Psikolog Sebut Korban Tabrakan Kereta Bisa Alami Trauma, Kecemasan hingga Depresi

Korban tabrakan KRL dan KA menurut psikolog bisamengalami trauma, kecemasan hingga depresi.

Psikolog Sebut Korban Tabrakan Kereta Bisa Alami Trauma, Kecemasan hingga Depresi
Ilustrasi depresi.

INILAHKORAN, Bandung - Pada Senin malam, 27 April 2026, telah terjadi tabrakan maut antara kereta Rel Listrik (KRL) dengan kereta Api (KA) Jarak Jauh Argo Bromo Anggrek.

Di mana puluhan korban luka-luka dan 16 orang meninggal dunia usai KA menabrak KRL hingga kereta api masuk ke dalam gerbong khusus wanita dalam KRL yang ada di belakang.

Melihat tragedi tersebut, Psikolog Prof. Dr. Rose Mini Agoes Salim, M.Psi., mengatakan kecelakaan kereta api yang terjadi di Bekasi Timur tidak hanya menyisakan dampak fisik pada korban, namun juga berpotensi memicu trauma psikologis pada para penyintas.

“Setelah mengalami kecelakaan, mungkin saja seseorang mengalami gangguan stres pascatrauma. Namun, respons tiap individu berbeda, sehingga tidak semua akan berkembang menjadi PTSD,” tutur Guru besar Fakultas Psikologi Universitas Indonesia tersebut.

Psikolog yang akrab disapa Bunda Romy itu mengatakan pengalaman kecelakaan dapat menimbulkan berbagai respons psikologis, mulai dari kecemasan ringan hingga gangguan stres pascatrauma atau PTSD.

Gejala yang muncul bisa beragam, seperti perasaan cemas berlebihan, jantung berdebar saat berada di keramaian, hingga kesulitan berkonsentrasi yang membuat korban tampak bengong.

Korban dapat merasa gelisah saat mendengar suara kereta atau bahkan menghindari moda transportasi tertentu karena trauma yang masih tersisa.

trauma juga dapat memicu serangan panik secara tiba-tiba. Gejalanya meliputi sesak napas, keringat dingin, serta rasa takut yang intens tanpa sebab yang jelas.

“Panic attack bisa muncul tiba-tiba, misalnya saat berada di tempat ramai atau ketika teringat kejadian. Ini membuat korban menjadi takut untuk beraktivitas seperti biasa,” jelasnya dikutip dari laman Antara.

Dalam beberapa kasus, trauma yang tidak tertangani juga dapat berkembang menjadi depresi

Kondisi ini ditandai dengan perasaan sedih berkepanjangan, kehilangan minat, hingga menarik diri dari lingkungan sosial.***


Editor : Irma Nurfajri