Ramai Isu BBM Campur Etanol, Pertamina Imbau Masyarakat Tak Khawatir

PT Pertamina Patra Niaga mengingatkan masyarakat agar tidak mudah terpengaruh oleh isu negatif yang beredar terkait penggunaan etanol sebagai campuran dalam bahan bakar minyak (BBM). 

Ramai Isu BBM Campur Etanol, Pertamina Imbau Masyarakat Tak Khawatir
Ramai Isu BBM Campur Etanol, Pertamina Imbau Masayarakat Tak Khawatir

INILAHKORAN - PT Pertamina Patra Niaga mengingatkan masyarakat agar tidak mudah terpengaruh oleh isu negatif yang beredar terkait penggunaan etanol sebagai campuran dalam bahan bakar minyak (BBM). 

Perusahaan menegaskan, bahan bakar berbasis etanol justru menjadi langkah penting menuju energi yang lebih bersih dan ramah lingkungan.

Area Manager Communication, Relation, and CSR Pertamina Patra Niaga Regional Jawa Bagian Tengah–DIY, Taufik Kurniawan, menjelaskan bahwa penggunaan etanol dalam BBM sudah menjadi praktik umum di berbagai negara.

etanol ini digunakan di Brasil, Amerika Serikat, hingga Uni Eropa. Tujuannya untuk menekan emisi gas buang agar lebih ramah lingkungan,” ujar Taufik.

Menurutnya, etanol berasal dari hasil fermentasi bahan nabati seperti tebu, jagung, atau singkong. Proses ini menghasilkan molase yang dapat dimanfaatkan sebagai bahan baku campuran BBM.

Saat ini, produk Pertamax Green 95 mengandung 5 persen etanol, sementara beberapa jenis BBM lain memiliki kadar yang lebih rendah.

“Dengan campuran etanol, pembakaran jadi lebih bersih dan efisien. etanol juga tidak merusak logam maupun karet, sehingga aman digunakan,” tambah Taufik.

Meski sempat muncul isu miring di masyarakat, penjualan Pertamax Green justru meningkat tajam, terutama di wilayah Jawa Tengah.

Pertamina mencatat, hingga saat ini terdapat 14 Stasiun Pengisian Bahan Bakar Umum (SPBU) di Jawa bagian tengah yang telah menjual Pertamax Green, dengan total penjualan mencapai 348 kiloliter atau 228 persen dari target tahun 2025.

“Awalnya target kami hanya delapan outlet, tetapi antusiasme masyarakat luar biasa. Kami akan terus menambah jumlah outlet dan memperluas distribusi,” ungkapnya.

Di Jawa Tengah, produk Pertamax Green tersedia di Semarang (4 outlet), Kendal, Batang, dan Tegal masing-masing satu outlet, serta satu tambahan di rest area tol Brebes.

Taufik menyebutkan, wilayah Semarang, Kendal, dan Batang mendominasi penjualan dengan total volume 248 kiloliter, sementara rata-rata penjualan harian di Semarang mencapai 7.000–8.000 liter per hari.

Pertamina berharap masyarakat semakin memahami manfaat etanol dalam BBM, bukan hanya untuk menekan ketergantungan terhadap bahan bakar fosil, tetapi juga sebagai langkah nyata menuju transisi energi bersih dan berkelanjutan.


Editor : Firda Rachmawati