Ngabuburit Ekstrem ala Warga Playangan Kaliwedi Kabupaten Cirebon
Kebiasaan ngauburit di Bulan Ramadhan oleh anak di Blok Playangan Kaliwedi Kabbupaten Cirebon cukup ekstrem dan berbeda dari orang lain
Berita Terkini, Eksklusif di Channel WhatsApp Inilahkoran.id
INILAHKORAN, Cirebon - Ngabuburit masih menjadi pilihan favorit masyarakat ketika menunggu beduk Magrib di Bulan Ramadhan. Namun ada yang tidak biasa yang dilakukan sebagian anak di Kabupaten Cirebon.
Hal itu terjadi di Desa Pabedilan Kidul Blok Playangan Kecamatan Kaliwedi Kabupaten Cirebon.Bagaimana tidak, aktifitas ngabuburit yang dilakukan sebagian anak anak di blok ini, menantang maut. Mereka menunggu waktu berbuka puasa dengan cara duduk-duduk atas rel kereta api. Sepertinya, aktifitas ini sudah menjadi kebiasan setiap tahunnya saat menunggu bedug magrib tiba.
"Ya senang saja pak. Ngabuburit jadi tidak terasa. Biasanya kita nongkrong di sini mulai setengah lima sampai mendekati waktu buka puasa," kata salah satu anak bernama Muji (8).
Baca Juga: Safari Ramadhan Pemkab Cirebon, Gelar Vaksinasi Berhadiah Minyak Goreng
Hal itu dibenarkan oleh salah satu tokoh masyarakat bernama Islah. Menurutnya, kebiasan ngabuburit ekstrem sudah menjadi tradisi yang susah dihilangkan dari tahun ke tahun. Mirisnya, ngabuburit membahayakan nyawa di lokasi tersebut karena tanpa sepengetahuan orang tua.
"Kami sudah coba larang, tapi ya sulit juga untuk memastikan mereka tidak datang dilokasi itu. Tapi sekarang sudah rada berkurang karena suka ada patroli dari PT. KAI," kata Islah, Minggu 10 April 2022.
Namun lanjut Islah, yang paling mengerikan lagi saat kereta datang, justru anak-anak semakin mendekati rel dengan jarak yang sangat membahayakan. Ternyata, mereka sebetulnya ingin melihat besi yang mereka pasang diatas rel terlindas, saat kereta api melintas.
"Sebelumnya mereka meletakan potongan besi diatas rel. Nah saat kereta melintas mereka ingin melihat besi tersebut dilindas. Jadi otomatis saat kereta datang mereka ramai ramai mendekat. Ini kan bahaya," jelasnya.
Baca Juga: Bupati Rudy Gunawan: Garut Siap Pasok Cabai ke Kota Besar untuk Lebaran
Tidak itu saja, mereka melakukan hal yang sama pada posisi arah kereta sebaliknya. Kembali besi yang sudah terlindas itu dipasang, dengan tujuan kembali dilindas kereta api. Hal itu dilakukan, sampai besi semakin tipis dan membentuk pisau kecil atau sejenisnya.
"Dilarang juga susah. Terus masa kami mengawasi mereka tiap hari, ya tidak mungkin. Tapi anehnya tidak ada rasa takut sama sekali, padahal kecepatan kereta yang melintas cukup kencang," paparnya.
Padahal sebelumnya, Manager Humas Daop 3 Cirebon, Suprapto, mengatakan, tidak dibenarkan ngabuburit atau beraktivitas di jalur rel kereta api. Hal itu karena sangat membahayakan nyawa. Pasalnya, selain telah melanggar aturan yang tertuang dalam UU 23/2007 tentang Perkeretaapian, aktivitas tersebut juga sangat membahayakan keselamatan.
Untuk itu, guna menjamin keamanan dan keselamatan perjalanan kereta api selama Ramadan tahun ini, PT KAI Daop 3 Cirebon menyiagakan 225 petugas keamanan yang terdiri dari Polisi Khusus Kereta Api (Polsuska) sebanyak 119 personel dan security 106 personel. (maman suharman)
Editor : inilahkoran


