Remaja Asal NTT Nekat Seberangi Pulau hingga ke KBB Demi Bisa Terus Sekolah dan Gapai Cita-cita
Kisah remaja asal NTT nekat seberangi pulau hingga ke KBB itu dijalani santri asal Pulau Messah, Nusa Tenggara Timur (NTT) untuk menuntut ilmu di Pondok Pesantren (Ponpes) Al Furqon yang berlokasi di Jalan Kolonel Masturi, Kampung Panyandaan RT 02/RW 14, Desa Jambudipa, Kecamatan Cisarua Kabupaten Bandung Barat (KBB).
Berita Terkini, Eksklusif di Channel WhatsApp Inilahkoran.id
INILAHKORAN, Ngamprah - Ini kisah Muhammad Rijik (19), remaja asal NTT nekat seberangi pulau hingga ke KBB agar bisa tetap sekolah.
Kisah remaja asal NTT nekat seberangi pulau hingga ke KBB itu dijalani santri asal Pulau Messah, Nusa Tenggara Timur (NTT) untuk menuntut ilmu di Pondok Pesantren (Ponpes) Al Furqon yang berlokasi di Jalan Kolonel Masturi, Kampung Panyandaan RT 02/RW 14, Desa Jambudipa, Kecamatan Cisarua Kabupaten Bandung Barat (KBB).
Rijik merupakan remaja asal NTT nekat seberangi pulau hingga ke KBB. Dia berasal dari Pulau Messah, Desa Pasir Putih merupakan salah satu pulau kecil yang berada di Labuan Bajo, NTT.
Di pulau ini terdapat 484 kepala keluarga dengan 1.969 jiwa yang tinggal di pulau ini dan mayoritas penduduk berprofesi sebagai nelayan.
Keterbatasan jenjang pendidikan menjadi salah satu faktor yang mendorong Rijik untuk merantau dan menuntut ilmu ke Pulau Jawa, tepatnya di Jawa Barat.
Selepas lulus dari jenjang SD, Rijik nekat merantau ke Jawa Barat, tepatnya di Pondok Pesantren Liitahfizhil Qur'an An Nur, Kota Bogor untuk melanjutkan pendidikannya di jenjang SMP, sekaligus menuntut ilmu agama.
"Setelah lulus SD saya waktu itu langsung ke Bogor untuk melanjutkan pendidikan SMP," kara Rijik saat ditemui di Kolam Jaring Apung (KJA), Kampung Lemah Duhur, Desa Girimukti, Kecamatan Saguling, Kabupaten Bandung Barat (KBB), Minggu 3 Juni 2023.
Rijik mengaku, keinginannya untuk menuntut ilmu di Jawa Barat datang dari dirinya sendiri tanpa adanya paksaan dari siapapun.
"Keinginan diri sendiri, karena kalau di NTT susah untuk melanjutkan ke SMA. Bahkan, pesantren juga jarang," ujarnya.
Kali pertama menginjakan kakinya di Pulau Jawa, sambung dia, dirinya sempat kesulitan untuk beradaptasi dengan baik lingkungan sosial maupun budayanya.
"Tapi, seiiring dengan berjalannya waktu saya pun mulai bisa menyesuaikan diri," ungkapnya.
"Sempat kaget juga dengan kehidupan sosial dan budaya di sini," imbuhnya.
Setelah menyelesaikan pendidikannya di SMP, sebut Rijik, dirinya pun kembali melanjutkan pendidikan jenjang SMA nya di Bandung, tepatnya di Ponpes Al Furqon di Desa Jambudipa, Kecamatan Cisarua, KBB.
"Selain belajar pelajaran umum, di pesantren dirinya menimba ilmu agama, seperti Quran dan Hadist," ucapnya.
Rijik menuturkan, tujuan dirinya merantau ke Bandung tidak hanya untuk belajar, namun juga ingin mewujudkan cita-citanya menjadi seorang pengusaha sukses.
"Saya ingin berkontribusi untuk kampung halaman karena kondisi ekonomi di sana cukup berat, mengingat rata-rata mata pencaharian masyarakat di sana sebagai nelayan," terangnya.
Menurutnya, salah satu yang kini tengah dirinya fokuskan, yakni belajar untuk bisnis dengan mengembangkan usaha budidaya ikan di Kolam Jaring Apung (KJA) di Saguling.
"Karena saya berangkat dari keluarga biasa, saya ingin belajar bisnis dengan mengelola kolam jaring apung milik pondok sebanyak 12 kolam," tuturnya.
Rijik menyebut, secara keseluruhan dari 12 kolam ada sekitar 1 ton ikan yang dirinya bersama rekan satu kobongnya di pesantren.
"Melihat potensi bisnis budidaya ikan KJA ini saya sangat berminat untuk bisa mengembangkannya kelak," ujarnya.
Sementara itu, Pembimbing Santri, Muslimin menambahkan, Rijik merupakan salah satu santri yang rajin dan tak pernah menolak ketika dimintai bantuan.
"Keberadaannya di KJA Saguling ini merupakan bentuk pengabdiannya agar kelak tidak hanya teori saja yang didapat melainkan praktiknya," kata Muslim.
Selain itu, bagi orang dari seberang Pulau Jawa ini memang sudah menjadi tradisi untuk keluar dan berusaha untuk sukses di daerah lain.
"Ini sudah jadi tradisi bagi kami, khususnya warga dari luar pulau Jawa," ungkapnya yang juga warga Nusa Tenggara Barat (NTB).
Kemudian, minimnya industri pekerjaan baik di NTT maupun NTB membuat masyarakat harus bisa bangkit dari keterpurukan.
"Karena di daerah timur masih minim industri, jadi banyak para pemuda yang memilih cari kerja di luar pulau, khususnya di Jakarta dan di Jabar," tandasnya.*** (agus satia negara)
Editor : Doni Ramdhani


