Relokasi SDN Pambudi Dharma, Solusi Dampak TPST Sentiong atau Masalah Baru?

Relokasi SDN Pambudi Dharma lantaran adanya aktivitas TPST Sentiong akan menjadi solusi atau permasalahan baru

Relokasi SDN Pambudi Dharma, Solusi Dampak TPST Sentiong atau Masalah Baru?
Kondisi SDN Pambudi Dharma di Cimahi yang terkena relokasi lantaran adanya aktivitas TPST Sentiong

INILAHKORAN.ID – Aktivitas Tempat Pengolahan Sampah Terpadu (TPST) Sentiong di Kelurahan Cipageran, Kecamatan Cimahi Utara yang beroperasi di dekat lingkungan pendidikan akhirnya membuahkan keputusan resmi Pemerintah Kota Cimahi untuk memindahkan lokasi SD Negeri Pambudi Dharma.

Kebijakan itu diambil setelah beragam dampak negatif, mulai dari bau tak sedap hingga getaran mesin, terbukti terus mengganggu kenyamanan kegiatan belajar mengajar dan mengancam keamanan bangunan sekolah yang telah berdiri sejak 1989.

Keluhan datang dari pihak sekolah, siswa, hingga orang tua murid lantaran keberadaan fasilitas pengolahan sampah itu disebut bukan sekadar menimbulkan gangguan ringan, melainkan risiko nyata bagi kesehatan dan keselamatan seluruh warga sekolah. 

Bau menyengat tercium hampir setiap hari, bahkan semakin tajam saat curah hujan tinggi atau tumpukan sampah menumpuk, sementara getaran mesin pengolah sampah terasa hingga membuat kaca ruangan bergetar dan memicu retakan di bangunan utama hingga mushola sekolah.

Kepala SDN Pambudi Dharma, Adi Sofyadi Sulaeman mengaku khawatir terhadap dampak jangka panjang yang mungkin muncul. Meski belum ada laporan siswa jatuh sakit akibat dampak tersebut, ia menilai kondisi saat ini sudah melewati batas kewajaran. 

Gangguan tersebut, lanjut dia, bahkan dirasakan saat jam makan bergizi gratis digelar, di mana aroma sampah mengganggu kenyamanan siswa, sementara kerusakan struktur bangunan menjadi tanda bahaya yang tidak bisa lagi diabaikan.

“Kami khawatir jika kondisi ini dibiarkan, risiko kesehatan dan keselamatan akan semakin besar. Kami juga melihat retakan mulai muncul di berbagai bagian bangunan, akibat getaran mesin yang terasa sampai ke dalam ruangan,” kata Adi, Rabu (20/5/2026).

Adi menyebut, pihaknya telah berkomunikasi intensif dengan Dinas Pendidikan (Disdik) Kota Cimahi. Berdasarkan informasi terbaru, tahap perencanaan dan penyusunan dokumen teknis Detail Engineering Design (DED) sedang berjalan, dengan target pembangunan lokasi baru dimulai Juni mendatang. 

Kendati sebagian orang tua sempat mengkhawatirkan akses yang lebih jauh, mayoritas menyepakati relokasi sebagai langkah terbaik demi keselamatan anak-anak.

“Sekolah ini punya sejarah panjang di sini, tapi kesehatan anak-anak adalah prioritas utama. Kami berharap pembangunan segera dimulai agar kami bisa belajar dengan tenang kembali,” bebernya.

Sementara itu, siswa kelas VI, Fahri mengaku dirinya dan teman-temannya sangat terganggu, terutama saat pelajaran berlangsung atau setelah berolahraga di luar ruangan. 

Bahkan, ada siswa yang terpaksa pulang lebih awal karena pusing mencium bau sampah yang menyengat. Ia sendiri berpendapat, seharusnya operasional TPST Sentiong yang dievaluasi atau dihentikan, bukan sekolah yang harus pindah tempat.

“Saya tidak setuju kalau sekolah dipindah. Lokasi sekarang sudah dekat rumah warga, nanti kalau pindah ke Lebak Saat jalannya jadi lebih jauh. Lebih baik TPST-nya saja yang ditutup atau dipindah tempatnya,” ujar Fahri.

Sebelumnya, Wali Kota Cimahi, Ngatiyana memastikan relokasi menjadi solusi jangka panjang yang telah dipilih pemerintah. Lokasi baru bakal dibangun di wilayah Lebak Saat, Cimenteng, berdekatan dengan Puskesmas Pembantu, agar sepenuhnya terpisah dari aktivitas pengolahan sampah. 

Ia menyebut, pembangunan ditargetkan selesai tahun ini, dengan skema transisi yang disiapkan agar proses pendidikan tetap berjalan lancar tanpa hambatan.

“Kami pastikan nanti di lokasi baru tidak ada lagi gangguan bau maupun getaran. Seluruh aspek keamanan dan kenyamanan akan kami penuhi agar siswa dan guru bisa beraktivitas dengan tenang,” kata Ngatiyana.

Captions: Imbas operasional TPST Sentiong. SDN Pambudi Dharma bakal dipindahkan ke wilayah Cimenteng.


Editor : Ahmad Sayuti