Rahmad Darmawan Kritik Jual Beli Lisensi Klub: “Klub Sepak Bola Harus Jadi Identitas Daerah”

Fenomena jual beli lisensi klub sepak bola yang kian marak di Indonesia menuai sorotan dari eks pelatih timnas U-23 Indonesia, Rahmad Darmawan.

Rahmad Darmawan Kritik Jual Beli Lisensi Klub: “Klub Sepak Bola Harus Jadi Identitas Daerah”
Rahmad Darmawan Kritik Jual Beli Lisensi Klub: “Klub Sepak Bola Harus Jadi Identitas Daerah”

INILAHKORAN, Bandung – Fenomena Jual Beli Lisensi Klub sepak bola yang kian marak di Indonesia menuai sorotan dari eks pelatih timnas U-23 Indonesia, Rahmad Darmawan.

Pelatih yang akrab disapa RD itu menyampaikan pesan penting kepada klub-klub “baru” yang lahir dari praktik tersebut agar tak melupakan esensi pembentukan klub: identitas dan komitmen jangka panjang.

Menurut RD, praktik jual beli lisensi yang menyebabkan perubahan nama, markas, hingga identitas klub harus disikapi dengan serius oleh seluruh pemangku kepentingan sepak bola nasional.

“Buat saya adalah fenomena ini tentu harus menjadi sebuah hal yang berlangsung dengan tidak hanya temporer tapi bisa dipertahankan klub ini dalam satu waktu yang lama,” ujar Rahmad Darmawan seperti dikutip dari ANTARA.

RD mengingatkan agar klub tidak hanya berpikir jangka pendek untuk membeli dan menjual lisensi demi keuntungan sesaat.

“Kesannya tidak seperti ada kesempatan menjual kemudian dijual lagi, ada kesempatan membeli, membeli,” lanjutnya.

RD menekankan bahwa meski perpindahan domisili klub diperbolehkan secara regulasi, hal itu tetap berdampak besar pada aspek historis dan emosional dari sepak bola itu sendiri.

“Ke depannya tidak lagi banyak terjadi hal lain seperti ini lagi tapi lebih komitmen kepada membangun tim ini dalam jangka waktu yang lama, karena sekali lagi perpindahan satu klub ke klub lain memang tidak bisa dipersoalkan karena memang ada regulasi yang mengaturnya,” tegas RD.

Pernyataan tegas RD muncul setelah adanya perubahan identitas dan domisili dari tujuh klub yang diumumkan dalam Kongres Biasa PSSI 2025 di Hotel Ritz-Carlton, Jakarta, dua pekan lalu. Di antaranya:

  • Bhayangkara Presisi FC (Surabaya) menjadi Bhayangkara Presisi Lampung FC (Bandar Lampung)
  • Persikas Subang menjadi Sumsel United (Palembang)
  • Tornado FC Pekanbaru menjadi Kendal Tornado FC (Kendal)
  • PS Maluku menjadi Kediri United (Kediri)
  • Sumut United menjadi Pesikad (Depok)
  • NZR Sumbersari menjadi Persikutim United (Kutai Timur)
  • PSKC Cimahi menjadi Garudayaksa FC (Bekasi)

Salah satu contoh klub “baru” yang menonjol adalah Malut United, klub transformasi dari Putra Delta Sidoarjo, yang kini mewakili Maluku Utara.

Klub ini berdiri pada 2023 dan langsung promosi ke Liga 1 pada musim 2024/2025. Di musim debutnya, tim asuhan Imran Nahumarury tampil impresif dengan finis di peringkat ketiga.

RD sendiri punya pengalaman menangani klub hasil akuisisi semacam ini, yakni RANS Nusantara FC, yang sebelumnya bernama Cilegon United FC. Klub tersebut diambil alih oleh artis Raffi Ahmad pada 2021.

Menutup pernyataannya, RD berharap ke depan tidak lagi banyak terjadi “perpindahan identitas” yang membingungkan dan melemahkan semangat sepak bola daerah.

“Tentu ini jadi sebuah catatan yang saya sampaikan ya sepertinya berdirinya klub sepak bola di satu tempat atau daerah itu sebetulnya menggambarkan tentang identitas daerah itu sendiri yang harus dipertahankan,” pungkasnya.***


Editor : Yosep Saepul Ramadan