Principessa, Kue Pink Ikonik Favorit Pecinta Fashion dan Simbol Quiet Luxury
Principessa Cake dari Sant Ambroeus menjadi ikon kuliner dan fashion berkat marzipan pink, rasa klasik, serta konsistensi yang membuatnya bertahan selama puluha
Berita Terkini, Eksklusif di Channel WhatsApp Inilahkoran.id
INILAHKORAN.ID – Di tengah derasnya tren kuliner yang lahir dari media sosial, tidak semua makanan viral mampu bertahan lama. Mulai dari Dubai Chocolate, flat croissant, matcha, hingga cronut, popularitas sejumlah makanan bisa melejit dalam waktu singkat sebelum akhirnya tergantikan tren baru.
Namun, Principessa Cake dari Sant Ambroeus memiliki cerita berbeda. Kue klasik berbalut marzipan merah muda ini justru mampu mempertahankan daya tariknya selama puluhan tahun dan kini menjadi salah satu hidangan penutup yang lekat dengan dunia fashion serta gaya hidup quiet luxury.
Kue tersebut merupakan adaptasi modern dari prinsesstårta, seperti dilansir dari CNN kue klasik asal Swedia yang dikenal dengan lapisan marzipan hijau.
Principessa Cake Tampil dengan Balutan Marzipan Pink
Salah satu ciri khas Principessa adalah tampilannya yang elegan. Jika prinsesstårta tradisional menggunakan marzipan berwarna hijau, versi Sant Ambroeus hadir dengan balutan marzipan merah muda yang membuatnya terlihat lebih feminin dan fotogenik.
Di balik tampilannya yang menarik, Principessa mengandalkan perpaduan tekstur dan rasa.
Kue ini terdiri dari spons lembut, krim kuning mentega dengan aroma lemon, serta lapisan whipped cream yang tebal.
Perpaduan tersebut menghasilkan rasa yang relatif seimbang dan tidak terlalu manis. Karakter inilah yang membuat Principessa tidak hanya mengandalkan penampilan untuk menarik perhatian.
Dari Milan hingga Menjadi Ikon di New York
Principessa memiliki sejarah panjang bersama Sant Ambroeus. Kue ini disebut telah menjadi bagian dari tradisi toko tersebut sejak era 1930-an di Milan sebelum kemudian mendapatkan popularitas di New York pada era 1980-an.
Kini, popularitasnya semakin kuat di kalangan pencinta kuliner, fashion, dan gaya hidup mewah.
Produksinya bahkan disebut dapat mencapai sekitar 400 potong per hari. Harganya juga tidak murah, yakni sekitar 200 hingga 360 dolar AS atau sekitar Rp3,1 juta hingga Rp5,6 juta per loyang, sehingga kue ini turut diasosiasikan dengan gaya hidup eksklusif.
Visualnya yang khas membuat Principessa juga menarik perhatian kalangan selebritas dan pencinta fashion, termasuk Lindsay Lohan.
Principessa dan Fenomena quiet luxury
Popularitas Principessa menarik karena tidak sepenuhnya bergantung pada tren makanan yang muncul di media sosial.
Kue ini justru menawarkan konsep yang berbeda: kemewahan yang tidak berlebihan melalui tampilan sederhana, bahan berkualitas, dan konsistensi rasa.
Karakter tersebut sejalan dengan konsep quiet luxury, ketika nilai sebuah produk tidak semata-mata ditentukan oleh logo atau kemewahan yang mencolok, tetapi oleh kualitas, detail, dan reputasi yang dibangun dalam waktu panjang.
Konsistensi Jadi Kunci Bertahan Hampir Satu Abad
Di tengah industri kuliner yang bergerak cepat, keberhasilan Principessa mempertahankan eksistensinya selama puluhan tahun menjadi pelajaran menarik.
Direktur Kuliner Sant Ambroeus, Iacopo Falai, menyebut konsistensi menjadi salah satu faktor penting dalam mempertahankan kualitas produk.
Setiap baker mendapatkan pelatihan khusus agar standar pembuatan dan rasa tetap terjaga.
Prinsip tersebut menunjukkan bahwa makanan tidak selalu harus mengikuti setiap tren untuk bertahan. Produk yang memiliki karakter kuat, kualitas konsisten, serta identitas yang jelas justru dapat membangun basis pelanggan dalam jangka panjang.
Pelajaran bagi Industri Kuliner Indonesia
Fenomena Principessa juga relevan bagi industri kuliner Indonesia yang kini sangat dipengaruhi media sosial.
Tren makanan dapat membuat sebuah produk dikenal luas dalam waktu singkat. Namun, mempertahankan pelanggan membutuhkan lebih dari sekadar tampilan menarik atau strategi mengejar FYP.
Principessa menunjukkan bahwa estetika memang penting, tetapi kualitas dan konsistensi menjadi fondasi untuk membuat sebuah produk bertahan.
Di tengah pergantian tren yang semakin cepat, kue berbalut marzipan pink ini membuktikan bahwa sebuah hidangan klasik masih bisa terlihat relevan ketika dibuat dengan keahlian, identitas, dan standar kualitas yang terjaga.
Editor : Ahmad Sayuti

