Rektor Unsika Ade Maman Sukses Manfaatkan Kontainer menjadi Ruang Kelas Belajar

Nama Ade Maman Suherman tak hanya dikenal sebagai Rektor Unsika. Hal yang membuatnya terkenal karena kebijakannya menjadikan kontainer menjadi ruang belajar.

Rektor Unsika Ade Maman Sukses Manfaatkan Kontainer menjadi Ruang Kelas Belajar
Rektor Unsika Prof Dr Ade Maman Suherman. (istimewa)

INILAHKORAN.ID - Nama Ade Maman Suherman dikenal sebagai Rektor Universitas Singaperbangsa Karawang (Unsika). Namun yang membuatnya banyak dikenal orang karena kebijakannya menjadikan kontainer menjadi ruang kelas belajar. 

Semula sempat menimbulkan pro dan kontra, namun seiring waktu dia bisa membuktikan kontainer yang diberdayakan menjadi ruang kelas belajar para mahasiswa ternyata nyaman dan efektif sebagai tempat  belajar mengajar. Selain nyaman, biayanya bisa lebih ringan dibandingkan kelas belajar lainnya.

Ade menuturkan, ide pembangunan ruang kelas dengan memberdayakan kontainer bermula dari kebutuhan kampus yang kekurangan ruang kelas belajar mengajar mahasiswanya. Selain itu masalah anggaran juga menjadi soal utama karena keterbatasan uang. 

Lantaran masalah ruang belajar sangat penting maka universitas memandang perlu segera membangun ruang kelas. Akhirnya, muncul masukan agar membuat ruang kelas dengan memberdayakan kontainer. Usai dilakukan kajian dan penelitian akhirnya kampus Unsika memutuskan membangun ruang kelas dengan memberdayakan kontainer menjadi ruang kelas 

"Kami berfikir cukup lama untuk memituskan itu. Namun kebutuhan ruang kelas juga penting. Setelah kami melakukan kajian dan penelitian akhirnya kami putuskan segera membangun ruang kelas dengan kontainer atau kami menyebutnya kelas kabin," kata Ade, Minggu (12/7/2026).

Menurutnya, proses pembangunan ruang kelas sempat terjadi pro dan kontra dikalangan masyarakat Karawang. Namun dia meyakinkan jika kelas kabin dari kontainer layak menjadi kelas belajar. Semua fasilitas belajar tersedia di ruang kelas itu sehingga mahasiswa nyaman belajar. 

"Setelah jadi dan digunakan mahasiswa untuk belajar ternyata memang nyaman untuk belajar," katanya.

Kebijakan Ade membuatnya dikenal sebagai tokoh pendidikan  yang berhasil mengatasi masalah kekurangan kelas yang terjadi di banyak perguruan tinggi negeri di setiap daerah kabupaten. Bahkan, beberapa universitas negeri di kabupaten lain melakukan studi banding ke Unsika untuk kemungkinan meniru model yang dilakukan Unsika.

Ade lahir 11 Juli 1967 di Desa Jagara, Kecamatan Darma, Kabupaten Kuningan, Jawa Barat. Sebagai anak desa masa kecilnya banyak dihabiskan di persawahan. Setiap hari dia berangkat sekolah melewati pematang sawah. Usai sekolah dia menghabiskan waktu dengan bermain di Waduk Darma yang aekarang menjadi tempat wisata terkenal di Kuningan. 

"Sekarang Waduk Darma sudah ramai karena menjadi tempat wisata. Setiap hari libur pasti macet di daerah Darma," katanya.

Dia merupakan anak ke empat dari 11 orang bersaudara. Dia tumbuh dari keluarga sederhana dan ayahnya berprofesi sebagai seorang guru sekolah dasar (SD). Meski hidupnya sederhana namun semangatnya untuk terus belajar tetap semangat. Apalagi orang tuanya terutama ibu selalu menanamkan pentingnya ilmu pengetahuan kepada anak-anaknya. 

"Ibu selalu bilang harta kita adalah ilmu. Ilmu akan membawamu kemana saja. Itu yang selalu saya ingat sampai sekarang," katanya. 


Editor : Doni Ramdhani