kalau menurut saya pribadi mungkin bisa dicoba relokasi, ke mana misal,” katanya.

Ia bahkan menilai pemerintah dapat mempertimbangkan konsep kawasan perdagangan baru yang mampu menarik pengunjung.

“Sekarang kan kalau di Dadaha udah penuh juga ya, mungkin bisa membuka seperti cabang Mambo gitu kan,” ujarnya.

Menurut Pawaz, keberadaan pedagang di Dadaha pada dasarnya merupakan bentuk upaya masyarakat untuk bertahan hidup.

“Menurut saya mereka itu cuma orang-orang yang mencoba bertahan hidup,” katanya.

Dari sisi kenyamanan berolahraga, Pawaz mengaku keberadaan pedagang paling terasa mengganggu ketika akhir pekan.

“Kalau saya pribadi mungkin terganggu di weekend saja sih, Sabtu Minggu kan padat banget, kalau kita lari kadang-kadang agak berdesakan,” ujarnya.

Sementara pada hari biasa, keberadaan pedagang dinilai tidak terlalu mengganggu aktivitas olahraga.

“Kalau di weekdays enggak seberapa pengaruh itu, rame sih rame tapi orang masih bisa lari,” katanya.

Setelah kawasan mulai disterilkan, Pawaz juga merasakan adanya perubahan suasana ketika berolahraga.

“Bedanya sekarang agak lebih hening aja, enggak berisik lah kalau pagi-pagi lari di sini,” ujarnya.

Meski demikian, dia menilai penataan tidak cukup hanya dengan menghilangkan aktivitas pedagang dari jogging track. Pemerintah juga perlu memastikan para pedagang mendapatkan tempat yang layak.

“Menurut saya harus ada relokasi, karena ini hanya social justice saja, keadilan sosial untuk seluruh masyarakat juga, jadi yang mereka direlokasi harus ada tempat khusus untuk mereka berjualan,” kata Pawaz.

Sebelumnya, Ketua Tim penataan Kompleks Olahraga Dadaha Asep MP mengatakan pemerintah memang merencanakan pemindahan pedagang dari sekitar ruang olahraga. Namun, lokasi relokasi masih dalam tahap perencanaan dan belum disampaikan kepada Wali Kota Tasikmalaya.

penataan kawasan Dadaha dilakukan secara bertahap. Tahap awal difokuskan pada sterilisasi jogging track, terutama area yang berada dekat Benteng Stadion Wiradadaha.

Pemerintahan menyatakan langkah tersebut bertujuan mengembalikan fungsi Dadaha sebagai kawasan olahraga, sekaligus mencari solusi agar aktivitas ekonomi pedagang tetap dapat berjalan di lokasi yang lebih sesuai.


Editor : Doni Ramdhani