Puasa itu Atas Dasar Keyakinan bukan Prediksi

DALAM masalah penetapan awal ramadhan, Allah taala menjadikan sesuatu yang meyakinkan sebagai acuan, yaitu menyaksikan hilal. Bukan sesuatu yang sifatnya prediksi.

Puasa itu Atas Dasar Keyakinan bukan Prediksi
DALAM masalah penetapan awal ramadhan, Allah taala menjadikan sesuatu yang meyakinkan sebagai acuan, yaitu menyaksikan hilal. Bukan sesuatu yang sifatnya prediksi./net

DALAM masalah penetapan awal ramadhan, Allah taala menjadikan sesuatu yang meyakinkan sebagai acuan, yaitu menyaksikan hilal. Bukan sesuatu yang sifatnya prediksi.

"Siapa diantara kalian yang telahmenyaksikan hilal, maka hendaknya dia berpuasa." (QS. Al-Baqarah: 185).

Dan orang disebut menyaksikan, ketika dia melihat kejadian terbitnya hilal, bukan sebatas memprediksi. Tentu bukan sikap yang tepat ketika ada orang yang mengaku bahwa hilal telah terbit. Ketika dia ditanya, Mana buktinya? kemudian dia hanya menunjukkan hasil perhitungannya di atas kertas, Ini bukti hisab saya.

Seperti ini persaksian yang bisa diterima?

Jelas masyarakat akan menolaknya. Karena ini bukan bukti, tapi prediksi. Sehingga mereka yang melakukan puasa atau berhari raya berdasarkan hisab,berarti dia beribadah berdasarkan dugaan,prediksi, dzan, dan bukan keyakinan. Meskipun bagi mereka penggemar hisab, ini dipaksakan meyakinkan.

Karena tidak ada pilihan, selain harus melibatkan rukyah sebagai pembuktian.

Syaikhul Islam mengatakan,

Tidak ada seorang ahli hisab-pun yang memiliki ketetentuan pasti. Bahkan cara apapun yang mereka tempuh, pasti akan ada unsur kesalahan. Karena Allah taala tidaklah menjadikan adanya perhitungan baku untuk munculnya hilal. Bahkan tidak mungkin ada cara untuk bisa melihat hilal, selain dengan melakukan rukyah. (Majmu Fatawa, 25/182-183).

Demikian. Allahu alam. [Ustadz Ammi Nur Baits]


Editor : JakaPermana