Remaja di Purwakarta Buktikan Bertani Lebih Menguntungkan

Sektor pertanian sebenarnya memiliki prospek yang sangat menjanjikan bila dikelola dengan baik. Namun sayang, sampai saat ini sebagian besar masyarakat masih beranggapan jika bertani tidak cukup menguntungkan secara ekonomi.

Remaja di Purwakarta Buktikan Bertani Lebih Menguntungkan
net

INILAH, Purwakarta – Sektor pertanian sebenarnya memiliki prospek yang sangat menjanjikan bila dikelola dengan baik. Namun sayang, sampai saat ini sebagian besar masyarakat masih beranggapan jika bertani tidak cukup menguntungkan secara ekonomi.

Anggapan tersebut ternyata tak berlaku bagi pemuda di Kecamatan Wanayasa, Kiarapedes dan sekitarnya. Warga di Selatan Kabupaten Purwakarta itu, justru telah membuktikan bertani bisa lebih menguntungkan ketimbang menjadi buruh atau pekerja di pabrik. Bisa dikatakan, saat ini gerakan pemuda bertani telah menggeliat di wilayah itu.

Ananda Dwi Septian (24), petani muda asal wilayah tersebut telah merasakan hasilnya. Remaja yang akrab disapa Boti itu, mengaku dalam jangka waktu tiga tahun terakhir dirinya bisa menghasilkan keuntungan minimal Rp7 juta per bulan.

“Dulu pernah bekerja di pabrik. Saat itu, penghasilan saya di bawah Rp4 juta. Memang, saya bisa memenuhi kebutuhan hidup sehari-hari keluarga tapi tidak bisa menabung,” ujar Boti kepada wartawan, Kamis (26/12/2019).

Saat bekerja di pabrik, dirinya merasa pekerjaannya itu tidak bisa membuatnya berkembang. Pemuda berbadan gempal itu pun akhirnya mengundurkan diri setelah bekerja selama sekitar satu setengah tahun lamanya.

Setelah berhenti, impiannya ingin mendapatkan pekerjaan yang lebih baik. Dia justru tidak kunjung bekerja selama dua tahun setelah itu. Untuk memenuhi kebutuhan hidup sehari-hari, dia terpaksa membuka usaha isi ulang pulsa.

Kemudian,dia pun mulai terdorong untuk bertani setelah bergaul dengan Himpunan Pemuda Tani Purwakarta (Hidata). Beruntung, dirinya memiliki tabungan dari hasil usaha menjual pulsa sekitar Rp3,5 juta. Berbekal simpanan tersebut, dia gunakan sebagai modal bertani.

Langkah menjadi petani pun tidak semulus yang dibayangkan dirinya. Boti mengaku, awalnya tidak direstui orang tuanya yang bukan berasal dari keluarga petani. Mereka menganggap penghasilan petani relatif rendah. Namun, dirinya bertekad bulat akan memanfaatkan lahan seluas 5.000 meter persegi milik orang tuanya itu untuk dijadikan ladang penghasilan.

“Dulu tidak direstui. Sekarang, justru keluarga saya yang lain jadi ikut bertani seperti saya bahkan mereka belajar dari saya,” katanya merasa bangga.

Boti memilih bertani berbagai jenis sayuran seperti mentimun, cabai, hingga kacang panjang. Hasil produksinya sudah bisa masuk ke pasar-pasar modern di dalam dan luar daerahnya. Sisanya, dibeli tengkulak.

“Produk saya belum bisa masuk standar ke super market. Soalnya baru kelas B, yang diterima ke pasar modern itu harus kelas A,” tambah dia.

Dia mengharapkan, langkahnya bisa turut memotivasi para pemuda lain untuk bertani. Dengan banyaknya petani, Boti tidak merasa tersaingi. Namun, justru semakin memajukan sektor pertanian dan menggerakkan perekonomian daerah.

“Alhamdulillah, sekarang sudah ada 20 anggota. Tak hanya pemuda berusia 30 tahun ke bawah tapi banyak juga petani orang tua yang mau gabung,” tambah dia. (Asep Mulyana)


Editor : Doni Ramdhani