Meski Pulang Pergi Digedong Ibu, Gadis Epilepsi Tak Putus Asa Belajar Ngaji

Ada banyak orang yang tak menjadikan kekurangan fisik maupun ekonominya sebagai penghalang untuk terus belajar dan mengaji.

Meski Pulang Pergi Digedong Ibu, Gadis Epilepsi Tak Putus Asa Belajar Ngaji
Nuraeni, gadis berusia 13 tahun yang sejak kecil didiagnosa mrnderita epilepsi akut itu tetap bersemangat belajar mengaji.

INILAHKORAN, Garut - Ada banyak orang yang tak menjadikan kekurangan fisik maupun ekonominya sebagai penghalang untuk terus belajar dan mengaji demi mengembangkan diri dalam menjalani kehidupannya demi meraih cita-cita tinggi.

Dengan keikhlasan dan tekad membaha, kekurangan dipandangnya semata sebagai tantangan. Seperti halnya diperlihatkan Nuraeni, warga Kampung Padasari RT 02 RW 07 Desa Cinunuk Kecamatan Wanaraja.

Gadis berusia 13 tahun yang sejak kecil didiagnosa dokter memiliki penyakit epilepsi akut itu tetap bersemangat belajar mengaji di sebuah madrasah dan masjid di dekat tempat tinggalnya. Meskipun karena keterbatasan fisiknya, untuk berangkat ke lokasi maupun pulangnya dari mengaji, dia mesti selalu digendong ibunya, Sopiah.

Baca Juga: Sejumlah Calon Kepala Sekolah SMP Kabupaten Cirebon Dimintai 'Setoran', Kadisdik Bilang Begini

Nuraeni, anak pertama dari pasangan suami isteri Furkon Firmansyah (36) dan Sopiah (34), setiap hari belajar mengaji di madrasah dan masjid itu mulai pukul 13.00 WIB hingga pukul 17.00 WIB.

"Kalau memaksakan berjalan, kasihan. Dia harus merangkak tertatih-tatih menggunakan lututnya untuk pergi belajar dan mengaji. Lututnya bisa sakit dan lecet juga," ujar Sopiah, Minggu 19 Desember 2021.

Nuraeni sejak kecil didiagnosa doket memiliki penyakit epilepsi akut. Pernah dilakukan upaya pengobatan namun belum berhasil seperti diharapkan.

Maklum, keterbatasan ekonomi keluarganya membuat pengobatan Nuraeni berhenti di tengah jalan.

Baca Juga: Kasus Aktif Covid-19 di Garut Tersisa 62 dari 24.628 Kasus Positif

Keseharian ayahnya yang hanya seorang peternak dan berjualan burung merpati tak cukup memadai untuk bisa membiayai pengobatan Nuraeni. Bahkan untuk menutupi kebutuhan hidup sehari-hari. Ibunya pun hanya seorang ibu rumah tangga.

Pendapatan sehari-harinya lebih mengandalkan pada hasil kerja serabutan. Itu pun tidak diperoleh setiap hari. Bergantung pada ada tidaknya orang menyuruhnya mengerjakan sesuatu.

Kesulitan ekonomi bertambah dengan merebaknya pandemi Covid-19. Namun hal itu tak membuat keluarga Nuraeni berputus asa. Pun Nuraeni tetap bersemangat menimba ilmu dan mengaji di madrasah dan masjid. Tak hendak kalah dari anak-anak lainnya. Meskipun di tengah masa pandemi Covid-19. Terlebih ketika terdapat sejumlah kelonggaran saat Garut masuk masa Pemberlakuan Pembatasan Kegiatan Masyarakat (PPKM) Level 2 seperti saat ini.

Nuraeni juga pernah dimasukkan orang tuanya pada kegiatan bimbingan belajar membaca untuk persiapan masuk sekolah. Namun hal itu tak berlanjut.

Baca Juga: Heboh Bupati Cirebon Penuhi Panggilan KPK, Begini Penjelasan Pemkab

Nuraeni dan adiknya, Reyhan Malik Akbar berusia enam tahun, tinggal bersama orang tuanya di rumah panggung yang sederhana milik uwaknya.

"Saya juga terenyuh melihat semangat belajar dan mengaji Ananda Nuraeni ini. Insya Alloh, akan ada muhsinin yang memberikan bantuan kursi roda agar saat pergi dan pulang belajar ngaji, ananda Nuraeni tak harus digendong lagi. Bagi yang akan memberikan bantuan, dipersilahkan. Jazzkumullooh ahsanal jazaa," kata pegiat sosial yang juga Wakil Ketua DPW Partai Amanat Nasional (PAN) Jawa Barat Enjang Tedi saat menengok Nuraeni di rumahnya. (zainulmukhtar)


Editor : inilahkoran