Polda Jabar Waspadai Rekrutmen Anak oleh Kelompok Teror

Polda Jawa Barat menyampaikan keprihatinan mendalam terkait temuan adanya 110 anak di berbagai provinsi yang direkrut jaringan terorisme.

Polda Jabar Waspadai Rekrutmen Anak oleh Kelompok Teror
Kombes Pol Hendra Rochmawan

INILAHKORAN, Bandung - Polda Jawa Barat menyampaikan keprihatinan mendalam terkait temuan adanya 110 anak di berbagai provinsi yang direkrut jaringan terorisme. 

Kekhawatiran itu disampaikan Kapolda Jawa Barat Irjen Pol Rudi Setiawan melalui Kabid Humas Polda jabar Kombes Pol Hendra Rochmawan, yang menyebut fenomena tersebut sebagai ancaman serius bagi generasi muda di era digital saat ini.

Hendra menjelaskan bahwa pola perekrutan kelompok ekstrem telah mengalami perubahan dari metode lama menuju cara-cara yang lebih modern dan sulit terdeteksi. Pada masa lalu, kata dia, proses perekrutan kerap dilakukan melalui aktivitas pengajian yang kemudian disusupi sesi tanya jawab dengan maksud mengidentifikasi peserta yang dianggap kritis.

“Dulu itu dilakukan di beberapa pengajian, kemudian di pengajian itu ada tanya jawab, kemudian ada beberapa pertanyaan yang kritis, kemudian ada pengamat dari kelompok untuk bikin pengajian baru lagi yang lebih sensitif dan mengarah kepada radikalisme,” ujar Hendra dalam wawancara, Kamis (20/11/2025).

Ia menuturkan bahwa pola tersebut juga muncul di sejumlah pondok pesantren tertentu yang memiliki jejaring mengarah pada kelompok radikal. “Itu ada juga lewat perekrutan Ashari. Itu metode lama,” imbuhnya.

Namun, Hendra menegaskan bahwa saat ini metode perekrutan sudah jauh lebih berkembang. Media sosial menjadi kanal yang paling efektif bagi kelompok teror untuk menjangkau anak muda.

“Metode terbaru dan sebenarnya sudah lama juga dan lebih efektif itu lewat media sosial. Ini pengguna gadget di Indonesia kalangan gen z sangat masif tentu saja yang dilakukan oleh terorisme memanfaatkan teknologi untuk bisa direkrut,” katanya.

Ia menambahkan bahwa faktor-faktor sosial seperti keterbatasan pendidikan, kemiskinan, hingga ketatnya persaingan kerja turut membuat anak dan remaja lebih mudah terpapar ajakan ekstremisme. “Ini memudahkan mereka direkrut dengan berbagai caralah,” jelasnya.

Untuk mencegah penyebaran propaganda radikalisme semakin luas, Polda jabar bersama Densus 88, Dai Kamtibmas, serta berbagai pemangku kepentingan lainnya terus melakukan upaya pencegahan yang bersifat komprehensif. “Ini upaya kita,” ucap Hendra.

Selain isu radikalisme, Polda jabar juga memberi perhatian khusus terhadap maraknya bullying di lingkungan sekolah. Fenomena ini dianggap memiliki dampak destruktif yang tidak bisa diremehkan. Hendra merujuk sejumlah kasus ekstrem, baik di luar negeri maupun dalam negeri, yang dipicu oleh perundungan.

“Dengan ada fenomena baru yaitu ada bullying di sekolah-sekolah, Kapolda Jabar telah memerintahkan Humas, Binmas, dan unit PPA akan kita bentuk satgas untuk kita libatkan dari PKS atau polisi keamanan sekolah yang di OSIS dan organisasi di sekolahan itu kita ajak untuk edukasi agar jadi pelapor dari tindakan bullying yang dilakukan di sekolah,” tegasnya.

Ia mencontohkan kasus di Amerika Serikat yang berujung pada penembakan, serta kejadian ledakan di Jakarta yang melibatkan pelajar yang merupakan korban bullying. “Ternyata akibat bullying itu yang bersangkutan bisa melakukan tindakan senekat itu dan kemarin di beberapa, di Sukabumi ada yang sampai meninggal dunia,” ujarnya.

Hendra menyebut bahwa bullying kini menjadi salah satu ancaman serius bagi pelajar, sejajar dengan kasus pelecehan seksual oleh oknum guru maupun kekerasan yang dilakukan murid kepada guru. Karena itu, pembentukan satgas dianggap sebagai langkah penting untuk memperkuat deteksi dini dan pelaporan di lingkungan sekolah.

“Ini memang menjadi sesuatu yang kritis untuk kita antisipasi di era kekinian ini,” pungkasnya.


Editor : Ahmad Sayuti